
DEG !!
seketika aku kaget melihat Ardian.
"Kak, kenalin ini kakaknya Thalia namanya Ardian" ucap gadis berlesung pipi itu padaku.
"Udah kenal kok... ya kan Shella" timpal Ardian memberikan sebuah senyuman manis padaku.
"e ehm.. iya Thalia, kakak sudah kenal dengan Ardian. Dia kan satu sekolah dengan kakak..."
"satu sekolah?" kata Thalia sambil mengerinyitkan dahinya tanda heran.
"sudah, belajar dulu gih sana anak kecil" seru Ardian mengusap kepala adiknya itu.
"iiihhh kak Ardian apaan sih, thalia kan belum selesai ngomong, bukannya...."
__ADS_1
"udah dulu ya, kakak mau pergi ke rumah temen.... bye adikku yang nakal... bye bu guru Shella Putri Amanda"
"kak Ardiaaaaannn" teriak Thalia mengiringi langkah laki-laki itu. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku kedua kakak beradik itu. 'seandainya Ayu masih tinggal bersamaku'...
Hari demi hari berlalu, tak terasa sudah hampir satu bulan aku mengajar les privat Thalia. Selama itu hubungan aku dan keluarga Mami Cathlin semakin dekat. Thalia yang sering mendapat masalah disekolah, sekarang sudah mulai mendapat peringkat terbaik dikelasnya. Mami Cathlin sering kali mengajakku belanja bersama, bahkan beliau sudah menganggapku seperti anak sendiri. Sementara Ardian, sekarang sudah terasa seperti sahabatku. tak jarang kami melakukan hal menyenangkan bersama, mulai dari pergi ke perpustakaan, toko buku hingga mengantar jemput aku ketika ada les privat di rumahnya. Kecuali kak Hendrick, sejak awal sikapnya selalu terkesan jutek dan tidak ada ramah sedikitpun denganku. Beda dari saudara ia uang lainnya.
"Shel, besok katanya di sekolah ada acara pentas seni ya.. kamu tidak ada rencana untuk ikut mengisi acara disana?" ujar Ardian padaku yang siang itu tengah sibuk memilih beberapa buku di Gramedia yang tidak jauh dari rumah keluarga Ardian.
"kamu tau dari mana ian? kok aku sampai bisa ketinggalan info ya?" kata ku.
"hei.. kembalikan buku itu... Ardian" teriakku hendak mengejarnya.
"maaf kak, bukunya harus dibayar dulu" cegah karyawan toko menghentikan langkahku.
"Berapa harga buku yang dibawa teman saya tadi kak?" tanyaku pada kasir toko itu.
__ADS_1
"harganya 170ribu kak" ujar si kasir padaku
"Apa 170ribu? nggak salah tu kak?" aku pun terkejut mendengar total harga buku tersebut .
"maaf kak, itu buku terbitan dari penulia terkenal, harganya pun sudah segitu dari pusat, jadi kakak harus membayarnya"
'sial... Awas ya kamu Ardian' gerutuku kesal dengan tingkah Ardian. Kemudian aku mengeluarkan dua lembar uang senilai seratus ribu yang kemari aku terima dari Mami Cathlin sebagai bonus karena telah berhasil mengajar Thalia hingga ia dapat peringakat dikelasnya. Lalu si petugas kasir mengembalikan uang senilai 30ribu padaku.
'awas ya kamu Ardian, kalau ketemu tidak akan ku maafkan' gerutu ku yang masih geram dengan tingkahnya.
Dengan perasaan yang masih kesal sengaja ku langkahkan kaki menelusuri trotoar di pinggir jalan menuju jalan ke rumahku. Baru beberapa langkah, lewatlah sebuah mobil honda jazz putih di sampingku.
"Hai orang miskin... panas panas gini kok jalan kaki?" ujar si pengemudi mobil yang tak lain ialah Shinta yang menghentikan mobilnya di dekatku.
'haduuuuuhhh... ini mak lampir datang lagi.... ya Tuhan kenapa hari ini hidupku jadi sial begini sih?' gumamku dalam hati.
__ADS_1
"kok diem aja sih? oh iya gue lupa.. orang miskin kan emang udah biasa begitu ya..." tambah perempuan itu membuang sebuah botol minuman kosong di depanku, kemudian ia pergi begitu saja.