
"aku akan keluar negeri, untuk beberapa hari. Ada masalah serius di perusahaan ku,". Terlihat J, sambil menghirup kopi di tangannya.
Ayunda, menyipitkan bola matanya. Ia nampak tak percaya. "Beberapa hari,apa beberapa tahun? Aahh...aku tidak percaya,".
"Ini masalah serius yang harus aku tangani sendiri,". Kata J,lagi.
"Masalah serius tentang perusahaan? Atau ada tugas dari seseorang,". Senyum semerik Ayunda.
J, langsung tercekat saat mendengar ucapan Ayunda. "Maksudmu apa? Tugas,tugas apa? Ehh..kau lucu sekali,aku akan memberikan kamu oleh-oleh,". Senyum kecil di sudut bibirnya J.
Ayunda, menghela nafasnya dengan berat.sesekali ia mendelik ke arah kakak iparnya itu, seakan-akan ia memiliki kecurigaan yang kuat.
"kenapa kamu menatapku seperti itu,apa kamu tidak percaya? Ap karena aku menghilang selama dua tahun yang lalu, membuat mu trauma,". J, mendekati Ayunda.
"Terserah kamu mau apa. Itu bukan urusanku,". Jawab Ayunda,ia tersenyum kecil. "selama kami tidak ada, seperti biasanya aku tinggal di rumah ku sendiri,".
"hemmm...kalau aku balik,kembali lagi ke sini. ada kejutan spesial untukmu nanti,aku harap kamu menyukainya
"benarkah, aku malah takut dengan kejutan mu itu,". ketus Ayunda,ia meninggalkan kakak iparnya yang masih duduk di sofa.
J,hanya mendengus kesal saat Ayunda. sudah menaiki anak tangganya,ingin menghentikan langkahnya. tapi dering, ponselnya berbunyi.
Saat di dalam kamar Ayunda,tengah gembira riang. Selama J,tidak ada. Sudah pasti ia akan pulang kerumah lamanya.
*****
"Aaahhh....tenangnya,". Ayunda, mengeliyat tubuhnya di atas ranjang. Ia memandang wajah tampan anaknya,tentu sekali mirip dengan Zense.
Ayunda,sudah pindah ke rumah lamanya. Yang di penuh para tetangganya.ia keluar dari kamar dan melihat bi Ijah, sedang beres-beres.
"Non,berapa lama tuan J baru balik,". Tanya bi Ijah,kepada Ayunda.
"Hemmmm...tidak tau bi,paling beberapa tahun baru balik lagi,". Kekeh Ayunda. Bi Ijah,hanya manggut-manggut mendengar jawaban dari majikannya.
Pagi hari sangat enak untuk jalan-jalan sekitar rumahnya.
"Kapan datangnya Ayunda,mana Al,". Tanya bu Sumi.
"Al,masih tidur bu. Malam tadi baru datang,". Ayunda, langsung mendekati bu Sumi.
"Yah.. masih tiduran Al,padahal aku kangen sama dia. Lama banget gak datang-datang tukang sayur,". Gerutu bu Sumi.
__ADS_1
"Sabar bu, mungkin agak telat,". Kekeh Ayunda.
Tak berapa lama. Tukang sayur datang dan berhenti di depan rumah bu Sumi.
Tentu saja ibu-ibu di sekitarnya langsung mendekati paman sayur.
Ibu-ibu di sana juga merindukan kehadiran Ayunda. Kalau sudah berkumpul dengan para ibu-ibu,sudah pasti bahan gosip yang di utamakan.
Apa lagi Ayunda,juga sangat Kepo. Bagaimana kondisi mantan suaminya itu."mau tanya bu,apa benar mantan suamiku. Katanya lumpuh,".
"Benar,non. Kemarin waktu saya nongki-nongki didepan rumah tak jauh dari kediaman pak Tejo. Ehh... Alm. Pak Tejo,paman lihat mantan suami non. Dia berjalan dengan satu kaki,satu kakinya pincang gitu," jelas paman yang berjualan sayur.
"Katanya sih. Hendri,mau laporin ke polisi tapi tidak ada yang membantu karena tidak ada bukti dia di culik, walaupun dia babak belur dan patah tulang,". Sahut ibu yang lainnya.
"malang sekali yah,nasipnya Hendri,". Gumam Ayunda, tapi di dalam hatinya. Ia begitu senang mendengar penderitaan sang mantan suami.
