Suara Air Mata

Suara Air Mata
Gelisah


__ADS_3

Pesta Barbeque pun dimulai, aku segera keluar apartement lalu menuju halaman belakang. Terlihat disana sudah ada mami Cathlin, pak Anton, Ardian,Thalia serta kedua orang tuaku. Kami semua mengenakan tema baju yang sama, sesuai dengan perencanaan kemarin dresscode White.


Seluruh mata tertuju padaku disaat aku melangkah ke halaman belakang.


"Shella.... ini beneran kamu kan? tanya mami Cathlin


" iya mami" jawabku agak sedikit gugup


"kak Shella cantik banget" timpal Thalia


"Thalia kamu bisa aja" ujarku melangkah menuju meja yang terletak di tengah halaman apartement.


"Buat semuanya, mumpung kita udah pada ngumpul disini.. acara barberque hari ini kita mulai saja ya.. yang laki-laki bisa bantu-bantu angkatin alat pemanggang, sementara yang wanita kita menyiapkan bahan barberque" Kata mama memberi arahan.


Kemudian kami melaksanakan tugas masing-masing, hingga dua jam telah berlalu. Hatiku tiba-tiba berubah menjadi gelisah, sebentar-sebentar ku lihat ke arah depan apartement. Akan tetapi orang yang ku tunggu tak kunjung datang juga.


"ma, Shella mau ke dalam sebentar ya ma" bisikku pada mama yang sibuk memanggang daging.


"mau ngapain nak? sebentar lagi steaknya matang lho" kata mama.


"sebentar aja kok ma, Shella mau ambil ponsel yang ketinggalan di kamar"


"oh.. cepetan ya nak"


"oke moms" kataku mengacungkan jempol lalu berlari masuk ke dalam apartement.


*di dalam apartement


"Non Shella, hp non Shella bunyi-bunyi terus dari tadi" kata bi Siska yang sibuk membersihkan dapur.


"iya bi, oh iya bi.. bi siska nggak ikut turun kebawah? bentar lagi kita mau makan-makan lho" kataku sambil melangkah masuk ke dalam kamar dan mengambil ponselku.

__ADS_1


"tidak non, bibi malu"


"malu kenapa bi? ish bibi ini seperti orang lain saja"


"bukan gitu non, tapi.. nanti tuan marah.."


"hmm.. nggak bakalan marah kok bi, udah cepetan bibi siap-siap gih, oh iya bibi ada baju warna putih kan?"


"ada non, baju yang bibi beli waktu lebaran kemarin"


"ya sudah cepetan siap-sip bi, Shella tunggu di ruang tamu"


"tapi non..."


"apalagi bi? papa nggak bakalan marah kok, nanti Shella yang ngomong sama papa" kataku sambil melihat panggilan tak terjawab di ponselku.


"baik non" kata bi siska.


'kemana perginya mereka ya'


Tak berapa lama kemudian ponselku berbunyi, ku lihat di layar ponsel ada sebuah panggilan masuk dari nomor yang tak diketahui. Aku segera menjawab panggilan tersebut.


"Hallo.." kataku


"Hallo Shella, ini aku Karina, sorry pulsaku habis.. ini pake nomer ibu kos .."


"Karina.. kamu dimana? aku udah nungguin dari tadi"


"iya shella, maaf tugas di kos aku baru kelar"


"terus... jangan bilang kamu nggak bisa kesini"

__ADS_1


"aku rencananya mau kesitu, tapi ..."


"tapi kenapa Karina?"


"kamu bisa jemput aku kesini nggak? hehe.. kamu tau aja keuangan anak kos gimana"


"ya elah Karina, ya sudah tunggu disana.. nanti aku minta supir papa buat jemput kamu"


"oke Shella"


"bye my best friend" kataku mengakhiri panggilan tersebut.


"Non Shella, bibi sudah siap" ujar bi siska yang rupanya sudah berdiri disampingku. Kemudian kami keluar apartement menuju halaman belakang. Perasaanku masih gelisah karena orang yang ku tunggu belum juga kelihatan batang hidungnya.


"Kak Shella kenapa wajahnya kehilatan gelisah gitu?" kata Thalia.


"Mmm.. ya wajarlah Shella gelisah nak, kan sang pangeran hati belum muncul juga" ledek mami Cathlin yang tengah meletakkan beberapa potong daging steak dan teman-temannya ke atas piring yang telah di susun rapi di atas meja.


"anak mama... nanti Hendrick pasti datang kok" tambah mama merangkul bahuku.


"mama.... "


"oh iya, Karina mana Shel? kok belum datang juga?" tanya mama mengingatkanku akan sahabatku itu.


"oh iya ma, Shella hampir lupa"


"tuh kan... kak Hendrick... benar-benar sudah terpatri dipikiran kak shella" tambah Thalia dengan nada seperti orang yang tengah membaca puisi.


"Thalia...." kata mami Cathlin.


"ma, Shella ijin mau jemput Karina ya ma"

__ADS_1


"Ardian aja yang jemput Karina tante, Shella disini saja" timpal Ardian yang rupanya juga ikut mendengarkan pembicaraan kami.


__ADS_2