Suara Air Mata

Suara Air Mata
Dimanakah?


__ADS_3

"Assalamualaikum nak" ujar si bapak berkumis itu.


"Waalaikumsalam pak" jawabku.


"Perkenalkan pak, nama saya Shella. Kalau saya boleh tau. Pemilik rumah ini kemana ya pak?" tanyaku.


"Rumah ini memang sudah lama kosong nak, kira kira sudah sepuluh tahun. Cuma yang kesini palinh ada tukang kebun membersihkan rumah ini, itupun cuma sekali setahun"


"maaf pak, kalau boleh tau pemilik rumah ini siapa ya pak?"


"setau bapak, yang punya rumah ini nyonya Lastri. dan anaknya yang sudah menikah,mmmm namanya kalau tidak salah pak Pratama"


DEG...


seketika darahku terasa berhenti ketika mendengar nama Pratama. itu berarti tidak salah lagi, ini alamat rumah kedua orang tua ku. Tapi kemanakah mereka pergi?


"Nak... nak Shella" seru bapak berbaju coklat itu membuyarkan lamunanku.


"iya pak..." jawabku.


"oh iya pak, bapak tau bagaimana ciri ciri pak Pratama itu pak atau berapa nomor telpon beliau yang bisa dihubungi?" tambahku.

__ADS_1


"kalau itu bapak kurang tau nak, soalnya Pratama itu jarang berbaur dengan masyarakat sini, berbeda dengan ibunya. Nyonya Lastri yang selalu membantu warga sekitar, khususnya seperti kami yang kurang mampu, tapi semenjak beliau meninggal, rumah ini selalu kelihatan kosong, tidak terawat" tutur bapak berbaju coklat itu.


"baik lah kalau begitu nak, bapak permisi dulu" tambahnya.


"terima kasih infonya pak" kataku,


'kemana aku harus mencari kedua orang tua ku?' rintihku dalam hati, ku lihat jam ditanganku telah menunjukkan pukul 13.30. Tiba tiba ponselku berbunyi. ku lihat di layar ponsel itu tertulis sebuah panggilan masuk dari Karina.


*"Halo"


"Halo Shella, kamu dimana? seberntar lagi jam kuliah dimulai"


"iya Rin, aku sedang menuju kesana"* ujarku sambil mempercepat langkahku mencari sebuah taksi, akan tetapi sepuluh menit aku menunggu tak satupun taksi yang melintas disana.


"Hey perempuan menyebalkan" seru si pengemudi mobil yang tak lain ialah Hendrick.


"sial, si manusia aneh itu lagi, kenapa dia bisa tau kalau aku ada disini" gerutuku kesal.


"Ayo cepat naik sini, biar aku antarkan ke kampus" tambah laki laki itu.


"tidak kak,Shella sudah memesan Gi Jek" jawabku asal.

__ADS_1


"cepat masuk, mau berapa lagi kamu menunggunya? sebentar lagi mata kuliahmu dimulai" tambah Hendrick memaksa. Aku hanya diam membisu.


"hey perempuan menyebalkan, cepat masuk atau aku minta bayaran atas jasaku selama ini padamu".


Mendengar ancaman dari laki laki itu, aku terpaksa mengikutinya.


Selama dalam perjalanan aku terus memikirkan dimana keberadaan kedua orang tuaku, kemana lagi aku harus mencarinya.


"Hey perempuan menyebalkan, kenapa kamu diam saja? apa yang kamu pikirkan?" tanya Hendrick.


"Hey Shella, apa kamu tidak mendengar pertanyaanku atau kami sudah tuli?" tambahnya.


Seketika air mataku jatuh, aku terus memikirkan bagaimana cara bisa bertemu dengan kedua orang tuaku. Apakah selamanya aku akan tetap hidup sendiri? kemana lagi aku harus mencari mereka?


"Hey, kenapa kamu menangis? kalau kamu merasa tersinggung dengan perkataanku tadi, aku minta maaf" kata Hendrick.


"Shella, come on jangan bikin aku panik begini" tambahnya.


"aku tidak apa-apa kok kak, bisa dipercepat laju mobilnya kak? soalnya Sepuluh menit lagi, Shella harus masuk kelas" tuturku sambil menghapus air mata yang tak sengaja berjatuhan di pipi ini.


"ooo jadi cuma karena takut telat masuk kelas saja kamu sampai nangis begini.. hmm dasar lebay" Ledek Hendrick terus mempercepat laju mobilnya, hingga kira kira sepuluh menit kemudian, sampailah kami di universitas Jakarta.

__ADS_1


Aku segera menuju fakultas Hukum dan masuk ke ruangan A dimana perkuliahanku hari ini dimulai.


__ADS_2