
"bagaimana Hans, apa kamu sudah menyelidikinya? Dan hasilnya ada,". Tanya Zense,
Sepagi ini Hans, langsung ke rumah Ayunda. Dalam hati Hans,ia masih was-was takutnya SUSILAWANTO ada.
"Masih dalam penyelidikan,tenang saja aku pastikan secepatnya ketahuan siapa yang sudah berani mengganggu Ayunda,". Jawab Hans,sambil menghirup kopi yang baru saja di buatkan Ayunda.
"Aku percaya dengan mu,". Ujar Zense. "Sayang, bagaimana kita tinggal di mansionku saja,".
"Tapi,rumahku di sini bagaimana. Sayangkan di tinggal,". Jawabnya.
"Aku yakin, mereka pasti menerormu lagi. Lebih baik ke mansionku saja,gak enak kalau inboxing di ganggu,". Kekeh Zense."auuu...sakit,".
Zense, kena cubit di paha oleh Ayunda.
Karena dia sembarangan berbicara di hadapan Hans.
"Kamu ini,". Geram Ayunda.
"Santai saja sayang! Hans, sudah biasa mendengar perkataan seperti itu. Jadi anggap saja dia tidak ada,". Ujar Zense, dengan menaikkan alisnya.
"tapi,kalau udah ketahuan siapa meneror ku. Kita balik lagi yah,". Pinta Ayunda.
"Iya, setidaknya hanya sementara sayang,".
"Ok,aku siap-siap dulu,". Ayunda, beranjak pergi meninggalkan ruang tamu.
Sesampai di dalam kamar. Ia juga mengambil koper dan membuat baju seperlunya.
"Kenapa perasaanku gak enak yah," gumam Ayunda.
Sebenarnya dia tidak mau pergi dari rumah ini.mau bagaimana lagi itu permintaan sang suami.
"Semoga saja cepat-cepat tertangkap siapa yang mengusikku,". Ucap Ayunda.
Ting...
Sebuah pesan masuk di ponselnya.
[Yu,aku ingin bertemu dengan mu. Datanglah ke rumahku,ini sangat penting suamimu itu bukan orang baik,]. Hendrik.
"Apa-apaan sih,kamu mas. Bilang aja irikan,jangan harap aku percaya,". Decak Ayunda.
[Bilang saja kamu tak rela aku menikah,bukan]
Secepatnya Ayunda,membalas pesan mantan suaminya itu.
[plis...sekali ini saja,kamu percaya kepadaku]. Hendri.
Ayunda,tak berniat lagi membalas pesan dari mantan suaminya itu. Ia bahkan menghapus pesan Hendri,dia takut kalau Zense. Malah marah kepada dirinya.
Satu koper sudah siap untuk di bawa pergi.
"Sudah siap sayang,". Ucap Zense. Ia mengambil alih membawa koper yang di tangan Ayunda.
__ADS_1
Saat Ayunda, keluar dari rumah dengan langkah cepat bu Sumi, menghampiri Ayunda.
"Wah...mau kemana Yu,". Tanya bi Sumi.
"Mau pergi honeymoon bu,". Sahut cepat Zense,dari belakang.
Deggg... honeymoon? Tapi Zense,tidak cerita dulu dengan ku,batin Ayunda.
"Iya, iy-iya.kami mau honeymoon,". Kekeh Ayunda,namun di hatinya ada rasa janggal.
"Semoga cepat dapat momongan yah yu. Ibu cuman bisa mendoakan kamu, hati-hati nak,". Lirih bu Sumi.
Ayunda, tersenyum kecil."Aammiinn... semoga cepat hamil,".
"Berapa lama kamu honeymoon nya Yu,". Tanya bu Halimah,yang baru saja datang.
"Terserah Ayunda,dong. Dasar kepoan,". Sahut bu Sumi.
"Jangan lupa oleh-olehnya,". Timpal Sinta.
"Tenang saja,kami bakalan beli oleh-oleh untuk ibu-ibu di sini,". Ucap Zense. "Ayo,sayang,".
Ayunda, mengangguk pelan. "Kami pergi dulu bu, assalamualaikum,".
"Wa'alaikum salam,". Sahut bersamaan.
Di perjalanan Ayunda, tengah gelisah.
"Maaf,sayang. Aku pikir-pikir mending kita honeymoon,". Jawab Zense.
"Tapi, beberapa hari lagi pernikahan Melisa. Masa kita gak hadir sih,". Wajah Ayunda, cemberut.
"Nanti mereka bakalan nyusul,". Jawab santai Zense.
"awas,bohong lagi! Tapi kita honeymoon dimana,". Tanyanya.
