
"siapa kamu". Ucap Hendri,kepada seseorang yang duduk santai di sofa teras rumah Ayunda.
Hendri, mendelik ke arah pria tersebut. Terlihat jelas dari pakaiannya sangat mahal dan membawa sebuket bunga mawar. di atas meja juga ada sekotak Pizza, terlihat lezat.
Begitu juga Abraham, tiba-tiba ke datangan seseorang pria. Yang baru datang menggunakan mobil, pakaiannya terlihat biasa saja. Dia heran, pernah lihat tapi dimana? Ia kebingungan sendiri. "Siapa kamu? seperti tidak asing".
Hendri, tersenyum merekah. "Ck, balik nanya segala. Seharusnya kamu duluan yang jawab pertanyaan aku tadi".
"hemm... aku Abraham Samad,rekan bisnisnya Ayunda. Aku ada perlu dengannya,lagian kamu siapa ha..". Tegasnya Abraham,ia menyunggingkan senyumnya.
"Apa,rekan bisnis? Hahahha,apa karena masalah pekerjaan. Masa gaya-gayaan mau ketemu Ayunda,kalau masalah pekerjaan. Jangan-jangan kamu mau ketemuan yah, atau mau ajak dia jalan-jalan. Oh...tidak bisa, karena aku mantan suaminya yang selalu sigap untuk mencegah kalian pergi ".
"Oh, pantesan gak asing. Kamu mantan suaminya Ayunda". Abraham, manggut-manggut saja.
"Iyalah,aku ini terkenal mantan suami Ayunda. Tentu saja tidak asing bagi orang-orang, dengan wajahku ini" Ucap Hendri, dengan kepedean.
"Hanya mantan suami, begitu saja bangga. Tunggu dulu,setauku kamu hanya pengemis. Tapi di lihat-lihat kamu sukses yah,jadi pengemis. Dengan waktu yang sangat singkat,apa ada orang lain. Di belakang mu,atau kamu memiliki tipu muslihat dengan Ayunda " Abraham, menaruh rasa curiga kepada mantan suaminya Ayunda.
"jangan asal tuduh kamu, darimana kalau aku seorang pengemis ha? Kita saja baru bertemu". Bantah Hendri,ia nampak tak percaya. Jika pria di hadapannya tau siapa dia dulu.
Abraham, melangkah kakinya sedikit maju. "Aku seorang pembisnis handal,jadi lawanku atau kerjasama dengan ku. Aku harus menyelidikinya sampai ke akar-akar, termasuk aku tahu siapa dirimu. Pantesan saja, Ayunda. Selalu menolak untuk rujuk, walaupun kamu sudah beberapa kali mengajak rujuk. Mungkin puluhan kali Ayunda,menolak mu juga. Ck,dasar pria pecundang kau. Ayunda adalah wanita sangat pintar,dia mungkin tahu. Uang darimana yang kamu dapatkan," Ucap Abraham,ia tersenyum seakan-akan meremehkan kemampuan Hendri.
"diam...!!! Kamu tidak berhak mengatur segalanya,ini hidupku. Kamu hanya berkedok rekan bisnis, bukan? Bilang saja,kalau kamu menyukai Ayunda. Dia lebih baik memilih diriku, dibandingkan kamu". Senyum semerik Hendri.
"Oh,yah....apa kelebihan dirimu,hanya pria pecundang sok belagu,". Abraham, cekikikan tertawa renyah.
Tentu saja Hendri, kalah telak.ia mengepalkan kedua tangannya, betapa beratnya untuk meluluhkan hati Ayunda.
"Mentang-mentang kamu memiliki segalanya,kamu senang. Belum tentu Ayunda,mau dengan pria arogan seperti Anda". Tekan Hendri,ia merampas sebuket bunga di tangan Abraham.
Bunga tersebut di jatuhkannya ke tanah. Hendri, tersenyum puas melihat bunga mawar sudah ia injak-injak.
__ADS_1
Abraham,hanya melihat apa yang di lakukan oleh Hendri. Dengan santainya Abraham, mengambil sebuah bata. Tepatnya di depan rumah tetangga Ayunda.
Abraham, langsung menuju ke arah mobil Hendri, seketika batu bata di tangannya. Langsung di lembar ke arah kaca depan mobilnya Hendri.
Bruuuaakkkkkkk...
"Tidaaaakkkkk....!!!!!" Teriak Hendri,saat melihat kaca mobil depannya pecah.
Abraham, langsung menepuk tangannya. Seakan-akan puas apa yang di lakukan nya saat ini. lemparannya begitu kuat,hanya satu kali membuat pecah berkeping-keping.
Tetangga Ayunda dan lainnya, melihat aksi debat mereka. Mereka yang menonton sangat puas, bahkan ada yang bersyukur mobilnya Hendri. Kini sudah pecah, berkeping-keping kaca mobil depannya.
"kau harus ganti kaca mobil milikku,atau aku tuntut kamu" bentak Hendri,matanya memerah manahan rasa emosi.
