Suara Air Mata

Suara Air Mata
Foto


__ADS_3

Usai mengikuti mata kuliah hari ini yang berakhir pada jam 16.00WIB, kami mahasiswa baru jurusan hukum diminta untuk berkumpul di Aula kampus untuk mendengarkan pengumuman kemah bakti mahasiswa ke daerah puncak.


"Shella... aku perhatiin sejak masuk tadi wajah kamu terlihat murung, kamu sebenarnya kenapa?" tanya Karina.


"aku tidak kenapa kenapa Rin, cuma lagi kurang enak badan aja" jawabku.


"kalau kamu sakit bilang dong, sebaiknya sekarang kamu istirahat saja dulu di kost aku" Tambah Karina.


Kemudian salah satu senior yang bernama kak Ajeng selaku ketua kegiatan kemah bakti, tiba-tiba berteriak ke arah kami


"Hei saudari yang berdua dibelakang, apakah saudari ada mendengar arahan saya? saya bicara disini, anda berdua sibuk bicara di belakang" teriak kak Ajeng.


"Maaf kak" jawab kami serentak.


Kepalaku mulai terasa sangat pusing, pikiranku saat ini terasa begitu kacau. Sementara kak Ajeng tetap saja membebel dan otomatis seluruh mahasiswa yang ada di Aula itu menatap ke arah kami berdua. Pandanganku mulai kabur dan


BRUUUKK !!

__ADS_1


Tubuhku terasa begitu lemah tak berdaya, sayup sayup terdengar Karina memanggil namaku, akan tetapi mulutku seolah terbungkam tak mampu berkata lagi.


Setelah sadar aku mendapati diriku telah berada di kostnya Karina.


"Shella... Syukurlah kamu sudah sadar "kata Karina.


"kenapa aku ada disini Rin?" tanyaku.


"kamu tadi mendadak pingsan, jadi aku dan kakak senior membawa kamu kesini" ujar Karina.


"kamu istirahat saja dulu Shel, tunggu kondisi kamu membaik" tambah Karina sambil memberikanku segelas teh hangat.


"ini foto orang tua kamu Rin?" tanyaku pada sahabat baruku itu sambil meraih foto tersebut.


"iya Shel, itu foto orang tua ku.. kalau aku kangen, kadang kami video call, aku selalu memandangi foto tersebut sebelum tidur" tutur Karina yang sedang menyusun beberapa buku ke atas meja belajar.


"Beruntungnya kamu Rin, masih ada orang tua yang jadi penyemangat kamu"

__ADS_1


"iya Shel, tapi tak seberuntung kamu shella, yang punya orang tua tajir, ditambah tinggal di apartement mewah"


"mereka bukan orang tuaku Rin" ujarku sambil menundukkan pandangan, aku kembali teringat akan isi surat yang ditulis ibu.


"bukan orang tua kamu? maksud kamu? gimana sih, aku nggak ngerti"


"iya bu Tari dan pak Tama bukanlah orang tua kandungku. aku tinggal disana awalnya karena...." kemudian aku menceritakan bagaimana kronologi kejadian saat aku kehilangan orang tua dan adik yang ternuata bukanlah keluarga kandungku hingga aku berjuang sendiri lalu mendapatkan beasiswa, masalah dan orang orang yang pernah menolongku disaat aku kesulitan hingga sampai ke jakarta dan diajak tinggal di apartement bu Tari.


"aku ingin sekali bertemu dengan kedua orang tua kandungku Rin, dulu aku berpikir dengan mendapatkan beasiswa ke jakarta ini, aku bisa mencari dan bertemu dengan mereka. Tapi ternyata... hasilnya nihil.." tuturku, tanpa aku sadari air mata telah jatuh membasahi pipi ini.


"yang sabar ya Shella, meskipun begitu kamu harus tetap bersyukur masih banyak orang orang baik disekitarmu" ujar Karina beranjak dari temoat duduknya lalu memelukku.


"terima kasih Karina"


"iya sama-sama Shella, hmm... bagaimana kalau besok kita cari keberadaan orang tuamu sama-sama?" usul Karina.


"Baiklah Rin... maaf aku jadi merepotkan kamu"

__ADS_1


"biasa itu Shella, kita kan harus saling tolong menolong" tambah Karina.


__ADS_2