
"ayo Kar"
"itu mobil siapa Shel?" tanya Karina.
"Entahlah, ayo kita masuk... " ucapku rada sedikit ragu dengan kepemilikan mobil yang tengah terparkir itu.
Dan benar saja, ternyata....
"Mama... papa..." seru ku saat melihat kedua orang tua ku tengah berbicang di ruang tamu sambil menikmati minuman yang telah disuguhkan Eren.
"Shella..." ujar mama segera memelukku erat.
"mama sama papa kapan nyampenya disini ma?" tambahku sambil menyalami kedua orang tua ku.
"om, tante" ikut Karina menyalami mereka.
"Nak Karina juga magang di Padang ya..." kata mama
" iya tante..."
"Mama nyampe di padang pagi tadi nak" lanjut mama.
"mami, papi.." kataku sambil menyalami kedua calon mertuaku.
__ADS_1
"Mama,papa, mami,papi ... Shella ijin ke dalam sebentar ya, mau ganti pakaian dulu"
"iya nak" jawab mami Cathlin dan mama serentak.
"permisi om, tante.. Karina juga ijin mau ke dalam"
"iya nak Karina" tambah mama.
Usai membersihkan badan dan mengganti pakaian dengan baju rumahan, aku segera menuju ruang depan dimana kedua orang tua ku serta calon mertuaku tengah duduk berbincang.
Sementara itu Karina ke galery karya seni membantu Eren yang tengah mempacking beberapa pesanan dari pelanggan hasil karya bunga plastik yang sudah di percantik dengan pernak pernik lainnya.
"Maaf ma, Lama menunggu" kataku sambil duduk di kursi.
"maafkan mama, dan papamu nak, karena kesibukan kami, sampai tak ingat kalau hari itu adalah hari yang seharusnya berharga untukmu nak" papar mama sambil meneteskan air mata.
"nggak apa-apa kok ma, Shella ngerti mama sama papa waktu itu lagi sibuk"
Selang beberapa waktu kami berbincang-bincang, tiba-tiba saja mama memintaku untuk mengantarkan beliau ke pemakaman bu Siti. Seketika ingatanku kembali pada kejadian beberapa tahun silam, dimana saat wanita yang sudah ikhlas merawat serta membesarkan aku itu pergi untuk selama-lamanya, saat itu juga kehidupanku mulai berubah. Ayah yang selama ini aku anggap ayah kandungku ternyata hanya orang tua angkatku, sifatnya jauh berbeda semenjak kepergian bu Siti. Laki-laki yang dulunya lembut tutur katanya dan senantiasa melindungi kami, berubah jadi pria yang kasar, pemabuk dan acap kali melayangkan tangannya padaku, hingga akhirnya warga setempat menemukan beliau tergeletak tak bernyawa dipinggiran sawah menuju rumah. Ditambah lagi dengan kenyataan selanjutnya, ternyata Ayu bukanlah saudara kandungku dan mengharuskan kami untuk berpisah, karena ikut dengan orang tua kandungnya. Hingga saat ini kami tidak pernah lagi bertemu, bahkan komunikasi sekalipun tidak ada.
"Shella..." kata Mami Cathlin membuyarkan lamunanku.
"eh.. iya mi.. ada apa mi?"
__ADS_1
"lho.. kok kamu bengong gitu sih? itu mama kamu minta dianterin ke pemakaman bu Siti"
"iya mi... Shella jadi teringat aja sama bu Siti mi" tuturku.
Tanpa banyak bicara lagi, kami pun segera menuju area pemakaman yang letaknya tak jauh dari kediamanku saat ini.
Sesampainya dipemakaman, kami segera menuju ke sebuah makam sederhana yang terletak persis disamping pohon bunga kamboja.
Makam yang ada di area tersebut kebanyak sudah di beri coran nisan keramik, sementara itu makam bu Siti sengaja dibiarkan ditumbuhi rumput gajah (rumput teki) dan batu nisan granit yang sebulan lalu telah ku ganti saat hari ketiga sampai di kota padang.
Kemudian kamipun berdo'a di makam tersebut, dan tak lupa aku melantunkan beberapa ayat suci al-qur'an .
"bu Siti, terima kasih telah menjaga serta merawat anak kami selama ini, terima kasih sudah mendidik anak kami jadi perempuan cerdas, cantik dan sopan seperti Shella.." ucap mama sambil menaburkan bunga mawar di atas makam tersebut.
Tak terasa hari sudah mau magrib, kami pun segera meninggalkan area pemakaman tersebut.
"bu Tari, gimana kalau kalian mampir dulu kerumah saya" kata mami Cathlin.
"boleh juga, gimana pa?" tanya mama pada papa.
"terserah mama saja, papa ngikut aja " jawab papa saat akan menyalakan mesin mobil.
"baiklah.. ayo kita kesana " kata mama.
__ADS_1
Kemudian kami masuk ke dalam mobil masing-masing, dan berlalu pergi meninggalkan area pemakaman.