
"Liam,aku ingin berbicara padamu". Ucap Al, menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa? Masalah pekerjaan sudah selesai,kalau mau membahas tentang Emily. Aku sibuk,males lagi". Jawab Liam, kepada Al.
Al, menghembuskan nafas beratnya. "Apa kamu selingkuh,saat berpacaran dengan dia".
"Tidak... terserah kamu, percaya atau tidak. Aku pergi, banyak pekerjaan". Liam, meninggalkan Al yang masih terdiam menatap kepergian Liam.
Al, bingung yang mana harus di percayai. Apa benar Emily, berbohong Kepadanya. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, berlalu pergi menuju ruang kerjanya.
"kenapa kusut begitu,". Tanya Herman, kepada Al. Herman tak sengaja bertemu di lobi perusahaan.
"Bingung saja,aku. Kata Liam,dia tidak selingkuh saat berpacaran dengan Emily. Tapi,kata Emily dia selingkuh. Emang Liam, playboy. Kalau dia berbicara dengan ku,tak pernah berbohong". Decak Al,ia memasukan salah satu tangannya ke kantor celana.
"Hemmm... ngapain juga, mikirin masalah itu. Intinya kamu dan Emily, tolong jaga jarak. Aku curiga,niat Emily jangan-jangan tidak baik kepadamu. Sepertinya Emily, perempuan nekad".
"Dia tadi hampir duduk di pangkuan ku, untuk cepat-cepat berdiri akunya". Bisik Al,ia bergidik geli. "Kalau Laila,aku senang banget. Betah malahan". Kekehnya Al.
"Wahhh.. bahaya itu, kata temanku. Ada yang lihat,kalau Emily ke klub malam. Sepertinya Emily, perempuan bebas. Kau harus memberitahu kepada mamahmu,biar mamahmu bisa menyampaikan informasi ini kepada orangtuanya Emily". Kata Herman.
Kenapa Emily, tiba-tiba berubah seperti ini. Apa dia kurang kasih sayang, dari kedua orangtuanya. Masa sih? Tapi, bahaya juga dia selalu menempel kepadaku."hemmm..apa yang kamu katakan memang benar,ya sudah. Aku kembali bekerja dulu,". Pamit Al,yang di angguki oleh Herman.
*******
Sepulang dari kerja. Al, langsung duduk di sofa karena ada tamu.
"Ngapain ke sini,". Tanya Al, kepasa mantan suaminya Ayunda. "Ada apa mah,".
"Nak Al,om ke sini mau. Hemmm.... mau minjam uang". Kata Hendri, tersenyum kecil.
__ADS_1
"Bukannya aku gak mau, meminjamkan kamu uang. Tapi,hutang kamu dulu yang tiga juta saja belum kamu lunasi". Kata Ayunda, kepada mantan suaminya.
"Alahhhh...cuman tiga juta,uang segitu gak berarti bagimu Ayunda. Ayolah, pinjamkan aku uang. Hanya dua juta saja,aku mohon". Pinta Hendri, dengan wajah memelas.
Untung saja J,tidak ada karena ada tugas di distrik militer jadi tak pulang ke rumah. "Ck,uang segitu gak ada apa-apanya bagi kamu, Ayunda. Relakan saja, ikhlaskan saja". Kata Ayunda, mengejek-ejek dengan mencibir bibirnya.
"Om,kami bukan tempat peminjaman uang. Pinjam sana,tempat rentenir atau bank. Mentang-mentang gak ada bunganya,mau minjam ke sini". Sahut Al, dengan kesal. "Untung saja,mamah sudah pisah sama ni orang. Eneekk...banget liat mukanya,uuuuhh....".
"Al, hussssttttt..gak baik ngomong kek gitu,". Tegur Ayunda, menepuk bahu anaknya.
"Makanya Ayunda, anak itu di didik dengan baik. Lihatlah dia berbicara seperti itu, kepadaku yang jauh lebih tua darinya". Decak Hendri,ia menatap tak suka kepada Al. Kapan sih? Suaminya Ayunda, meninggal. Kan aku,bisa ada kesempatan untuk rujuk lagi. Tapi, anak-anaknya bisa jadi penghalang besar.
"Diam, Hendri. Apa yang di katakan anakku,memang benar. Buktinya hutangmu tiga juta saja,tidak bisa bayar. Malah ngutang lagi,kalau minjam cuman sebentar. Ini sudah berbulan-bulan gak kamu bayar, alasannya karena anak. Pinjam saja sana, dengan kakakmu". Uuuhhh.... bertahun-tahun lamanya,masih saja mantan suami nyusahin.
"Kamukan tau,kalau kehidupan sehari-hari kakakku sangat mengkhawatirkan. Mana bisa mereka, meminjamkan uang kepadaku. Apa lagi kakakku Ambar,dia sangat takut kepada suaminya". Keluh Hendri, semoga saja Ayunda iba kepadanya.
"Makanya kerja, walaupun kerja seadanya asalkan halal. Ini kerja,mau yang gak capek. Lupa sama umur" gerutu Ayunda, kepada Hendri. "Untuk kali ini,aku tidak akan meminjamkan uang lagi. Untung suamiku tidak ada,kalau ada. Kamu bakalan di smakcdown olehnya J,biar patah-patah tulangmu"
Ayunda, terkekeh mendengar ucapan mantan suaminya. Sedangkan J, sudah marah dan kelepasan satu tonjokkan melayang di wajah Hendri.
