TERLALU LELAH

TERLALU LELAH
Suntikan


__ADS_3

"Sus,apa aku boleh meminjam ponsel mu? Hanya sebentar". Kata Yolanda,saat melihat seorang suster mencek kondisi Yolanda.


"Maaf,bu.sebelum masuk ke dalam ruangan ini,kami tidak di perbolehkan oleh pengawal masuk membawa semacam ponsel, laptop dan lainnya". Jawab suster tersebut.


"Tolong saya sus,ini demi keselamatan saya". Mohon Yolanda, dengan mata berkaca-kaca.


"Maafkan saya bu. Saya,tidak berani". Suster tersebut, langsung meninggalkan ruangan Yolanda.


"Sus,sus....tolong saya". Isak tangisnya Yolanda.


Beberapa menit kemudian.


J,masuk dengan sendirinya. Ia membawa satu kotak sesuatu, seperti botol-botol kecil dan suntikan.


Mata Yolanda, terbalalak apa yang di lakukan J.


"Ka-kau mau apa dengan suntikan itu" tanya Yolanda,ia sangat ketakutan.


"Hanya memberikan pelajaran,". Jawab J, dengan nada dingin. Ia menyuntikkan cairan ke selang infusnya Yolanda, seketika tubuhnya menegang.


"Apa yang kau lakukan,J. Tak cukupkah kamu menyiksa diriku ha? Kau sudah menghancurkan masa depanku, sekarang kau menyiksa habis-habisan ".


"Aku hanya menyuntikkan cairan ini,agar tulang-tulangmu tidak berfungsi dan lemah. Agar,kau tidak bisa bergerak kemana pun,". Senyum semerik J.


"Bunuh saja aku sekarang,J. Agar kamu puas,". Teriak Yolanda, matanya memerah manahan emosi.


"Terlalu mudah bagi mu melewati siksaan dariku, jangan harap. Sebentar lagi,kau akan aku bawa. Lumayan, untuk bahan percobaanku". J, mengulanginya kembali suntikan itu.


Yolanda, meringis kesakitan saat cairan tersebut masuk ke dalam tubuhnya. "Aaarghhh....sakitttt..... sakiiiiitt,kau jaaahaaat".


"Nikmatilah penderitaan mu". Ucap J, sebelum meninggal Yolanda.


*****


Sedangkan paman dan bibinya, Yolanda. Mondar-mandir mencari bantuan,kepada anggota kepolisian dan beberapa kali mencari pengacara terbaik.


Namun semuanya nihil,tidak ada yang mau membantu. Mereka sangat takut,siapa yang merebut hadapi.


Hanya pasrah menerima semuanya. Paman dan bibinya,tidak bisa berbuat apa-apa.


"Om,mohon bantuan kepada mu nak". Kata paman Yolanda,kepada Vera.


"Maaf om,itu semua kesalahannya Yolanda. Tuan J,sudah memberikan surat peringatan tapi di abaikan. Aku tidak mau terlibat dalam kasus ini,apa lagi harus kehilangan apa yang aku miliki. Aku memang sahabatnya, Yolanda. Tapi,dia tidak pernah mendengarkan perkataan ku. Jadi percuma aku membantunya". Tolak Vera,ia langsung meninggalkan pamannya Yolanda.

__ADS_1


Vera, sudah menasehati Yolanda. Mungkin mulutnya sudah berbusa, namun perkataannya selalu di abaikan.


Ceklekk....


Pintu apartemen Yolanda,terbuka.


Terlihat sesosok pria tengah terduduk di sofa. Vera, langsung mendekati dan bertanya siapa pria yang berani-beraninya masuk ke apartemen Yolanda.


"Siapa kau? Berani-beraninya masuk ke apartemen ini,". Delik mata Vera.


"Ak-aku temannya Yolanda, aku sedang mencari Yolanda". Kata Hendri. "Kami ada bisnis".


"Oh, bisnis...!!! Yolanda, sekarang tidak bisa di ganggu. pergilah dari sini,". Usir Vera, langsung.


"Tidak bisa, sebelum aku bertemu Yolanda. Aku membutuhkan dirinya,". Bentak Hendri.


"Yolanda,yang kamu cari. Dia kecelakaan dan berada di rumah sakit,yang sudah tak berdaya". Kata Vera,agar pria di hadapannya secepatnya pergi.


"Aku tidak percaya,kau temannya". Kata Hendri, langsung di angguk Vera.


"Kirimkan aku uang dua puluh juta,sekarang. Nanti kau tagih dengan Yolanda,bilang saja atas nama Hendri ". Pintanya Hendri, tanpa harus menunggu Yolanda.