Abraham, masih terlihat sangat santai. "Silahkan kamu tuntut, aku tidak takut". Senyum semeriknya. Ia langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan perkarangan rumah Ayunda.
Hari ini sudah di buat moodnya hancur karena mantan suami Ayunda. Ia begitu kesal, daripada melawan lebih baik pergi.
Hendri, mengusap wajahnya dengan kasar. Ia masih menatap kaca mobil depannya sudah pecah berkeping-keping.
"Alahhh.... palingan dia ngemis lagi di pasar,buat beli kaca mobil depannya. Jangan mau ibu-ibu ngasih uang,apa perlu kita usir saja". Sahut ibu lainnya.
"Benar usir saja,tapi aku gak percaya hasil ngemis. Jangan-jangan kamu menggunakan pesugihan yah, Hendri". Delik mata ibu-ibu lainnya.
"apa-apa lagi bu,jangan menuduh ku seperti itu. Bilang saja kalian syirik,bukan? Karena aku lebih kaya dalam sekejap, dibandingkan kalian hidupnya gitu-gitu aja". Sinis Hendri,melawan ibu-ibu.
"Wahhh... jangan sembarang kamu Hendri,kami bisa saja menghancurkan mobilmu dalam sekejap. Ingat yah,kalau terjadi apa-apa di wilayah ini. Kami akan menghukum mu Hendri,awas kalau terbukti. Jika kamu melakukan pesugihan,kami tidak mau jadi tumbal atau kena sialmu". Sengit yang lainnya.
"Baru aja punya mobil,sudah sok belagu. Emang enak mobilnya di rusak,karma itu. Kasian deh,lo". Timpal lainnya.
Hendri, begitu gemes terhadap ibu-ibu yang sudah mengejeknya. Lebih baik dia diam, daripada melawan. Tentu saja akhirnya kalah, walaupun emosi terkuras habis.
__ADS_1
Ibu-ibu lainnya masih saja membicarakan Hendri,tapi tak di hiraukannya. Ia tengah sibuk membersihkan kaca mobil,di dalamnya.
Tak berselang lama. Ayunda, sudah balik Kerumahnya. Saat turun dari mobil,ia nampak heran. Kenapa Hendri, tiba-tiba ada di halaman rumahnya. Ia tak sengaja melihat bunga,yang tergeletak di tanah.
Bu Sumi, langsung mendekati Ayunda. Ia juga menjelaskan semuanya apa yang terjadi, sedangkan Ayunda. Hanya menggelengkan pelan.
"Hendri,tolong buang juga kacanya yang di tanah. Di sini banyak anak-anak, takutnya kena kaki mereka". Tegur Ayunda.
"Iya,benar Hendri. Awas aja,kalau kena kaki anakku. Bakalan minta ganti rugi,aku". Sinis tetangga Ayunda.
"Benar bu,kita serbu aja ketempat nya sekalian". Sahut ibu-ibu lainnya.
"Iyaaaaa....aku bakalan membersihkan semuanya,apa perlu sampai mengkilat". Geram Hendri, kepalanya sudah nyut-nyutan karena mendengar perkataan ibu-ibu.
"jangan iya-iya aja, tapi di kerjakan dan dilakukan". Gerutu Ayunda,ia langsung masuk ke dalam rumah dan mengunci dari dalam. Takutnya Hendri, menyelonong masuk ke dalam rumahnya. Lebih baik, cari aman dulu.
Keringat bercucuran membasahi kening Hendri, tangan terasa perih kena pecahan kaca. Akhirnya mobil miliknya di bawa seseorang, untuk di perbaiki.
Hendri, langsung terduduk di sofa teras rumah Ayunda. Ia merasakan lelah di tubuhnya. "Ayundaaa....". Teriak Hendri,dari luar.
Ia juga beberapa kali teriak-teriak, sampai-sampai tetangganya Ayunda. Ngomel-ngomel karena mendengar teriakkan Hendri, anaknya bangun.
Byuurrrrr......
Satu ember,di siram ke arah Hendri. Yang tengah bersantai di teras rumah Ayunda.
Uhukk... uhuukk...uhukkk..
"Apa-apaan ini,bu. Kenapa menyirami aku. Aku bukan tanaman". Bentak Hendri.
Ayunda, langsung cekikikan bersamaan lainnya. Saat melihat Hendri,di siram oleh tetangga Ayunda. Tetangga Ayunda, begitu kesal karena teriakkannya.
__ADS_1
"Apaaa,ha....apa kurang aku siram satu ember,apa perlu aku lempar kamu ke dalam sumur sekalian. Punya mulut teriak-teriak, liat anakku jadi bangun tidur". Ucap tetangga Ayunda, seorang ibu rumah tangga. Badannya sangat besar seperti sumo,tak main-main. Ia juga berkacak pinggang dan menatap Hendri,penuh dengan amarah.
Hendri, langsung bergidik ngeri menatap seorang ibu-ibu di hadapannya seperti sumo. Ia mengusap wajahnya yang sudah basah,bukan karena keringat melainkan di siram satu ember.