"Ciyeehh...kepoan,mirip banget kaya ibu-ibu dekat rumahmu,". Ejek sang suami.
"Ck, bakalan gak dapat jatah nanti malam,". Ancam Ayunda.
"Eehh...gak bisa gitu dong...ini kejutan,". Senyum semerik Zense.
"Elehh..gaje,". Jawab Ayunda.
"Kalau ketemu mau di apakan orang itu,". Tanya Hans,yang sambil berkemudi.
"Aku bikin perkedel,terus aku kasih ke kalian,aku yakin perkedel dagingnya empuk dan lama baru habis,sampai lebaran". Decak Ayunda.
"Ngeriii... psikopat,". Sahut Zense dan Hans
"Kalau dapat,kamu tahan dulu. Nunggu kita pulang honeymoon,". Kekeh Zense,sambil mencium bibir istrinya.
Ayunda, langsung menepis ciuman sang suami.
__ADS_1
"Ngambekkk... astagaaa...,". Zense, mengusap wajahnya dengan kasar.
Ngambek aja lah,aku pengen tau bagaimana dia membujuk ku, batin Ayunda,dia menyungging senyum kecilnya.
"Kasih gulali aja bos,yakin istri bos gak ngambek,". Ujar Hans.
"Gulali? Gulali itu apa yang,". Zense, menyenggol lengan Ayunda. "Mau gulali,nanti aku cari,".
Ayunda,menyimpitkan bola matanya. Suami katro,gulali gak tau. sekertaris sama bos sama aja bikin kesel,batin Ayunda.
"Ya,udah carikan aku gulali tapi belang harimau.kalau gak dapat, berarti minggu depan baru inboxing. Kalau dapat aku yang memimpin,". Tantang Ayunda. "Dan satu lagi,gambarnya juga harimau,".
"Hans,apa kau dengar perkataan istri ku. Kau bantu aku demi perkasuran,". Zense,menendang kursi yang di duduki Hans.
"Jangan gila Yu,sejak kapan gulali ada semacam itu,". Kata Hans.sungguh membanggongkan permintaan istri bos-nya.
Ck,nyesal aku tadi nyebut gulali,batin Hans.
"Terserah aku dong Hans,mulai saat ini aku lah yang pertama menciptakan gulali harimau vs sama gambarnya,". Sungut Ayunda. "Sekalian bawa bos kamu ini,agar dia tau apa itu gulali,".
"Tenang sayang,apapun yang kamu mau pasti raja Ayunda, akan mengambulkan,". Zense, terlihat sumringan.
"Bos,coba anda cari tahu di goggle. Apa itu gulali,aku yakin anda akan menyesal sudah mengucapkan selalu mengabulkan permintaan Ayunda,". Decak Hans.
Dengan rasa penasaran Zense,mencari di google.ia pun membaca apa itu gulali,dimana orang sering menjualnya juga. Dengan tatapan tajam ke arah istrinya.
"No...aku tidak setuju! kamu makan gulali sayang, coba kamu baca dimana orang sering menjualnya. Ini makanan tidak heginis sayang, nanti kamu sakit perut. Aku yakin,banyak debu-debu nyangkut di gulalinya,". Jelas Zense.
"Emang aku yang makan,". Tanya Ayunda,ia melirik Hans.
Jangan-jangan aku kena getahnya,batin Hans.
"Aahhh...kalau yang itu,gak papa sayang. Nanti aku dan Hans, cari,". Ujar Zense,ia langsung paham maksud lirikkan sang istri.
"Bagus,makin sayang aku sama kamu,". Senyum merekah di wajah Ayunda.
"kenapa ha, maksud kamu aku yang makan,". tanya Hans.
"kalau bukan kamu siapa lagi ha?,". decak Zense.
"Oh..maksud bos,aku dan Ayunda saja yang ada di dalam mobil ini,terus bos bukan manusia,". ucap Hans.
"wah....gilaaaa,kamu memang berani Hans, mengatakan bos kamu sendiri, makhluk lain. satu kata untukmu, pertahankan gelar mu,". kekeh Ayunda.
Dengan tatapan mata Licik. Zense, langsung ******* bibir pink milik istrinya. Awalnya Ayunda, menolak tapi lama-lama dia mengibangi ciuman sang suami.
Zense, tengah geram sejak dari tadi selalu di tepis ciumannya. "malam ini tak akan aku biarkan kamu lepas,". bisik Zense.
"aku menunggu sayang,". mereka pun melanjutkan ciuman yang sempat tertunda.
"Nasip...nasip....,". Decak Hans.
Ia melihat dari kaca mobil terlihat jelas bos-nya tengah berciuman dengan mesra.
__ADS_1