
"Makan yang sabar,Lai. Aku gak bakalan ngambil makanan kamu". Kekehnya Al, melihat Laila begitu lahap makan malam mereka.
Bagaimana tidak lapar, seharian hanya makan roti dan minum air. Seakan-akan tenggorokan sangat susah menelan makanan, nafsu makannya hilang seketika. Apa lagi tenaganya terkuras habis,karena menangis terus menerus. Di tambah lagi pikiran yang kacau,ujian yang begitu berat untuknya.
Setelah pikirannya tenang, barulah dia merasakan lapar. Apa lagi semenjak masuk di apartemen milik Al,dia mulai tenang.
"Seharian aku,cuman makan roti sama minum air putih aja. Gak nafsu makan aku,Al. Sumpah,pikiranku buntu. Sekejam itu takdir hidupku,menikah dengan pria yang tidak aku kenal. Bahkan tidak ada cinta sama sekali,yang lebih parahnya dia sudah memiliki istri. Entah kenapa tiba-tiba terjadi pada ku, ini tidak adil kepadaku Al". Keluh Laila,ia sudah selesai makan. Kini air matanya luruh lagi, padahal barusan dia juga menangis sambil bercerita tentang kejadian ini.
"jika mereka memang benar menjebak mu, pasti semuanya terbongkar. Jangan putus asa, berdoalah". Bujuk Al,ia tersenyum manis.
"Sampai kapan Al, sedangkan aku hanya diam tidak terbuat apa-apa. Lambat-laun pasti aku bakalan di temukan". Laila, terlihat gelisah.
"Mereka tidak akan pernah menemukan dirimu, selagi masih bersamaku Laila. Percayalah,padaku". Pinta Al, dengan nada lembut.
"Sampai kapan Al,aku selalu bersembunyi di belakangmu. Berapa banyak lagi,kau membantuku. Apakah kamu, benar-benar tulus membantuku. Apakah tidak ada selimut di balik ini semua,kamu rela membantuku sejauh ini". Laila,takut jika Al tidak setulus hatinya membantu dirinya.
"Lai,aku membantumu dengan setulus hati. Tidak ada niatan lain,kita teman". Al,merasa perih di hatinya saat mengeluarkan kata teman. Aku memang mencintaimu Laila,sejak dulu aku menyukaimu. Percayalah,aku membantumu setulus hatiku. Inilah aku, mencintaimu sangat dalam bahkan aku selalu menenangkan perasaanku agar tidak terobsesi.
"Maafkan aku,Al. Selalu merepotkan kamu,bahkan kedua orangtuamu. Aku janji akan mencicil dan mengganti rugi semuanya. Walaupun aku,mencicil seumur hidup karena jumlahnya terlalu banyak. Terimakasih atas semuanya,Al". Laila, sangat bersyukur atas pertolongan Al dan keluarganya.
"Sama-sama Laila. Terserah kamu,mau cicil atau gaknya. Ketahuilah bahwa kami, menolong mu dengan ikhlas. Mereka yang sudah menindas mu, seenaknya saja bahkan menghancurkan hidup seseorang. Itu tidak bisa di biarkan Laila,harus di beri pelajaran. Agar kedepannya, tidak ada korban lagi". Ucap Al,agar Laila tidak memikirkan hal yang aneh-aneh lagi. Al,tahu jika Laila gelisah karena keluarganya membantu dirinya tanpa perantara apapun. Ia takut ujung-ujungnya kalau terjadi sesuatu.
Apa yang di katakan Al, emang benar. Seharusnya aku,tidak memikirkan buruk sangka terhadap Al dan kedua orangtuanya. Seharusnya aku, bersyukur masih ada yang peduli dan sayang sama aku. Makasih banyak Al, apapun yang kalian mau dariku. Insyaallah,aku akan siap melakukan apapun. Asalkan jangan aneh-aneh saja,batin Laila. "Makasih banyak,Al. Aku sampai tidak tahu, kedepannya bagaimana membalas balas budi kalian. Tapi,aku bersedia jika bersih-bersih di rumah ibumu atau apartemen mu. Gak di bayar gak papa,anggap saja aku balas budi kepada kalian".
"Laila,aku sayang. Gemesnya minta ampun,bisa tidak jangan berpikir macam-macam. Hemmm...". Ucap Al, terlihat sangat menggemaskan kepada Laila. Akhirnya Al, mencubit kedua pipi Laila. Entah darimana, memberanikan dirinya mengatakan Laila sayang. Apakah mulutnya kecoplosan lagi,kini mereka saling pandang terdiam seketika. suasana berubah menjadi canggung seperti ini.
__ADS_1
Sedangkan Laila, mendengar ucapan Al dengan sebutan kata sayang. Membuat hatinya berdebar-debar,entah ada perasaan aneh.