"Untuk apa di kasihani, sifatnya saja seperti itu. Aku dengar-dengar nih. Johan,nikah lagi. Jadi Ambar, memiliki madu muda,". Timpal bu Lela.
"Serius bu,wahhh...aku ketinggalan berita ini,lama gak pulang ke sini. Tau-taunya banyak cerita yang panas-panas,". Kekeh Ayunda.
"Aku yakin,kalau Hendri mendengar kamu datang. Pasti dia ke sini,". Ucap ibu yang lainnya.
"Biasanya saya kecoplosan,heheh,". Kekeh paman sayur.
Acara memilih sayur-mayur. Ayunda, langsung pamit pulang. Ia segera mau masak-masak. Sudah lama dia tak masak-masak di rumahnya.
"mamah,aku baru saja video call dengan papah,". Ucap Al.
Ayunda,hanya tersenyum kecil. Ia tau siapa yang di hubungi anaknya tadi,kalau bukan J.
"Aku,juga minta belikan mobil,". Senyum merekah Al.
"bukankah mobil-mobilan kamu banyak sayang,nanti mubajir lo karena kebanyakan,". Ayunda, mengelus pipi gembulnya Al.
"Mamah,aku mau ke tempat bu sumsum. Mau main ke sana,". Ijin Al, secepatnya di angguk sang ibu.
"Hati-hati sayang,jangan main di tengah jalan," kata Ayunda.
"Iya,mom,". Teriak Al,ia terlihat sumringah.
Ayunda, menatap kepergian anaknya mau beranjak empat tahun itu.
__ADS_1
"sepertinya tuan J, selalu memanjakan Al,". Ucap bi Ijah, menemani Ayunda, memasak.
"Begitu bi,dia sering menghabiskan waktu bersama,".
"Apa non,tidak ada rasa dengan tuan J,". Pancing bi Ijah.
"Itu urusan belakangan bi,kalau jodoh pasti bersatu,". Kekeh Ayunda.
"apa bibi tak memikirkan untuk menikah. Tuh,pak Pardi selalu salting saat melihat bibi,". Goda Ayunda. Bi Ijah,hanya tersipu malu-malu.
"Iiihhh...bibi malu-malu, ciyeehh.... jangan-jangan sudah memiliki hubungan,". Delik mata Ayunda.
"Assalamualaikum,". Ucap seseorang di luar.
"Bi, kayanya suara pak Pardi. Cepat susul sana,". Ayunda, mendorong pelan bi Ijah.
"Non,aja. Bibi,hemmm..malu,heheh,". Tolak bi Ijah.
"Apa-apaan sih,bi. Sok malu-malu, biasanya malu-maluin. Emang yah,kalau sedang kasmaran tai kambing pun rasa pizza,". Ledek Ayunda.
"Emang non, pernah makan tai kambing,". Bi Ijah, tercengang mendengar ucapan Ayunda.
"Astagfirullah,bibi. Itu peribahasanya ,mana mungkin aku sampai-sampai memakan tai kambing. Hueekk...,". Ayunda, meninggalkan bi Ijah. Ia langsung menuju ke luar rumah.
Benar saja yang datang adalah pak Pardi,ehem-ehemnya bi Ijah. Entah kapan mereka menjalin hubungan.
"Ehhh...ada non Ayunda,apa kabar non? Lama gak ketemu,". Kekeh pak Pardi, terlihat masih berumur. Ia menggunakan baju satpam yang bertugas menjaga sekitar sini.
"Baik pak,ada apa yah? Lagi mau ngapel bi ijah,nih". Ayunda, terlihat cengengesan. Saat pak Pardi, terlihat malu-malu.
"Ehh...gak non,ini pesanan bi Ijah,". Pak Pardi, memberikan sebuah kresek di tangannya.
Ayunda, langsung mengambil dan melihat apa isinya. Namun hanya beberapa cemilan saja.
"Makasih,pak. Mau mampir dulu gak,biar tak panggilkan bebeb,". Ayunda, mengedipkan matanya.
"Sebenarnya saya malu,non.saya mau ajak Ijah,biasa jalan-jalan kaya anak muda gitu,". Ijin pak Pardi.
Ayunda, melongo mendengar permintaan pak Pardi. "Hemm... malam mingguan nih, ceritanya. Jemput jam tujuh malam pak,kalau masalah ini. Serahkan kepada saya,".
"Makasih,non. Saya,pamit dulu. Pasti datang jam Tujuh malam nanti,". Pak Pardi, terlihat kegirangan malam ini dia bakalan malam mingguan dengan ayang bebz.
__ADS_1