
"ehmm.." jawab Shella yang masih berusaha menutupi pengkhianatan yang dilakukan Hendrick terhadapnya.
Ia masih bimbang, apa yang harus ia lakukan. Batinnya menolak keras untuk melanjutkan hubungannya dengan pria itu, sebaliknya ia juga tidak tega menghancurkan harapan kedua orang tuanya yang jauh-jauh hari sudah mempersiapkan acara pernikahan mereka.
Tak terasa air mata pun telah membasahi pipi gadis itu.
*Tuhan bolehkah aku menangis sebentar?
Aku hanya ingin mengeluarkan kesedihan yang selama ini ku pendam
Sakit rasanya bila harus ku tahan
Jika engkau mengizinkan
aku ingin menangis sekarang
Begitu berat beban yang ku miliki
terlalu banyak cobaan yang mendera diri
tapi ku hanya diam tanpa berkata
aku sedang menyembunyikan kesedihan
Mungkin mereka tak akan pernah tahu
bahwa seseorang yang selalu tersenyum
*dihadapannya sebenarnya menderita
karena aku terus berusaha untuk tegar
agar orang-orang mengiraku baik-baik saja
__ADS_1
Aku tau diluar sana masih banyak yang lebih buruk dari kehidupannku
Tapi apalah dayaku yang berstatus hamba Allah
hanya bisa menangis
bukan karena aku lemah atau tak bersyukur
hanya saja diriku sedikit mengeluh
Bagiku selagi tuhan bersamaku
aku akan selalu baik-baik saja*
Gadis itu pun terhanyut dalam buaiyan mimpi indahnya.
Sementara itu di Rumah Sakit Pelita Sehat tampak papi Anthony tengah terbaring lemah dengan selang oksigen dan infus yang terpasang ditubuhnya. Kondisi beliau saat itu mulai kritis. Beberapa orang dokter dan perawat juga terlihat tengah sibuk memeriksa kondisi salah satu donatur terbesar di Rumah sakit tersebut.
"papi... cepat sembuh pi... Lia tidak ingin kehilangan papi" seru Thalia yang selama ini sangat dekat dan manja dengan papinya itu.
Tak berapa lama kemudian datanglah Adrian.
"mi.. gimana kondisi papi?"
"Adrian, papi masih kritis nak.. gimana dengan Hendrick? kamu ada ketemu dengan dia?"
"tidak mi, kata karyawan disana kak Hendrick sedang keluar kota mi"
"dasar anak itu, orang tua lagi sakit, malah tidak bisa dihubungi"
"yang sabar mi, mungkin kak Hendrick lagi ada tugas penting" kata Adrian mencoba menenangkan hati maminya.
Beberapa menit kemudian dokter dan beberapa orang perawat pun keluar ruangan tempat dimana Anthony tengah terbaring lemah.
__ADS_1
"gimana keadaan suami saya dok?" tanya Cathlin sangat khawatir.
"suami ibu terkena gejala sakit jantung ringan, usahakan bapak jangan berpikiran terlalu banyak dulu ya bu, saya permisi dulu bu" kata dokter tersebut.
"terima kasih dok, apa boleh kami melihat kedalam"
"boleh bu, silahkan..." kemudian dokter tersebut pergi.
Tak menunggu lama, ketiga ibu dan anak itu segera masuk ke dalam ruangan VVIP tempat dimana papi Anthony dirawat.
"pi... ayo bangun pi..." kata Thalia sampai menangis histeris.
"pi... jangan tinggalin Thalia pi, papi harus sehat, ayo bangun pi..." tambah gadis itu.
"sabar Lia, kita semua disini juga ingin papi cepat siuman, cepat sembuh biar kita bisa kumpul lagi" ujar Mami Cathlin berusaha menenangkan putrinya itu.
Sementara itu Adrian terlihat tengah menahan amarahnya.
"arrrghhh... semua ini gara-gara sikeparat itu" ujarnya sambil mengusap keras kepalanya.
"kamu kenapa Adrian?" tanya Cathlin.
"mi... sebenarnya papi itu sakit karena ulah kak Hendrick"
"maksud kamu?"
Kemudian Adrian menceritakan pada mami Cathlin tentang kejadian beberapa hari yang lalu, dimana terjadi percekcokan antara papi Antony dengan Hendrick.
"Astaga, dari mana kamu tau kabar itu Ian?"
"Aku dapat berita itu dari Sesil, sekretaris barunya kak Hendrick. Kebetulan Sesil itu teman dekat Aku mi"
Seketika Cathlin menjadi murka, seakan masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan putranya, akhirnya wanita itu memerintahkan beberapa orang suruhannya untuk menyelidiki kebenaran berita tersebut.
__ADS_1