
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam, usai dari Segarra kami pulang. Kali ini kak Hendrick terlebih dahulu mengajak kami menuju ke sebuah penginapan yang letaknya tak jauh dari kos Elite.
Selama dalam perjalanan, rasanya aku tak bersemangat lagi seperti sebelumnya. Lantaran karena aku memikirkan perkataan dari Hendrick. Sementara itu Thalia dan yang lainnya terdengar begitu hebohnya.
"kak Shella... Thalia perhatiin dari tadi kenapa kakak begong aja?" tanya gadis manis tersebut sambil tersenyum padaku.
"tidak apa-apa Thalia, kakak cuma lagi kurang enak badan aja, mungkin karena masuk angin" jawabku.
"kalau begitu kita ke dokter aja ya kak, biar di obati.. mmmm Kak Hendrick kita ke dokter dulu ya, kak Shella katanya sakit kak" tambah Thalia.
"tidak usah Thalia, kakak baik-baik aja kok, cuma masuk angin dikit aja, paling bentar lagi juga sembuh" timpalku.
"Kita langsung ke dokter aja ya sayang" seru Hendrick tiba-tiba menghentikan laju mobilnya.
"nggak usah kak, Shella baik baik aja kok. Shella coba istirahat sebentar"
"kalau begitu kamu pakai ini" tambah laki-laki itu sambil memberikan sebuah sweater warna navy padaku.
"Hmm... mulai deh adegan korea" ledek David
"huss... kak David, jangan diganggu.. ketahuan banget jomblonya" timpal Adrian.
"kak Adrian, kak David.. diam napa? orang ada yang lagi sakit juga" tambah Thalia.
"sudah .. sudah... Kalian kenapa malah ribut sih? Shella kamu istirahat saja dulu. nanti kalau udah nyampe aku bangunin" ujar Karina.
__ADS_1
"terima kasih Karina" ucapku pelan.
Beberapa waktu kemudian, sampailah kami di kost Elite.
Ardian, David serta Thalia segera turun dari mobil lalu duduk di kursi yang sengaja ditaruh di teras kost tersebut.
Sementara itu aku, Karina dan Hendrick masih berada didalam mobil.
"Shella... ayo kita kesana" ujar Karina.
"Aku istirahat disini saja Karina" jawabku pelan.
"kenapa Shella? atau kita ke dokter saja" tambah sahabatku itu.
"mmm.. Karina, biar aku saja" kata Hendrick memberi isyarat pada Karina bahwa ia ingin bersama dengan Shella sebentar.
"Shella...hei.. sayang, kenapa tiba-tiba kamu jadi nggak bersemangat gini?" tanya Hendrick sembari membetulkan duduknya tepat disampingku. Aku hanya diam membisu, pikiranku masih kacau, entah mana yng harus aku ikuti dan siapa yang harus aku percaya. Aku merasa semua seakan-akan sudah diatur dan aku saat ini terjebak dalam situasi ini.
"Hei... wanita menyebalkan" kata Hendrick kembali memanggilku dengan panggilan yang biasanya membuatku meradang.
"Shella... ayolah.. bicaralah padaku, mmm oke, aku minta maaf kalau seandainya perkataanku tadi di segarra menyakitimu, i'm sorry... aku tidak bermaksud membuat kamu bersedih seperti ini. ayolah honey, senyum" kata Hendrick sambil menggenggam jemariku.
Seketika Air mataku tak terbendung lagi, Lelaki dihadapanku itu segera memelukku.
"tenanglah sayang, semua akan indah pada waktunya" tambah Hendrick yang membuat tangisanku makin menjadi-jadi.
__ADS_1
"menangislah sayang, jika itu membuat perasaanmu menjadi lega... aku akan selalu menjagamu" ucap Hendrick pelan sembari mencium keningku.
"Kak Hendrick, kenapa hidup aku jadi seperti ini? apa sebenarnya yang terjadi?" ucapku dengan nada yang tersedu-sedu.
"cup.cup... sayang, aku yakin kamu itu adalah wanita yang kuat, kamu pasti bisa melewati semua ini. Sudah jangan menangis lagi, nanti cantiknya luntur lho" goda pria tersebut sembari menghapus air mata dipipiku.
"percayalah sayang, aku akan selalu menjagamu" gumam Hendrick.
Tok Tok Tok !!!
"Kak Hendrick... ayo cepat turun" teriak Thalia sambil mengetuk kaca mobil.
"ada apa Thalia" jawab Hendrick
"gawat kak.. ayo cepetan"
"ish.. anak kecil ini kenapa sih?" ujar Hendrick yang kemudian turun dari mobil.
"ada apa Thalia?"
"itu kak, kak Ardian..."
"kenapa sama Ardian? "
"sebaiknya kak Hendrick liat sendiri deh, dia ada dijalan depan"
__ADS_1
Kemudian Hendrick segera berlari menuju lokasi yang baru saja diberi tahu Thalia,
"Lia, tolong jaga kak Shella" teriaknya dari kejauhan.