Suara Air Mata

Suara Air Mata
menjaga


__ADS_3

Tiga bulan telah berlalu, setiap pagi Andrew selalu saja menungguku di depan apartement bu Tari dan pak Tama. Hal ini tentu jadi pertanyaan bagi mereka.


"Shella, bapak perhatikan beberapa hari belakangan ini ada seorang laki laki yang menunggumu di depan, siapa itu Shella?" kata Pak Tama yang saat itu tengah menikmati sarapan yang telah dihidangkan oleh bu Tari dan Asisten Rumah Tangganya.


"mmm itu pak, cuma teman satu kampus Shella aja" jawabku pelan.


"Sebaiknya kamu jauhi saja laki laki seperti itu" tegas pak Tama.


"Baik pak" ujarku merasa tidak enak dengan Pria yang sekarang jadi orang tua angkatku di Jakarta.


"Papa ini, biarkan saja pa.. namanya juga perempuan, apalagi cantik. pasti ada saja laki laki yang menyukainya" timpal Bu Tari.


"mama ini, kita itu harus menjaga nama baik keluarga ini ma" tambah pak Tama.


"iya pa... tapi kan..."


"pokoknya papa tidak suka dengan laki laki itu" tegas pak Tama lagi, kemudian beliau bangkit dari tempat duduknya.


"Mau kemana pa? sarapannya belum habis" tanya bu Tari.

__ADS_1


"sudah tidak nafsu" jawab pria itu sambil beranjak pergi keluar apartement.


Aku makin merasa tidak enakan dengan mereka, karena aku bu Tari dan Pak Tama jadi berdebat begini.


"Maaf bu, gara-gara Shella. bapak jadi begini" tuturku.


"tidak apa apa nak Shella, jangan diambil hati sikap bapakmu itu. dari dulu dia memang begitu, kalau ada hal yang dia kurang suka. ya seperti itu lah, dia pergi begitu saja" kata bu Tari.


"ngomong-ngomong siapa laki- laki yang selalu nungguin kamu di bawah Shel?"


"kak Andrew bu"


"Andrew? sepertinya ibu pernah mendengar nama itu"


"ooooohhh anak itu, iya ya.. ibu ingat. kalau itu sebaiknya kamu jauhi saja ibu juga kurang suka dengan sikap anak itu" kata bu Tari.


"baik bu" jawabku singkat.


pukul 07.30 WIB aku pamit pada bu Tari untuk pergi ke kampus sekaligus minta izin telat pulang hati ini karena aku akan membuat tugas di kos-kosannya Karina.

__ADS_1


*di rumah keluarga Antoni & Cathlin.


Saat itu Cathlin tengah sibuk merangkai bunga lily ke dalam sebuah pot yang jadi hobbynya di kebun depan rumah. Tiba tiba saja ia teringat akan Hendrick dan Shella yang saat ini sedang melanjutkan kuliah di universitas jakarta. Ia mengambil ponsel yang sengaja ia taruh di atas meja kecil disampingnya. Kemudian ia menelpon Hendrick.


Tut... Tut... Tut...


Berulang kali ia menelpon anak sulungnya itu, tapi tidak ada jawaban sama sekali.


"mungkin saja ia sedang sibuk" gumam wanita itu kembali menaruh ponselnya dan melanjutkan hobby barunya itu.


Tak berapa lama kemudian datanglah Ardian dengan mobil Fortuner putihnya.


"Hello mamiku yang cantik" goda Ardian pada maminya yang tengah asyik memetik dan merangkai bunga tersebut.


"Ardian, dari mana saja kamu semalaman tidak pulang?" tanya Cathlin


"Aku... m.. habis dari rumah temen mi"


"kamu ini, sudah mulai bandel ya mami bilangin. tidak boleh tidur di sembarangan tempat. Mami tidak ingin hal buruk terjadi pada kamu .... " belum selesai ia berbicara Ardian telah beranjak pergi masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Ardian... mami belum selesai bicara.. " Teriak wanita itu. Akan tetapi Ardian tak menanggapinya sama sekali.


"Ah... anak itu, kenapa sekarang jadi nakal begini... " gerutu ia kesal.


__ADS_2