Suara Air Mata

Suara Air Mata
Le Quartier Restaurant


__ADS_3

Malam ini keluarga besar Tama dan Anton membuat acara makan malam bersama di salah satu restoran mewah yang ada di Jakarta, tak lupa aku juga mengajak Karina untuk ikut bersama kami.


Sejak kejadian beberapa hari yang lalu, hidupku saat ini perlahan-lahan mulai berubah. Sepertinya inilah Hadiah dari Suara Air Mata yang selama ini menetes saat aku memperjuangkan hidupku. Akhirnya aku bisa hidup tenang bersama kedua orang tua kandungku, dan juga orang yang aku sayangi.


Restoran Le Quarier Senopati, Kebayoran Baru memang gudangnya tempat makanan mewah, selain Namaaz Dining. Le Quartier juga merupakan salah satu restoran mewah populer yang ada di kawasan elit tersebut. Le Quartier adalah restoran ala eropa yang menyajikan makanan khas perancis.


Interior dari restauran ini sendiri pun kental dengan suasana Eropanya, dengan furniture kayu yang disusun secara cantik, lampu gantung chandilier mini yang bergantu di setiap meja. Hingga suasananya yang sedikit temaram membuat makan malam di restauran ini seperti layaknya makan malam di Perancis.


Jujur saya, gaya hidup mewah seperti ini masih terasa canggung bagiku. Bagiku hidup sederhana lebih berkah dari pada hidup mewah.


"Ayo dimakan makanannya nak, atau sini mama suapin" ujar mama padaku.


"tidak usah ma, Shella suap sendiri saja" ujarku.


"sini biar mama suapin, sudah lama sekali mama pengen nyuapin anak mama yang udah gede ini" tambah mama sambil menyuapkan sepotong daging steak padaku.

__ADS_1


"mami... Lia juga pengen disuapin" rengek Thalia ada mami Cathlin.


"iya sini anak mama yang manja, nggak mau kalah ya sama kak shella" ujar mami Cathlin yang juga ikut menyuapi sepotong daging steak pada putri satu satunya itu.


Acara makan malam kali ini penuh kehangatan, kebahagiaan dan canda tawa.


"Shella... apa kamu tidak malu berteman denganku?" ujar Karina.


"malu kenapa Kar?" tanyaku heran.


"ya kali aja kamu malu, secara sekarang kan kamu udah jadi anak orang kaya. pemilik saham terbesar di perusahaan dan jauh berbeda dari aku"


"Thalia... jangan bilang kamu juga ingin dipeluk" goda Ardian pada adiknya itu.


"Iiiiissshhh kak Ardian apaan sih" gerutu Thalia kesal.

__ADS_1


"iya kan...." ledek Ardian yang tak henti-henti menggoda adiknya itu.


Seluruh anggota keluarga Tama dan Anton pun tertawa melihat tingkah gadis itu. 'Ayu... seandainya kita bertemu, pasti bahagia sekali.. tapi sejak kamu ikut dengan ibu kandungmu, kita tak pernah berkomunikasi lagi' gumamku yang teringat akan adikku.


"Shella.. kamu kok tiba-tiba jadi murung gitu nak?" tanya bu Tari yang rupanya tengah memperhatikan aku.


"Shella.. teringat sama Ayu ma.." jawabku pelan.


"Ayu itu siapa nak?" tanya papa.


"Ayu itu adiknya Shella sewaktu mereka dirawat oleh bu Siti, bu Tari" timpal kak Hendrick yang sedari tadi hanya diam dan tersenyum mendengar percakapan kami.


"Kak Hendrick tau dari mana?" tanyaku heran, karena selama ini aku sama sekali belum pernah menceritakan bagaimana masa laluku pada kak Hendrick.


"Kan aku sudah pernah bilang, aku itu sudah lama kenal dengan bu Siti" jawab kak Hendrick.

__ADS_1


"ciieeeee kaka Hendrick sampai segitunya penasaran sama kak Shella" ledek Thalia.


"Apaan sih kamu anak kecil" gerutu Hendrick.


__ADS_2