
Hari demi hari berlalu.
Ayunda,sudah menerima kepergian sang suami. kini usia kandungannya sudah menginjak lima bulan,ia juga menghandlekan perusahaan suaminya.
itupun di bantu oleh teman-temannya Zense. sedangkan Kevin,sudan menjadi sekretaris pribadinya Ayunda.
Di pagi hari,ia sudah berada di mansion. Peninggalan suaminya,ia juga di temani Kevin.
Kevin termasuk sekertaris pribadinya Zense,yang kini menjadi sekertaris pribadinya Ayunda.
"Aku masuk dulu,kau tunggulah di luar,". Ucap Ayunda, kepada Kevin.
Kevin,hanya mengangguk kepala. Ia meninggal Ayunda,di ruangan kerja Zense.
Ini adalah pertama kalinya Ayunda,masuk keruangan kerja pribadi suaminya.
Bermacam-macam lemari,laci dan lainnya ia membuka. Tibalah di atas lemari lumayan tinggi,ada sebuah peti lumayan besar. Tentu saja hati Ayunda, penuh penasaran.
Ia menggunakan kursi agar bisa mengambil peti tersebut. "Kayanya gak berat nih peti,isinya apa yah? Buka sajalah,". Gumam Ayunda.
Saat peti tersebut sudah di lantai,namun sayangnya malah di gembok. "Aiiisss...kenapa di gembok segala,mana lagi kuncinya,". Ayunda,menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Dengan peluh di kening, Ayunda. Ia masih mencari-cari kunci,agar dia bisa membuka peti tersebut ."apa perlu bantuan Kevin,".
Ayunda, langsung bergegas mencari Kevin. Agar dia bisa membantunya,membuka peti yang penuh tanda tanya.
Selepas menemukan Kevin,ia langsung membawanya ke ruangan kerja Zense.
"Peti apa ini?aku tidak pernah liat,". Ucap Kevin.
Terlihat penuh dengan debu,peti berwarna keemasan masih terlihat sangat bagus.
"Aku menemukan di atas lemari, aku yang membawanya ke bawah,". Kata Ayunda.
"Aku sudah bilang,bukan! Jangan angkat barang terlalu berat. Kamu sedang hamil,aku tidak mau terjadi apa-apa bocah yang di dalan perut mu itu,". Tegas kevin.
"hemmm...kau sudah berapa kali mengatakannya,mana mungkin aku lupa. Ini hanya peti kecil,ringan tidak berat,". Elak Ayunda.
"Tunggulah,aku mau cari sesuatu di gudang. siapa tau ada sesuatu yang dapat digunakan,". Kevin, langsung pergi meninggalkan Ayunda, menuju gudang.
Ayunda, terdiam sejenak saat menatap foto Alm. Suaminya.
__ADS_1
"Aku sangat merindukanmu,sayang. Liatlah perut ku mulai membuncit,usia kandungan ku saat lima bulan sayang. Seandainya kamu ada,pasti setiap hari mengelus-elus perutku ini,". Lirih Ayunda, air mata mengalir di pipi mulusnya. Secepatnya ia hapus, sebelum Kevin datang.
Tak...tokkk..takk..krekk..
Kevin memukul gembok sampai terbuka, berlahan-lahan Kevin membuka peti.
Saat di buka hanya ada foto album bertulisan "keluarga"
Album foto terlihat jelas sudah usang.
Tangan Ayunda,bergetar saat memegang figura foto.
"Katakan Kevin,apa ini,". Mata Ayunda,mulai berkaca-kaca.
"apa Zense,tidak pernah cerita? Kalau dirinya memiliki saudara kembar,". Kevin, menoleh ke arah Ayunda. Ia terduduk lemas di lantai.
Ayunda,hanya menggeleng kepala. Bertanda dia tahu jika sang suami memiliki saudara kandung kembar .
"Dimana dia sekarang,kenapa Zense tak pernah cerita jika dia memiliki kembaran,". Lirih Ayunda,air matanya menetes di pigura foto.
"Hemm...kau tau bagaimana posesifnya Zense, lagipula kami tidak tau dimana kembaran Zense. Sangat susah menemukannya,di tuan J. Nama aslinya Alvaro Negredo,dia mungkin ganti nama,". Ucap Kevin, dengan santai.
"kenapa? Kenapa dia memiliki kembaran Kevin? Ini sungguh menyayat hatiku, bagaimana nanti jika aku bertemu dengan saudara kembarnya. Kau tau bukan aku sangat merindukan Zense,apa lah dayaku Kevin. Saat melihat wajahnya mirip sekali dengan Zense,". Isak tangis Ayunda,ia mengelus yang ia pegang di tangan.
