
Sesampainya di apartement, ku lihat pak Tama dan bu Tari tengah duduk menunggu di ruang depan.
"dari mana saja Shella? kenapa jam segini baru pulang?" tanya Pak Tama.
"maaf pak, Shella lupa memberitahu kalau tadi di kampus ada kegiatan tambahan" Ujarku menjelaskan apa yang aku alami hari ini di kampus.
"Ya Tuhan, kenapa kamu bisa sampai pingsan nak? apa sebaiknya kita panggil dokter saja pa?" kata bu Tari yang menunjukkan raut wajah khawatir.
"mm.. sebaiknya tidak usah bu, Shella sekarang sudah mendingan kok bu, paling cuma butuh istirahat saja" tuturku.
"Shella.. ini demi kesehatanmu nak" tambah pak Tama.
"Baik pak" jawabku. Kalau sudah pak Tama yang bicara, aku tidak mampu lagi menolaknya.
Malam itu usai membersihkan badan dan mengganti pakaian, dokter Kevin yang merupakan dokter pribadi keluarga itu datang memeriksa kondisi kesehatanku.
"tidak ada masalah kesehatan yang cukup parah, anak ibu hanya butuh istirahat saja, mungkin karena Shella kelelahan. Jadi daya tahan tubuhnya langsung melemah. Saran saya sebaiknya kurangi aktifitas yang berlebihan ya" ujar dokter muda yang berumur sekitar dua puluh tujuh tahun itu.
"Syukurlah kalau begitu dokter. Shella.. mulai besok semua pekerjaan rumah sebaiknya biar bi Siska saja yang mengerjakan. ibu tidak ingin lagi mendengar kabar buruk tentang kamu" tegas bu Tari.
"iya bu, terima kasih pak dokter" tambahku.
Usai melakukan pemeriksaan kesehatan oleh dokter kevin. Malam ini aku diminta untuk segera makan malam dan istirahat.
__ADS_1
'ya Tuhan, berilah petunjukMu agar aku bisa bertemu dengan kedua orang tua kandungku' gumamku sambil memeluk sepucuk surat peninggalan bu siti yang telah merawat dan membesarkanku sejak kecil dengan penuh kasih sayang. Bayangan masa kecil yang begitu menyenangkan bersama keluarga yang aku anggap keluarga kandungku itu menari mari dipikiranku. Tanpa disadari air mata telah jatuh membasahi pipi ini.
Tiba-tiba ponselku berdering, akan tetapi sengaja aku abaikan. karena saat ini aku hanya ingin mengingat masa laluku. Hingga akhirnya akupun terlelap.
*kost elite
Malam itu Hendrick dan David tengah asyik duduk santai di teras kost Hendrick.
"Dav, si Andrew kemana? tumben itu anak jam segini belum nongol juga" kata Hendrick yang tengah membaca buku.
"entahlah, gue juga nggak tau tu anak kemana" jawab david sedang bermain gitar.
Tak berapa lama kemudian datanglah Andrew dengan mengendarai sebuah mobil honda brio hitam.
suara Klakson mobil mengagetkan kedua sahabat yang tengah asyik duduk di teras depan. Hendrick dan David saling menatap.
"siapa tu Ndrick?" tanya David.
"enthlah" jawab Hendrick sambil mengamati dengan seksama mobil yang baru saja di parkir tersebut.
"Hei bro... kenapa segitu banget liatin mobil gue?" kata Andrew yang baru saja keluar dari mobil tersebut.
"eh elu Ndrew, gue kira siapa... tumben bawa mobil? punya siapa?" seru David.
__ADS_1
"punya adik sepupu gue Dav.." jawab Andrew menghampiri kedua sahabatnya itu.
"sepupu lu? siapa? Shinta?" tambah David.
"iya Dav, kebetulan dia sekarang pindah kuliah ke universitas jakarta"
"Shinta? sepupu elu yang kabarnya cewek adiknya hendrick, yang siapa tu namanya.."
"Ardian... kapan tu cewek pindahnya Ndrew?" timpal Hendrick.
"kabarnya sih dia besok udah mulai masuk kuliah di jurusan hukum. Sama kayak Shella" Tutur Andrew menjelaskan.
"tumben elu pake mobil dia? lu habis ngedate sama cewek yang man nih?" tambah David.
"biasalah.. cewek incaran gue si Shella..." jawab Andrew spontan.
"apa? Shella? lu nggak becanda kan Ndrew?" tanya Hendrick yang merasa kaget, karena ia tahu dengan sifat Shella yang tak semudah itu bisa dekat dengan seorang laki laki, apalagi cowok seperti Andrew yang terkenal dengan Playboynya di kampus.
"iya, memangnya kenapa Ndrick? Shella itu cewek cantik, cewek idaman gue selama ini" ujar Andrew sambil menyeruput minuman kaleng yang terletak disebelah David.
Tanpa berkata apapun, Hendrick segera bangkit dari duduknya lalu masuk ke dalam kamarnya.
"sssttt Dav, si Hendrick kenapa?" bisik Andrew pada David.
__ADS_1
"Entahlah" jawab david pelan memperhatikan tingkah laku sahabatnya itu. 'sepertinya ada yang tidak beres nih' gumam David dalam hatinya.