
"mana Al Yu,". Tanya bu RT. Ia melihat Ayunda, berangkat dengan ibu-ibu lainnya ke pernikahan yang tak jauh dari tempat tinggalnya.
"Al,pagi tadi sudah di jemput dama bibi Viana. Katanya mau jalan-jalan sama yang lainnya," jawab Ayunda.
"Oh,yuk. Kita makan-makan dulu,ayo.. ibu-ibu sekalian,". Ajak bu RT.
"Nanti sajalah makannya, mending foto-foto dulu sama manten. Hilang nih, lipstik kalau makan dulu,". Sahut bu sumi.
"Ehh...benar,mana aku lupa bawa lipstik lagi. Foto-foto dulu sama bu Arinnya,". Timpal lainnya.
"Benar bu,RT. Aku juga lupa bawa lipstik,nanti fotonya kurang bagus,". Kekeh Ayunda.
Bu RT,hanya mengangguk pelan. Mereka semua para ibu-ibu, langsung naik ke pelaminan untuk sesi foto-foto dan mengucapkan selamat atas pernikahan kepada kedua mempelai.
"semoga cepat-cepat dapat jodoh,". Bisik mempelai wanita kepada Ayunda. Mendapatkan bisikkan dari pengantin,ia hanya cengengesan saja. "Ini ambil,katanya bisa cepat-cepat nikah,". Mempelai wanita itu memberikan kembang melati.
"Hehehe... makasih yah, selamat buatmu. Samawa yah,". Ayunda, mengambil pemberian dari mempelai wanitanya.
Selesai acara foto-foto. Mereka langsung mencicipi hidangan bermacam-macam menu.
"Ayo, dimakan ibu-ibu. Jangan sungkan lo,kalau perlu cicipin semuanya,". Kata bu Arin, beliau adalah ibu kandung sang mempelai wanita.
Ayunda,hanya mengambil satu menu. Baginya ini sudah cukup,tapi tetap saja bu Arin. Mengambilkan beberapa menu kepada Ayunda. "Kalau gak habis,di bawa pulang aja Yu. Bawa sama piringnya sekalian,gampang rumah kita dekat buat balikin piringnya,". Kekeh bu Arin.
"Gak,bu. Makasih sudah di ambilkan,padahal ini kelebihan,". Ucap Ayunda, cekikikan melihat beberapa menu di mejanya. "Rakus amat aku yah,". Gumamnya.
"Terima aja Yu, rezeki,". Sahut bu sumi.
Ayunda, melihat sesosok madu Ambar. Dia adalah teman kelasnya dulu,Cici Hayandari. Ia sedang bergelut manja dengan Johan, maklum masih manis-manisnya kasmaran pengantin baru.
Ayunda,hanya menyungging senyuman kecilnya. ternyata lawan Ambar,boleh juga. Aku yakin, Ambar selalu kalah dengan Cici. Aku tau betul jika Cici,ratu drama,batin Ayunda
Beruntung sekali. Cici dan Johan, duduk disebelah Ayunda. Ia juga melihat Ambar,yang tatapan sinis kepada suaminya dan madunya itu. Saat Johan dan Cici,duduk.
Ayunda, langsung menyapa Cici teman lamanya. Ia juga berniat untuk memanasi Ambar.
"Cici,apa kabar," senyum merekah Ayunda. Ia mencolek lengan Cici, sehingga ia menengok ke belakang.
__ADS_1
"Ehh... Ayu-Ayunda yah,duh...lama kita gak ketemu, pangling aku. Kabarku sudah pasti selalu baik,". Senyum merekah Cici. Sial, kenapa Ayunda, tambah cantik aja.pasti mas, Johan langsung semer mesem liat Ayunda. Cici, langsung mendelik ke arah suaminya. Sedari tadi menatap Ayunda, tanpa berkedip pun ia juga langsung menyenggol kaki Johan.
"Ehh... tentu kita sudah lama gak ketemu, bahkan bertahun-tahun. Johan,lama juga kita gak ketemu. Aku dengar-dengar kamu jadi juragan sapi yah, gantiin bapakmu,". Senyum kecil di sudut bibirnya Ayunda.
"Kalian saling kenal, kapan,". Tanya Cici, wajahnya langsung cemberut.
Johan,hanya cengar-cengir saat mendengar perkataan ibu-ibu.
"Ahh... kamu gak tau yah, dulu pak Tejo. Alm. Bapaknya Johan, pernah melamar Ayunda lah,". Sahut bu Lela,yang didekat mereka.
"Tentu saja Ayunda dan Johan,saling kenal,". Sambung bu Sumi.
Cici, menatap tajam ke arah Ayunda. Ia takut jika sang Suaminya tergoda dengan Ayunda. "Oh, mungkin aku kurang bertanya-tanya dengan suamiku,". Cici, langsung merangkul tangan Johan.
"apa kamu sudah menikah lagi Ayunda,aku dengar-dengar kamu sudah lama menjanda,". Kedip mata Johan.
Huuuu... ternyata sifat ayahnya menurunkan ke anaknya juga,batin Ayunda. "Alhamdulillah,belum,". Jawab Ayunda.
"Mas,kamu kenapa-kenapa nanya-nanya begitu sama Ayunda,". Bisik Cici,namun masih terdengar oleh Ayunda.
