
Kemudian aku menceritakan kejadian yang aku alami selama ini, setelah ibu meninggal, isi surat peninggalan ibu termasuk siapa sebenarnya laki-laki yang ada di foto tersebut dan bagaimana perlakuan kak Hendrick padaku hingga dia memberi sebuah ponsel.
"yang tabah ya Shella, kami yakin kamu itu wanita yang kuat. ingat, kami selalu ada untukmu.." ujar Eren.
"terima kasih Cici, Eren.. kalian memang sahabat yang terbaik" ujarku. Akhirnya kami pun berpelukan, hingga suasana haru kini berganti menjadi canda tawa.
"oh iya Shel, kalau di pikir-pikir kenapa Kak Hendrick jadi perhatian gitu ya sama kamu? jangan jangan....." ujar Eren melirik ke arah Cici.
"cieeeeeeeee.... Shella ... " ledek Cici.
"jangan jangan kenapa Ren?" tanyaku dengan polosnya.
"jangan-jangan kak Hendrick suka sama kamu... " goda Eren.
"mana mungkin, dia itu mungkin.. dia itu orangnya rada sedikit arogan, ya.. barangkali mami Cathlin yang memintanya untuk memberikn ponsel ini padaku" jawabku seadanya.
"ah Shella.... kamu ini peka dikit napa.. jelas-jelas kak Hendrick itu suka sama kamu, masa kamu nggak paham sih gimana perlakuan dia ke kamu, tidak mungkin mami Cathlin yang meminta dia untuk memberikan ponsel ini untukmu, emangnya mami Cathlin tau berapa nomer ponselmu?" tanya Cici panjang lebar.
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala, memang aku tidak mengerti tentang cinta dan apa itu cinta.
__ADS_1
"nah itu.. udh jelas kak Hendrick itu suka sama kamu, sekarang coba kamu hubungi dia" pinta Cici.
"nomernya tidak aktif Ci, sudah beberapa kali aku coba menghubunginya tetap tidak bisa dihubungi" ujarku sambil melirik pada kedua sahabatku yang terlihat senyum-senyum padaku.
"jangan bilang yang aneh-aneh lagi" tegasku pada mereka. kami pun tertawa, memang sahabat selalu ada untukku dalam suka maupun duka. Tanpa mereka, mungkin hidupku terasa tak berwarna.
Setelah beberapa lama kami berbincang-bincang, tak terasa hari sudah menunjukkan pukul 19.30 WIB. seperti biasa Cici dan Eren ,jika ksini kurang afdol rasanya kalau tidak menginap dirumahku.
Malam itu kami membuat pesta kecil-kecilan, kebetulan Cici sengaja membawa beberapa bungkus spageti siap saji, sementara Eren membawa beberapa cemilan dan susu dalam kemasan. Dan tak lupa, kami menonton film drama korea favorit kami sejak dulu "The Secret Garden" dan "Master Sun" di Laptopnya Cici. Karena dirumahku tidak ada tv, jadi setiap kali berencana menginap dirumahku, Cici tidak lupa membawa laptop kesayangannya.
TUT.. TUuUUt..
suara ponselku bergetar, menandakan adanya pesan masuk.
"Shel, ponsel kamu berbunyi tuh" ujar Eren sambil mengunyah cemilan ditangannya.
Tut.. TuuutT..
tuT. TUUutt..
__ADS_1
lagi-lagi ponselku kembali bergetar, sengaja aku matikan nada ponsel tersebut, karena aku saat itu beranggapan tidak ada yang penting juga diponsel tersebut untuk dihubungi.
"Shela... ponsel kamu .." ujar Eren lagi.
"Biarkan saja Ren, paling cuma sms dari operator" kataku yang masih fokus menonton drama korea.
Tanpa kami sadari hari sudah menunjukkan pukul 4 subuh, kami pun tertidur di ruang depan.
*pukul 10.20WIB
Cuaca hari itu mulai terasa panas, aku pun bangun dari tidurku. ku lihat jam dinding, ternyata....
"Apa? 10.20... gawat... aku telat nih.. ya ampun... Ci, Ren bangun.. udah siang nih" ujarku yang kaget melihat angka pada jam tersebut. Aku bangkit dari tidurku, lalu segera meraih handuk yang tergantung di belakang pintu kamar. Kemudian aku pergi membersihkan diri dikamar mandi.
Dengan tergesa-gesa, aku mengganti bajuku dengan stelan kemeja coklat susu dan celana dasar hitam. kulihat ponsel yang terletak di lemari pajang ruang depan.
"Apa? 20 panggilan tak terjawab, 15 pesan masuk?" aku pun terkejut melihat angka yang tertulis diponsel itu. kulihat daftar panggilan ternyata itu dari kak Hendrick, lalu kubuka dan ku baca pesan masuk satu persatu.
"oh.. benar saja dari 15 pesan 8 diantaranya cuma pesan dari operator" gumamku, sambil terus melihat isi pesan selanjutnya dari Kak Hendrick.
__ADS_1