"Begitu besarkah kamu, membenciku Ayunda. padahal dulu kita, pernah menjalini rumah tangga. aku harap suatu hari nanti,di antara kita besanan,". lirih Hendri.
"Uueekkk.....". Al, langsung jijik mendengar perkataan Hendri. Alhamdulillah,mamah tidak memiliki suami seperti dia. anehnya mamah,kok bisa sih? Jatuh cinta model pria beginian.
"Jangan berpikir macam-macam,aku tidak membenci dirimu. tapi, dengan sikap tidak tahu malumu. membuatku muaakk....". Decak Ayunda,ia mengalihkan pandangannya.
"Baiklah,aku pamit". Dengan perasaan galau,karena tidak dapat pinjaman uang dari Ayunda. Hendri, langsung meninggalkan rumah Ayunda. Entah kemana dia mencari pinjaman lagi, untuk menyambung hidupnya.
"Sudah lama,mantan suami mamah ke sini". Tanya Al,ia melonggarkan dasinya.
__ADS_1
"Hemmm... seperti itu lah,dia bermohon-mohon kepada mamah. Mau minjam uang, Karena tidak ada pekerjaan. Padahal ada loh, ngajak kerja. Tapi,dia ogah-ogahan katanya capek ini lah itulah".
"Ehhh... jadi selama ini mamah,kepoin hidupnya mantan suami mamah. Jangan sampai lo, ketahuan papah. Hemm...bisa habis mamah". Seringai tajam Al.
"Mamah,gak kepoin hidupnya. Ngapain juga,kurang kerjaan banget. Mamah,hanya tahu dari orang-orang sekitar. Maklum lah emak-emak gosip". Ck,punya anak sok ngadu segala.
"Benar nih,awas loh...". Al, menggoda ibunya.
"Sana pergi....mandi yang bersih,badanmu bau acem". Ayunda, melempar bantal ke arah Al.
Ting... Nong.....
"Siapa lagi sih? Magrib-magrib bertamu ke rumah ku. Biasanya orang yang bertamu,di waktu magrib. Tandanya tidak baik, kayanya emang benar sih". Ayunda, membuka pintu rumahnya.
Benar saja,apa yang di ucapkan barusan bahwa yang bertamu di waktu magrib adalah tamu yang tidak baik. "Masuk". Ucap Ayunda, cengengesan. Ia mempersilakan Ambar dan Johan, masuk ke dalam rumah. Aaaiss.....benarkan firasat bahwa tamu, yang datang tidak baik. Gerutu Ayunda.
Kenapa mereka tiba-tiba bertemu,di jelang magrib. Agar orang-orang,tidak tahu. Karena waktu magrib, orang-orang pasti masuk ke dalam rumah. Tidak ada yang keluyuran. Bau-baunya tidak enak nih,pasti gak beda jauh sama adiknya tadi,batin Ayunda.
Ambar dan Johan, langsung duduk di sofa empuk milik Ayunda.
Johan dan Ambar, sampai sekarang masih berstatus suami-istri. Johan, juga menceraikan istri lainnya. Kini hanya setia dengan Ambar, kehidupan saat ini. Johan, telah bangkrut dia tak lagi berstatus juragan sapi. Hanya memiliki beberapa sapi saja,yang mampu dipelihara olehnya,tidak seperti dulu. beratus-ratus ekor sapi dan memiliki anak buah untuk membantu.
Beberapa tahun lalu. Johan, tak sanggup membayar hutang kepada J. Terpaksa J, mengambil tanah peternakan sapinya. Kini sudah di bangun, distrik militer. J,dapat untung banyak. Johan, mengetahui hal tersebut. Ia geram kepada suaminya Ayunda,namun tidak bisa berbuat apa-apa.
Johan,pernah menyuruh seseorang membunuh J. Namun tidak bisa,malah dia yang masuk dalam penjara. Hanya beberapa tahun, akhirnya di bebaskan J. Tak luput juga dengan siksaan dari J,sampai sekarang masih terngiang-ngiang di otak Johan. Sampai sekarang bekas jahitan di kaki dan tubuhnya masih berbekas luka karena J.
"Kami meminta bantuan kepada mu, Ayunda. Bisakah pinjamkan uang,tak banyak hanya 100 juta". Ucap Ambar, malu-malu.
Ayunda, menggaruk kepalanya. "Maaf,aku tidak bisa meminjamkan uang kepada kalian. Hendri, barusan juga datang. Persis sama kalian,dia juga mau meminjam uang kepada ku. Tapi,aku tidak bisa. Aku sudah kecewa kepada kalian, karena kalian sudah ingkar janji kepadaku. Apa lagi masa lalu,yang silam. Sedangkan kalian,tidak malu meminjam uang kepadaku. Apa kamu lupa Ambar? Saat Johan, menyuruh seseorang untuk membunuh J. Aku masih,ingat saat itu" tegas Ayunda. Dasar tidak tahu,malu.
__ADS_1
"It-itu hanya masa lalu Ayunda,kami juga meminta maaf sebesar-besarnya kepada kalian". Kata Johan, dengan terbata-bata. Kenapa masa lalu, masih di ungkit-ungkit juga. "Bahkan aku,sudah menikmati jeruji besi dan hukuman dari J".
Ayunda, menatap tajam ke arah mereka berdua. Kepalanya nyut-nyutan karena menghadapi orang-orang, seperti mereka. Yang tidak tahu,malu sama sekali.