
Acara lomba Marching band kali ini merupakan lomba yang paling berkesan bagiku. Ada rasa bangga tersendiri buatku karena selain jadi mayoret dadakan,tak tanggung tanggung mendadak dari ketua kelompok B (pianika) aku diangkat menjadi mayoret utama menggantikan Shinta yang katanya waktu itu sedang sakit, dan yang lebih membanggakan lagi sekolah kami pendapat peringkat sebagai juara Umum sekota Padang ditambah sebagai penampilan atraksi mayoret terbaik dikotaku.
Tak ingin rasanya aku melupakan saat -saat itu, hingga hari demi hari berlalu, bulan demi bulan beganti dan tahun pun ikut berganti, kini tibalah saatnya aku melaksanakan ujian Nasional SMP. Tidak terasa begitu beratnya ujian dan cobaan yang aku lalui selama tuga tahun terakhir ini. Sekarang Ayu juga satu sekolah denganku, ia saat ini duduk di kelas satu SMP. Ayu memang anak yang pintar, ia kembali mendapat juara umum. Dan sejak menduduki bangku SMP ia lebih sering menginap di rumah Bu Monic dari pada dirumah sederhana peninggalan ibu, sedangkan bapak entahlah... sejak kejadian bapak merampas hasil panen beberapa waktu yang lalu, beliau tak terlihat lagi batang hidungnya. Rasa kecewa,sedih,benci dan kesal bercampur jadi satu jika aku mengingat semua itu, bapak sudah jauh berubah sejak kepergian ibu, dia tidak mempedulikan kami lagi.
Tak ingin konsentrasiku belajar terganggu, segera ku ambil buku pelajaran 'aku harus jadi orang yang sukses, aku janji bu' gumamku dalam hati.
Beberapa hari ujian Nasional dilaksanakan dan sekarang tibalah saatnya para murid kelas tiga SMPN Bakti Nusa mulai merencanakan acara perpisahan. Aku yang saar itu berada di kelas 9A,dimana aku satu kelas dengan kedua sahabatku Cici dan eren, termasuk Shinta. Entah apa yang membuat Shinta selalu kelihatan sangat membenciku, semenjak kelas 7 hingga sekarang kelas 9 ia tidak henti-hentinya menghina dan meremehkan aku.
"heh.. anak orang miskin,sok cantik sok waw dan sok Oke... berhubung karena sekolah kita akan berakhir, bukan berarti gue bakalan baik ya sama elu.." ujar Shinta sambil memukulkan tangannya ke meja didepanku yang saat itu tengah berbincang dengan Eren dan Cici.
"woi miss Shinta yang terrrrrrrrrrrrrrrrrrrr... goblok, kamu jangan sekali-kali ya membentak teman gue kayak gitu" balas Cici geram dengan perkataan Shinta.
"Dan lagi,katanya elu paling kaya, paling cantik dan paling oke... tapi.... sikap elu paling rendahan tau nggak ... dasar mak lampir" tambah Eren.
"Sudah.. sudah.. cici eren" ujarku menenangkan suasana.
"Shinta, sekarang aku mau tanya, kenapa kamu selalu bersikap kasar sama aku? emangnya aku salah apa sama kamu?" tanyaku pada gadis berambut coklat dihadapanku itu.
__ADS_1
"Salah elu... banyak... nanti elu bakalan tau sendiri... dan sekali lagi gue ingatkan elu miskin nggak selevel sama gue.. udah ya...bye.." ia pun berlalu meninggalkan kami.
"aneh tu cewek, nggak ada angin nggak ada hujan main bentak-bentak aja" kata Cici
"Sudahlah Ci, jangan dihiraukan orang macam itu.. lebih baik sekarang kita bahas acara perpisahan aja gimana?" ujarku mengalihkan ke pembahasan kami yang sempat tertunda karena kedatangan Shinta.
" Bagaimana kalau diacara perpisahan nanti, kita jalan-jalan aja" Usul Eren dengan girangnya.
" Mending acara perpisahan disekolah aja, kan lebih hemat ketimbang jalan-jalan"
hari itu pikiranku terasa ringan sejenak.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
Hai readers jangan lupa tekan tombol like dan dukung terus penulis agar tetap bisa terus berkarya ya 😊
terima kasih
__ADS_1