Mendengar perkataan Hendri. Vera, mengerutkan keningnya. "Yolanda, sekarang jatuh miskin. Dia kehilangan pekerjaan karena J,karena dia menculik istrinya dan sekarang koma di rumah sakit". Jawab Vera,ia menaruh rasa curiga. Siapa pria ini sebenarnya,kalau di lihat-lihat persis kaya tukang rentenir berkedok investasi.


Vera, langsung memberitahukan rumah sakit mana? Hendri, langsung keluar dari apartemen dan langsung ke rumah sakit.


******


Hampir satu jam Hendri, akhirnya sampai juga.


Saat di parkiran mobil,ia melihat seseorang yang di kenal yaitu bi Ijah.


Hendri, mengendap-endap mengikuti bi ijah.


Saat sampai di pintu ruang inap Ayunda. Hendri, langsung mencekal lengan bi ijah.


Mana mungkin dia bisa masuk,ada empat penjaga di pintu masuk.


"Tunggu bi,aku juga ikut". Pinta Hendri, langsung.


"Hendri...?maaf,tidak boleh ada yang ikut". Tolak bibi, mencoba melepaskan cengkraman tangan Hendri.


"Tidak bisa bi....!!! Ayunda, adalah mantan istriku. Aku harus ikut melihatnya,aku akan menjaganya. Semua ini karena J,coba aja gak ada. Ayunda, tidak mungkin seperti ini". Bentak Hendri.

__ADS_1


"Hussssttttt...jangan sembarang bicara kamu". Kata bi Ijah.


"Bi Ijahhh....". Panggil J, langsung mendekati mereka. "Kau..!".


"Tuan,tadi bibi tidak tahu? Kalau Hendri, mengikuti bibi" kata bi Ijah.


"Masuk bi. Dan kamu,lebih baik pergiiiiii....". Tegas J, menatap tajam ke arah mantan suaminya Ayunda.


"Aku berhak atas Ayunda,karena aku suami pertamanya. Yah, walaupun sudah mantan,". Kekehnya. "Aku ingin menemuinya,". Pinta Hendri.


"Tidak perlu,kau bukan orang yang penting bagi Ayunda" J, langsung ke dalam. Ia juga membisik sesuatu ke pengawalnya.


Mungkin melarang Hendri, untuk masuk ke dalam.


Hendri,hanya diam tanpa bersuara apa-apa atau memaksa masuk ke dalam. Melihat wajah pengawalnya begitu seram, bisa-bisa patah tulang jika di lempar mereka.


*****


"Tadi bu sumi,bu RT dan lainnya. Mereka,juga ingin ikut menjenguk keadaan Ayunda". Kata bi Ijah.


"Kenapa gak di bawa bi,". Kata J.


"Ehh... takutnya tuan marah,makanya gak berani bawa. Kalau di bolehkan, mungkin mereka besok bisa ke sini".


"Hemm...tapi jangan dulu memberitahu kepada Al,bi. Takutnya keadaan Al, langsung drop melihat ibunya ". Pinta J.


"Iya tuan, semoga nak Ayunda. Cepat-cepat sadar,". Lirih bi Ijah, menyentuh tangan Ayunda.


Kondisinya masih dalam keadaan koma,tanpa ada perubahan.


"Cepat sembuh nak, Ayunda. Kasian nak, Al. Pasti merindukan ibunya". Isak tangis bi Ijah.


"Tuan,kalau mau pergi. Pergilah,biar bibi yang menjaga Ayunda". Kata bi Ijah. Terlihat jelas, wajah J kusam.


"Makasih bi,aku keluar dulu. Ada sesuatu, mungkin cukup lama". Pinta J, langsung.


"Tidak apa,tuan. Pergilah". Jawab bi Ijah.


J, langsung meninggalkan istrinya dan bi Ijah.


Sedangkan bi Ijah, membaca doa untuk Ayunda. bi Ijah,juga membaca doa tepat di telinga Ayunda. setelah selesai,bi ijah mengelus rambut Ayunda.


"Bibi mohon,cepat bangun nak. ibu-ibu lainnya,juga merindukan kamu. nak Ayunda,kamu pasti senang karena kemarin kamu yang dapat arisan. namamu yang keluar dari botol,uangnya bibi simpan. mau di bawa,bibi takut di copet. bibi,kangen biasanya malam-malam kita ngobrol-ngobrol gak jelas. bahkan santai-santai bersama ibu-ibu yang suka ngerumpi,ada berita hot hot kata bu RT. pasti nak Ayunda, penasaran kan,". kata bi Ijah, sambil menangis.

__ADS_1


"bangun nak, Ayunda.jangan begini,kasian nak Al. pasti sudah mencari ibunya,yang lama tidak pulang,". air mata bi Ijah mengalir deras,ia kesegukan di samping Ayunda.


__ADS_2