Dengan hati dongkol. Cici, langsung beranjak pergi meninggalkan meja Yang langsung di susul oleh Johan. "Permisi yah,bu dan Ayunda. Biasa ngambek kan,". Kekeh Johan .
Saat Johan, melewati meja Ambar. Tangannya langsung di cekal Ambar. "Mas, tunggu...!!! Biarin dia pulang sendiri,jangan manjakan dia mas," cegah Ambar.
Johan, langsung menuruti kemauan istri pertamanya. Saat ini Ambar, sedang hamil anak keduanya.
Entah kena angin apa Ambar, mendekati Ayunda. Yang tengah menonton ibu-ibu sedang naik panggung dan bernyanyi, walaupun suara pas-pasan tentu saja menghibur para tamu dan lainnya.
"Kasian,satu atap tapi gak di nikahin,". Sindir Ambar,kepada Ayunda.
"Mulut di jaga,kamu sedang hamil. Aku juga marasa kasian, bagaimana rasanya di madu? Enak,apa lagi aku lihat suamimu itu pilih kasih. Kasian,dapat madu seperti Cici," sinis Ayunda,ia tak kalah menyinggung perasaan Ambar. "Bagaimana? Nikmatilah karmamu Mbar,". Kekeh Ayunda.
Ambar, mendengus kesal kepada Ayunda. Matanya mulai berkaca-kaca. "Kamu iri denganku,bukan,".
"Ckckck... apa yang aku irikan Ambar,apa karena kamu memiliki suami. Asal kamu tahu yah, aku bisa memiliki suami jauh lebih kaya dan tampan dari suami kamu yang burik itu. Lagian aku lihat Johan, memainkan matanya yang centil untuk menggodaku,". Ayunda, menatap tajam ke Ambar.
"Awas kamu Ayunda,jangan coba-coba mendekati suamiku,". Bentak Ambar.
__ADS_1
Ayunda, langsung menahan rasa tawanya. "Apa...? Apa aku,salah dengar. Jangan dekati suamimu,aduh...yang ada suami kamu itu mata keranjang, liatlah perut mu membesar tapi perhatian Johan. Lebih banyak ke arah Cici,benar sih...kalau Cici,lebih menarik daripada kamu. Makanya jadi orang jangan sok belagu,kena karma tau rasa,". Ucap Ayunda,ia tersenyum puas.
Ambar, mengepalkan kedua tangannya di balik baju. Sial,aku kalah dengan Ayunda. Lebih baik aku pergi, daripada dia selalu memojokkan diriku.
Ayunda, menggelengkan kepalanya saat kepergian Ambar. Ia mencoba menenangkan perasaannya,saat ini sedang terbawa emosi.
******
Ambar, begitu kesal mendengar ucapan Ayunda. Apa yang di katakan nya memang benar,jika sang suami pilih kasih.
"Aahhh...ahhh..., hemmmmm...,". Suara desa-han menggema di kamar sang madu.
Ambar, semakin memanas mendengar suara madu dan Suaminya saling bersahutan.
Usia kandungannya sudah beranjak tujuh bulan,selama hamil. Ia gak Pernah di belai-belai Johan.
"Mass....hmmmm..aahhh...terussss...uuuhh...enakkk...ahhh,". Desa-han Cici,ia mengeliyat di bawah Kungkungan Johan.
Braakkkk....
Pintu kamar terbuka terlihat begitu jelas. Johan dan Cici, saling bercinta di atas ranjang. Mata Johan, membelalak melihat Ambar. Di ambang pintu kamar terbuka.
"Kamu.....!!!keluuaaar..
Jangan menganggu kesenangan ku Ambar,". Teriak Johan,namun masih setia memompa tubuh Cici.
Air mata Ambar,luruh begitu saja. "Mas...!!!!selama ini aku diam mas,kamu tidak pernah adil dengan istri-istri mu. Selama aku menikah,kamu tidak pernah membelaiku,". Teriak Ambar.
"Shhh...ahhh.... enakkk,bangett....apa kamu ingin ahhh... melihat...kami bercinta...,". Desis Cici,ia memandang wajah Ambar. gunung kembar miliknya juga ikut turun naik.
"Keluaaaarrr...apa kamu ingin melihat kami bercinta ha," teriak Johan.
"Mas,kamu itu benar-benar keterlaluan. Aku ini istri mu juga mas,jangan lupa itu,". Bentak Ambar. Ia mengepalkan kedua tangannya.
"Kalau kamu pengen,tinggal pala terong di dapur sana. Aku lebih tergoda dengan istri mudaku,daripada kamu yang tak ada selera sedikit pun,". Decak Johan.
Dengan hati memanas, mendengar suara Suaminya saat mendapatkan keinginannya. "Aaaargghhh.....ahhh...,". Erangan panjang keluar di mulut Johan. ia juga melu-mat bibir sang madu dan memainkan kedua gunung kembar milik sang madu
__ADS_1
Ambar, masih setia melihat aksi mereka. Tentu saja di bagian bawahnya bergedut- gedut dan basah. Namun sang suami tak mengerti apa keinginannya. Ia langsung keluar dari kamar tersebut. Ia berlari menuju kamar tidurnya sendiri.