"Lambat launnya aku akan bertemu kembarannya juga, aku sangat yakin. Dia pasti datang,atau dia akan mengambil semua harta kekayaan saudaranya,". Ucap Ayunda.
"Tidak akan Ayunda,dia tidak akan merampas harta kekayaan milik suamimu. Harta kekayaan Zense,akan di ahli wariskan kepada anak kalian. Aku sudah membereskan semua,tenanglah,". Kevin,mencoba menenangkan hati Ayunda.
Tuan J,yahh... namannya tuan J. Akan aku ingatkan, batin Ayunda.
*****
"Ayunda,aku ingin menikahi mu.kasian anakmu tidak memiliki seorang ayah,aku rela sebagai pengganti ayahnya,". Ucap Hendri,tanpa malu-malu.
Ayunda, langsung menatap tajam ke arah mantan suaminya itu. "Apa mas? Kamu ingin menikahi,karena anakku tidak memiliki seorang ayah, begitu. Jangan harap itu kamu mas,jangan kepedean kamu. Apa kamu kira aku akan menikah lagi,untuk saat ini aku lebih baik sendiri dan fokus dengan anakku,". Tegas Ayunda.
"Ayunda,jangan egois. Liat kejadian ini,kamu adalah jodohku. Buktinya beberapa bulan suamimu meninggal, berarti Tuhan memang adil bukan. Kalau kamu adalah jodohku,". Hendrik, dengan bangganya berkata seperti itu.
Ayunda, mengepalkan tangannya saat mendengar perkataan mantan suaminya. "Jodoh dan maut,itu semua di tangan Tuhan,mas. Tolong jangan mengada-ada aneh-aneh,lebih baik kamu betulkan dirimu dulu mas. kamu seorang laki-laki, seharusnya tak mengemis kepada saudaranya hanya sesuap nasi," ejek Ayunda. ia menyunggingkan senyuman.
"Ck,kau mengejek ku Ayunda.kau tau aku sangat bahagia melihat mu kehilangan suami. Aku tertawa puas,baru sebentar merasakan kebahagiaan. Tiba-tiba hilang tanpa bekas,hahahaahaha...,". Gelak tawa Hendri.
__ADS_1
Plak....
Satu tamparan mendarat di wajah Hendri.
ia tak menyangka jika Ayunda,berani menampar wajahnya. ada rasa pedih di pipinya,ia langsung mengelus bekas tamparan Ayunda.
"Kau menampar ku ha! Dasar wanita ******,". Sengit Hendri. Ia ingin menghantam Ayunda,namun langsung di tendang oleh Kevin.
Buugghhh.... Buugghhh...
Dua tendangan di perut Hendri,ia tersungkur di tanah.
"Aaaargghhh....aaaa,". ringis Hendri.
"Jangan harap kamu bisa menyentuh Ayunda,aku bisa menghajar mu habis-habisan". Tegas Kevin, dengan mata elangnya menyeringai tajam ke arah mantan suami Ayunda.
Semua orang tegang melihat kejadian tersebut,tidak ada yang berani menolong Hendri.
Hendri, terlihat jelas ia meringis kesakitan di tanah. "Aaaargghhh...,". sial, tendangannya begitu keras ini sangat sakit.
Malah ibu-ibu disana menyuruh Kevin,menghajar lagi. Agar Hendri,tak semena-mena terhadap Ayunda.
"haajar lagi nak,".
"kurang itu,biar kapok tu Hendri,". timpal lainnya.
"jijik aku liatnya,gak punya urat malu,". sahut yang lainnya.
"pukul lagi,bikin wajahnya bonyok,". ucap lainnya.
"geramnya aku,liat kamu Hendri,".
"iiisss..sapu mana sapu.. bikin aku benyek-benyek tu wajahmu Hendri,". teriak ibu-ibu yang lainnya.
Ayunda,hanya menyeringai tajam ke arah mantan suaminya, walaupun air matanya mengalir di pipi mulusnya.
"ayo,nak. kita masuk kedalam rumah. jangan kamu ladeni Hendri,ibu juga muak melihatnya,". bu Sumi, langsung menuntut Ayunda.
"aku pergi dulu Yu,ada yang harus aku bereskan,". pamit Kevin.
Ayunda, hanya mengangguk kepalanya. ia masuk ke dalam rumah bersama bu Sumi.
__ADS_1
sedangkan Hendri,ia pulang dengan berjalan gontai. sambil menahan rasa sakit di perutnya, akibat tendang Kevin begitu keras.