Suara Air Mata

Suara Air Mata
Hasil Test


__ADS_3

"hmmm... Hendrick, sepertinya kalian memang sudah ditakdirkan" kata kak Vera kembali mengubah posisi duduknya.


"Shella, sebenarnya saya tidak percaya dengan kabar yang beredar saat ini. Tapi saya hanya ingin mencari tau siapa dalang dibalik semua ini. Saya tidak ingin nama baik jurusan kita jadi tercemar"


"Kak vera percayalah, kalau foto itu hanya editan kak" ujarku kembali meyakinkan seniorku itu.


"saya percaya, orang seperti kamu tidak akan berbohong. dan sebelum mencari tahu kamu pun saya sudah yakin kalau foto itu hanya editan. Walaupun sebenarnya hati saya hancur melihat hubungan antara kamu dengan Hendrick, tapi sebaliknya memalui kamu, saya jadi mengerti kalau cinta itu tak harus memiliki" ujar kak vera sambil mengusap air matanya. Akupun kaget melihat hal tersebut, ternyata dibalik sikapnya yang tegas, perempuan dihadpanku itu ternyata mudah juga meneteskan air mata karena orang yang ia cintai.


" Maafkan Shella kak" ujarku dengan perasaan bersalah.


"kamu tidak perlu minta maaf, sebelum kasus ini sampai ke rektorat, sebaiknya kita cari siapa dalang dari masalah ini. Dan kita juga harus mencari bukti bahwa foto ini cuma editan, karena sekilas memang foto ini terlihat nyata, tapi sebaiknya kita selesaikan kasus ini secepatnya"


"Baik kak, tapi caranya gimana kak?" tanyaku.


"tenang saja, saya sudah menyiapkan rencananya"


Setelah beberapa lama kami berdiskusi, akhirnya Kak vera memintaku untuk segera pergi dari kampus.


* Apartement Luxury

__ADS_1


"Silahkan diminum teh nya Tuan, nyonya" kata bi Siska sambil menyuguhkan minuman ke atas meja dimana bu Tari dan pak Tama tengah duduk berbincang.


"Terima kasih bi, oh iya bi.. persediaan bahan makanan kita masih ada kan bi?" tanya bu Tari.


"masih bu" jawab bu Tari.


"Kira-kira persiapan makanan untuk Enam atau delapan orang masih cukup nggak bi?" Tambah bu Tari lagi.


"sepertinya tidak nyonya, memangnya nyonya mau ngadain acara apa nya?"


"besok teman saya beserta keluarganya mau berkunjung kesini, rencana kami mau makan malam bersama disini"


"kalau begitu bagaimana kalau kita ngadain pesta baberque di halaman belakang aja nya" usul bi Siska.


"Mmmm... nyonya.. maaf bibi mau nanya"


"iya bi, bibi mau nanya apa?"


"mmm.. anu nya... non Shella kemana ya nya? kok nggak pernah kelihatan lagi?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan dari asisten rumah tangganya itu, bu Tari mendadak jadi bersedih hati.


"mmm.. maaf nyonya, saya.. saya..."


"tidak apa-apa kok bi, Shella saat ini sedang menginap di kost temannya mau bikin tugas" kata bu Tari.


"Ma...yang sabar ya ma, Shella pasti kembali kok sama kita" kata Pak tama.


"maaf tuan, nyonya.. saya permisi dulu" Ujar bi Siska hendak kembali ke belakang.


Pasangan itu memang sudah yakin sekali kalau Shella itu adalah anak kandung mereka yang hilang beberapa tahun yang lalu. Kemudian pak Tama bangkit dari tempat duduknya lalu melangkah menuju kamar.


"Papa mau kemana? tumben jam segini udah mau tidur" tanya bu Tari heran.


"sebentar, papa punya kejutan untuk mama" seru pak Tama dari dalam kamar, kemudian beliau membawa seberkas surat dalam amplop warna coklat. Lalu ia memberikannya pada bu Tari.


"Apa ini pa?" tanya bu Tari heran.


"mama buka aja" ujar Pak Tama tersenyum lalu menyeruput minumannya.

__ADS_1


Dengan rasa penasaran Bu Tari membuka dan membaca isi surat di amplop tersebut. Setelah ia buka, betapa terkejutnya beliau. Ternyata itu adalah hasil Test DNA Shella. Dalam surat tersebut telah dijelaskan bahwa DNA Shella yang di ambil dari rambut, ternyata cocok dengan DNA rambutnya pak Tama dan bu Tari.


"Alhmdulillah ya Allah, papa.... ternyata anak kita masih hidup dan Shella memang benar-benar anak kandung kita, Namira masih hidup pa..." seru bu Tari kegirangan melihat hasil test tersebut. Kemudian suami istri tersebut saling berpelukan.


__ADS_2