"Astaga.... sebentar aku, pergi ke bawah dulu. Aku ada membelikan beberapa pakaian ganti untukmu, Laila. Kamu tunggu di sini yah". Al, mencairkan suasana tegang. Berrr....hampir saja,aku lahap bibirnya Laila.
Al, langsung bergegas pergi meninggalkan Laila yang masih mematung. Ia langsung menyentuh dadanya,ada saarr...serrr... Di hatinya saat Al, menyebutkan kata sayang kepadanya di tambah lagi dengan tatapan tadi. "Gak mungkin kan,Al serius ngomongnya. Pasti dia cuman bercanda,biar aku gak memikirkan masalah ini. Mana mungkin Al,mau sama aku. Toh,kami beda kasta". Gumam Laila,ia menepis perasaan tersebut.
Beberapa menit kemudian. Akhirnya Al,sudah di depan pintu apartemennya. Ia juga beberapa membawa paper bag, berisi pakaian ganti untuk Laila. Al, tiba-tiba ragu masuk ke dalam. Rasanya tidak enak,karena kepikiran tadi. Entah kenapa dia sampai-sampai kecoplosan, takutnya Laila marah kepadanya.
Al, berlahan-lahan membuka pintu. Kepalanya masuk duluan, calingukan mencari Laila. Ternyata Laila,masih duduk di sofa sambil menonton televisi.
Laila, tersenyum sumringah melihat kedatangan Al dan membawa paper bag di tangannya.
"Untukmu Laila,kamukan gak bawa apa-apa. Cuman bawa ponsel saja,siapa tahu kamu. Hemmm...mau ganti pakaian, tenang aku beli satu set kok". Kekehnya Al,ia takut Laila marah.
Apa satu set, jangan-jangan Al membeli aset pribadi milik perempuan juga. Ternyata Al, benar-benar pria idaman. "Makasih banyak Al, tapi akunya gak nyaman jadinya".
"Makasih banyak Al,". Laila, tersipu malu-malu karena Al memperlakukan begitu istimewa untuknya.
Lai,gak tahu aja sih? bagaimana pengorbanan Al.
Al, terlihat sangat bahagia karena berhasil mengikuti saran ayahnya.
Flashback.....
(Pah, bantu aku dong. Buat menyelesaikan masalah Laila. Kasian dia pah)
__ADS_1
(Ck,gak mamahnya gak anaknya sama saja. Kalau ada apa-apanya, pasti lari ke papah. Emangnya papahmu,ini dukun. Hemmm)
(Iya,papah emang kaya dukun gak lebih gak kurang. Aissss... bantulah pah,ini juga mamah minta. Masa gak mau bantu, permintaan dari mamah. Nanti gak dapat jatah malam,tau rasa)
(Apa kamu menyukai Laila,boy)
(Hahahaha... apakah cintamu bertepuk sebelah tangan,boy)
J, mengejek anaknya karena memang benar cinta anaknya bertepuk sebelah tangan.
(Gak usah mengejek segala pah, intinya bantuin)
(Baiklah,papah akan membantumu. Ingat boy,cinta tanpa perjuangan untuk mendapatkan tidak akan berhasil. Buktinya mamahmu, selalu papah paksa dan Pepet terus akhirnya luluh juga. Papah,ada rencana untuk mu boy. Papah,yakin ini akan berhasil dan mampu membuat Laila luluh padamu. Makanya belajar sama papah, menaklukkan hati perempuan. Suhu ini,boy)
(Hemmm... terserah papah deh,cepat beritahu Al)
(Papah,akan menyuruh mamahmu. Membujuk Laila,agar tinggal bersamamu di apartemen. Nah,itu kesempatan untuk mencari perhatian kepadanya, nanti mamahmu akan mengatur segalanya. Biar Laila,mau tinggal bersama mu. Ingat Al, perempuan itu perlu di perhatikan. Hatinya akan luluh,jika kamu menjadi pria idaman)
(Pria idaman? Maksudnya bagaimana pah)
(Hehehehe... sebelum kau, menjemput Laila. Belilah dulu, perlengkapan pakaian ganti untuk Laila. Termasuk aset berharga miliknya,kau belilah beberapa ukuran. Kalau kamu,beli hanya satu ukuran takutnya tidak pas. Papah,yakin kamu tidak pernah menyentuh aset berharga miliknya kan. Nah,kamu berikan kepadanya. Papah,yakin hati Laila mulai meleleh untukmu. Apa lagi,atas bantuan mu. Percayalah pada papahmu,ini. satu lagi boy,buatlah listrik mati. bakalan dapat sensasi berbeda, ikuti saran papahmu)
(Oke, makasih papahku sayang. Bay..)
flashback off....
__ADS_1
Begitulah percakapan antara Al dan J,di telpon. Akhirnya Al, melakukan saran dari ayahnya. listrik mati? ada apa, dengan listrik mati,batin Al. ia bertanya-tanya mengapa ayahnya menyarankan listrik mati. seketika ia memiliki ide, cemerlang...ayooo... apakah itu.....