
" Shella ini buku kamu " kata Ardian meletakkan buku tersebut d atas meja dihadapanku.
"Tidak usah, ambil saja buku ini untuk kamu" ujarku dengan nada agak ketus, karena masih kesal aku segera beranjak pergi dari rumah itu.
"Shel... Shella... tunggu dulu.. kamu masih marah sama aku? Shella... ah sialll" seru Ardian berusaha menghentikan langkahku.
Air mata tak dapat lagi ku bendung, aku pun mempercepat langkahku. Tiba-tiba berhentilah sebuah mobil fortuner putih tepat di depan ku.
"Kalau jalan itu liat-liat" teriak si pengemudi yang tak lain adalah kak Hendrick. Tanpa berkata sepatah kata pun, aku melewati dan mengabaikan kak Hendrick.
Butiran air mata terus mengalir di pipiku, mengingat kejadian kemarin di toko buku hingga hinaan dari Shinta, entah apa salahku hingga mereka tega membuatku seperti ini.
Ardian yang ku pikir baik, ternyata sama saja dengan Shinta.
Beberapa menit kemudian, aku pun berhenti di sebuah halte dan istirahat sejenak karena berjalan tak tentu arah yang membuat kakiku terasa pegal. Aku mengambil sebuah botol air mineral dari dalam tasku. 'jauhkan lah aku dari orang-orang seperti itu Tuhan' gumam dalam hati. Disaat yang bersamaan berhentilah sebuah motor ninja biru dihadapanku.
"sial... ini lagi yang lebih menjengkelkan" gerutu ku kesal,karena yang datang ialah kak Hendrick.
"ayo naik" seru Hendrick.
__ADS_1
"hah.. aku?" ujarku heran.
"sudah.. jangan banyak tanya iya kamu lah, masa tiang listrik.. cepetan naik" tambah laki-laki itu.
"maaf kak Hendrick, saya jalan dulu" kata ku bangkit dari duduk lalu...
"awwww sakit..." tiba-tiba kakiku terasa sakit.
"kan... udah dibilangin malah ngeyel.. cepetan sini naik"
"maaf kak, ini cuma sakit biasa.. aku pergi dulu ya" dengan keadaan kaki yang makin terasa sakit, aku berusaha mempercepat langkahku menjauh dari kak Hendrick. Akan tetapi laki-laki itu tetap saja mengikutiku dari belakang.
"hei.. wanita keras kepala.. naik sini.. kalau tidak..."
Hendrick pun menarik tanganku dan memaksa aku naik ke atas motornya.
"sudah diam saja, biar aku yang mengantar kamu pulang" kata Hendrick melajukan motornya menuju rumahku.
'kak hendrick, keliatannya cuek judes tapi perhatian juga... beda dengan Ardian' gumamku dalam hati.
__ADS_1
Tiga puluh menit kemudian sampailah kami di rumahku. Dengan langkah yang masih terseok-seok kak Henrick membantuku masuk ke dalam rumah.
"kamu istirahat saja disini, dimana air hangatnya?" ujar Hendrick panik karena melihat kakiku lebam karena keseleo di jalan tadi.
"ada di dapur kak, di termos air warna pink di atas meja"
Hendrick pun segera mengambil air hangat lalu mengompres kakiku.
"kamu ini... sudah tau jarak dari rumah kesini jauh, malah nekad jalan kaki" ujar Hendrick sambil terus mengusap kakiku yang cedera. Aku hanya terdiam melihat sifat kak Hendrick hari ini.
KRAKK ...
terdengar suara seperti seseorang menginjak ranting kayu dari arah samping rumahku. Kak hendrick yang kaget dengan cepat berlari ke arah suara tersebut. Akan tetapi ia tidak melihat seorangpun disana.
"mungkin itu suara kucing atau binantang yang lewat... " seruku pada Hendrick.
"mungkin..." ujar Hendrick pelan.
"oh iya kak, kak hendrick mau minum/makan apa? biar aku buatkan" tawarku.
__ADS_1
"tidak usah, aku pergi dulu... selera makanku mendadak jadi hilang kalau disini" kata Hendrick segera menuju motornya, lalu meninggalkan aku tanpa sepatah katapun.
'manusia aneh.... ' gumamku sambil memijit kaki yang masih terasa nyeri.