Suara Air Mata

Suara Air Mata
Putus Asa


__ADS_3

"tuan Pratama dan nyonya Mentari.. ya saya mengenal mereka. Tuan Pratama itu anak dari Tuan Michael, memang mereka tinggal dirumah itu. Tapi sejak ada masalah disana sekitar sepuluh tahun yang lalu, di tambah Tuan Michael juga telah meninggal. Rumah itu memang sengaja ditinggal oleh pemiliknya dan suami saya disuruh untuk menjaga rumah tersebut" jelas mbok Tur.


"Apa si mbok mengetahui bagaimana rupa tuan pratama dan nyonya mentari tersebut mbok?" tanyaku yang makin penasaran.


"kalau itu si mbok kurang tau non, soalnya mereka dulu jarang kesini. si mbok tau nya Tuan pratama itu putra tunggal dirumah itu.Kecuali tuan Michael yang terkenal dermawan dam sering membantu masyarakat sekitar sini" tambah mbok Tur menjelaskan.


"oh begitu ya mbok... " ujarku pelan.


"memangnya non berdua ini siapa? kenapa tanya yang punya rumah itu non?"


" begini mbok, teman saya ini mencari keberadaan orang tuanya..." timpal Karina.


"maksudnya non?" tanya mbok Tur heran.


Kemudian aku menjelaskan maksud dan tujuanku datang ke komplek tersebut, aku menceritakan bagaimana isi surat yang pernah ditulis bu Siti.


"jadi... non ini anak dari tuan Pratama, begitu?"


" mungkin mbok, Shella juga tidak tau kebenarannya.. tapi Shella ingin sekali bertemu dengan mereka".


Setelah berbincang-bicang beberapa jam lamanya, kemudian bertanya ke tetangga sekitar tentang keberadaan kedua orang tuaku. Akan tetapi kebanyakan dari mereka warga pendatang dan ada pun yang sudah lama tinggal di komplek itu, tak mengetahui diman dan bagaimana rupanya kedua orang tuaku tersebut.


Tak terasa hari sudah mulai sore, Karina mengajakku untuk segera balik ke kostnya. Dengan perasaan sedih dan wajah lesu, terpaksa aku mengkhiri pencarian hari itu. Rasanya aku sudah mulai putus asa mencari tahu keberadaan orang tuaku. Dengan memesan sebuah Gi Car, kami pulang ke kostnya Karina.


Rasanya badanku ini tak berdaya lagi, tak ada lagi semangag dalam diriku.


"yang sabar ya Shella.. aku yakin suatu saat kamu bisa bertemu dengan kedua orang tuamu" ujar Karina mencoba memberiku semangat.

__ADS_1


"terima kasih Karina, aku tak tahu lagi harus mencari mereka kemana lagi Kar" ujarku. Tak terasa butiran air mata telah jatuh membasahi pipi ini. Lalu Karina memelukku dan berusaha menenangkanku.


Tiba tiba ponselku berbunyi


"*hallo"


"Shella kamu dimana? aku sudah


menunggumu sejak tadi didepan"


"ini siapa?"


"hey wanita menyebalkan, kenapa kamu lupa dengan suaraku... ini aku kekasihmu Hendrick"


"oh kak Hendrick, maaf kak.. soalnya kakak pakai nomor baru disini"


"sebentar kak, Shella lagi dijalan, bentar lagi nyampe kok"


"kamu dari mana*?"


Belum selesai laki laki itu bicara, panggilan pun terputus.


"ciieee yang dapat telpon dari cowok barunya" ledek Karina tersenyum padaku.


"apaan sih Karina..." ujarku yang tersipu malu.


Tak berapa lama kemudian sampailah kami di kost Karina. Tampak Hendrick juga tengah menunggu di kursi teras depan kost.

__ADS_1


"Hai Kak Hendrick" sapa Karina.


"hei... kalian habis dari mana?" tanya Hendrick.


"biasa lah kak.. perempuan ... ada urusan" jawab Karina


"urusan apa?" tanya Hendrick lagi.


"sebentar ya, aku tinggal dulu... " ujar Karina yang melangkah masuk ke dalam kost.


"kamu dari mana saja Shella" tanya Hendrick padaku.


"oh itu habis nyari buku..." jawabku asal, aku tidak ingin Hendrick marah jika mengetahui kalau aku pergi ke jalan perintis.


"kamu sudah makan?"


"belum kak"


"kebetulan banget, ayo kita makan diluar" ajak Hendrick.


"tunggu sebentar kak, Shella panggil Karina dulu"


"aduh.. kenapa musti ajak karina sih.. kita makannya berdua aja" kata Hendrick yang terlihat kesal.


"tapi kak"


"nanti keburu malam.. ayo... Karina pinjam temanmu sebentar" seru Hendrick sambil menarik tanganku masuk kedalam mobilnya.

__ADS_1


"oke" tariak Karina dari dalam kos. Sepertinya ia telah mengetahui bagaimana gerak gerik Hendrick.


__ADS_2