
"hellleeehh... kamu itu ya, bener-bener pinter banget ngelesnya. Sudah nak, kita pergi saja dari sini. Mami males sama perempuan tak tau diri ini" kata bu Kartika pada anaknya.
"tunggu dulu Kartika, apa barusan kamu bilang? perempuan tak tau diri? jangan seenaknya saja menghina anak saya ya" timpal bu Tari yang mulai kesal melihat perlakuan tamunya itu padaku.
"iya.. apa lagi namanya kalau bukan perempuan tak tau diri ini, udah miskin, bisanya cuma numpang dan mengganggu kehidupan orang lain saja" jawab bu Kartika.
"jaga omongan anda Kartika... jangan sekali kali kamu menghina putri saya" tambah bu tari.
"apa? anak kamu? Mentari... mentari... anak kamu itu sudah mati. Dan sekarang kamu bilang kalau ini anak kamu?"
Mendengar keributan di antara kami, pak Zein dan pak Tama yang tadinya sedang berbincang - bincang di ruang tamu segera menuju ruang tengah dimana kami tengah berkumpul disana.
"ada apa ini ma, kenapa kalian jadi ribut begini?" tanya pak Zein pada istrinya.
"Dan kamu kenapa nak? kaki kamu kenapa luka begini?" tambah pria paruh baya itu pada Shinta.
"ini pi.. anak tak tau diri ini sudah berusaha mencelakai anak kita. Lihat kaki Shinta jadi lecet begini" jawab bu Kartika.
__ADS_1
"kartika tolong dijaga omongan anda, anak saya tidak bersalah" timpal bu Tari mencoba membelaku.
"kenapa kamu jadi membela anak ini? anak ini bukan anak baik-baik, tampangnya aja yang polos begini. Kelakuannya duuuhhh... saya peringatkan sekali lagi, sebaiknya kalian usir saja anak ini dari sini, sebelum kalian jadi korban selanjutnya" kata bu Kartika yang berusaha membuat nama baikku jadi tercemar di keluarga yang selama ini sudah berkenan memberikan aku tempat tinggal selama mengikuti perkuliahan di Jakarta.
"Maaf Kartika dan Shinta.. sebaiknya kalian pergi dari sini.. saya tidak ingin lagi menerima tamu seperti kalian" kata bu Tari sambil menunjuk ke arah pintu.
"maaf Pratama, acara kunjungan kali ini berakhir seperti ini. Dan Mentari maafkan kelakuan istri dan anak saya" ujar pak Zein yang merasa tidak enak hati melihat perbuatan istri dan anaknya itu.
Tak berapa lama kemudian keluarga itu pamit pergi dari apartement. Sementara aku segera mengunci diri dalam kamar. Pikiranku saat ini benar - benar kacau. 'ya Tuhan.. cobaan apa lagi yang engkau berikan padaku?' gumamku dalam hati.
"Shella... buka pintunya nak..." seru bu Tari dari depan pintu kamarku. Berulang kali ia memanggilku dan memintaku untuk segera membuka pintu kamar. Akan tetapi kabut hitam seolah olah terasa menyelimutiku, pikiran negatif pun mulai bermunculan dipikiranku, seketika air mata pun jatuh.
Biasanya disaat - saat seperti ini yang aku butuhkan hanya sosok ibu, ibu yang selama ini telah merawat dan membesarkanku.
"Shella... tolong buka pintunya nak.. kamu tak kenapa-kenapa kan nak..." kata bu Tari yang merasa cemas dengan keadaanku.
"Shella.. buka pintunya nak..." tambah pak Tama.
__ADS_1
Kemudian aku bangkit dari tempat dudukku lalu membuka pintu.
"Shella.. kamu kenapa menangis? jangan kamu hiraukan perkataan kartika dan anaknya barusan" kata bu Tari yang langsung memelukku erat.
"memang benar yang dikatakan mereka bu, aku ini bukanlah wanita baik-baik, aku hanya jadi pengacau dalam kehidupan orang disekitarku" tuturku pelan.
.
.
.
.
Hay readers, jangan lupa klik tombol like dan dukung terus novel ini ya
Gratis kok.. nggak pake bayarš
__ADS_1