TERLALU LELAH

TERLALU LELAH
3 Kain Penutup kepala


__ADS_3

"kamu taruh dimana mereka sayang,". Tanya Ayunda. Mereka menikmati sarapan pagi hari.


"Apa kamu tidak capek,baru pulang liburan kemarin,besokkan bisa sayang,". Jawab Zense


"Aku tu,sudah tidak sabar lagi yang. Mau aku bikin pecel lele aja yang udah macam-macam sama aku,bikin gregetan tau yang,". Ketus Ayunda


"Hmmmm... terserah mau kamu apakan sayang, asalkan kamu senang,". Senyum kecil Zense.


Selesai sarapan pagi. Zense, langsung mengajak Ayunda ke bawah tanah mansion.


"Bibi dan paman kemana sayang,". tanya Ayunda. karena di mansion ini terlihat sepi hanya ada beberapa pelayan saja.


"Mereka ke luar negri,ada yang di cari,". Jawabnya.


"Gelap banget,kamu kaya raya tapi pelit sama lampu di bawah sini,". Ayunda, merasa tubuhnya bergidik ngeri. Gelap hanya di terangi sedikit cahaya,satu persatu anak tangga mereka turuni.


"hati-hati pegangan sayang,". Zense, memegang tangan Ayunda, dengan erat.


"Hans, hati-hati kalau kepeleset nanti kami malah ketawa,". Ayunda dan Zense, cekikikan.


"sial,awas kalian. semoga saja kamu tu yang jatuh," decak Hans.


"kamu mendoakan istri ku Hans,". delik mata Zense, dengan tajam.


"bucin-bucin,". ledek Hans.


Ada sebuah ruangan di bawah mansion begitu luas. Hans, langsung menyalakan lampu begitu sangar terang.


"Bagaimana,apa kurang terang,sayang," senyum semerik Zense.


"jirttt...ini namanya kaya di bawah matahari, terang banget,". jawab Ayunda,asal.


"anggap saja, seperti itu,". timpal Hans.


Hans, langsung mencek sesuatu di balik pintu ruangan tersebut.


Di hadapan mereka sudah ada tiga kursi. Di atas kursi, terdiri tiga orang tengah duduk dengan wajah tertutup.


"Apa mereka yang meneror ku selama ini sayang ,". Tunjuk Ayunda,kepada tiga orang di hadapannya yang masih tertutup kain di kepala masing-masing.


"Benar sayang,kamu akan semakin terkejut siapa mereka semua,". Zense,duduk di tepi meja.


aku yakin,pasti orang-orang terdekat yang berani melakukan hal gila ini,batin Ayunda.

__ADS_1


"Aku bahkan penasaran bagaimana terkejut kamu,saat aku membuka satu kain penutup kepala pria ini," Hans, mendekati salah satu orang yang meneror Ayunda.


"buka pria dulu Hans,". Suruh Zense. Ayunda,sangat penasaran siapa pria tersebut. Dengan berlahan-lahan Hans, membuka penutup kepala.


Deggg...


kenapa aku kepikiran jika itu mantan suamiku,masa iya dia,batin Ayunda. bisa sajakan,saat akad nikah dia tidak ada, sambung Ayunda.


Dalam diri Ayunda,sudah panas dingin bercampur keringat di keningnya. Lengannya meremes tangan Zense.


"Sayang, daripada kamu meremas tanganku.lebih baik meremes ini,". Zense,mengalih tangan Ayunda. Ke benda Pusaka Zense,yang sedikit menonjol namun di selimuti celana panjang.


"Ck,dasar mesum,". Ujar Ayunda.Hans,hanya cengengesan melihat kelakuan mereka berdua.


astagfirullah,ni suami bisa-bisanya mesum di saat seperti ini,gumam Ayunda.


Sreetttt...


anggap aja seperti itu.


Bunyi kain penutup kepala itu di buka.


Deggg...


kenapa pak Tejo, bahkan aku sudah salah sangka jika Hendri,batin Ayunda.


Pak Tejo,dalang pertama yang meneror Ayunda.


"Untuk apa kamu mengusap matamu sayang,kalau di depan mu beneran pak Tejo,". Ujar Zense.


"Ck, udah beruban hampir botak,masih mau mengejar daun muda,". Hans, menyunggingkan senyuman.


"Hmmmm...hmmmm,". Ucap pak Tejo mulutnya masih di bungkam dengan lakban.


Terlihat pak Tejo, menggeleng kepalanya. ia juga memberontak namun ikatan tali di tubuhnya begitu kuat. kursi ke dua dan ke tiga juga memberontak, sepertinya sama-sama di bungkam dengan lakban mulut mereka.


"Apa benar yang kamu tangkap sayang,". Tanya Ayunda. ia masih nampak tak percaya.


"Aku tidak pernah salah Ayunda,". Kekeh Hans. ia merasa bangga,apa yang di kerjakan selalu beres.


"Hmmm...apa yang kami tangkap tidak salah sayang, semuanya sudah terbukti kalau mereka bertigalah meneror mungkin,aku juga ragu hanya tiga. kami masih menyelidiki kasus ini," jawab Zense.


Ayunda, beralih ke arah pak Tejo."buka mulutnya Hans,". Perintahnya.

__ADS_1


Segera mungkin Hans,membuka lakban di mulut pak Tejo. "Maaf... maafkan aku Yu,". Teriak pak Tejo, dengan memohon. nafasnya juga ngos-ngosan, keringat bercucuran di wajahnya yang sudah keributan.


"Kenapa pak Tejo, tega melakukan ini,". Bentak Ayunda.


"mungkin terobsesi dengan mu Yu,". Sahut cepat Hans.


Mata Ayunda, mendelik ke arah pak Tejo. "Jawab pak,". Teriak Ayunda.


"Maaf,aku mencintaimu.aku juga dendam kepada mu,saat menolak lamaran ku dulu," jawab pak Tejo.


Brakkk...


Zense, menendang kursi di depannya.


"Sayang....jangan bikin ribut-ribut,bisa diam gak,". Geram Ayunda."pak Tejo,itu ngaca dong,udah berumur punya istri dua. Seharusnya pak Tejo, bersyukur. Ini malah mengejar yang tak harapan di miliki.mana udah punya anak sebentar lagi punya cucu juga,bahagiakan istri-istri pak Tejo. Jangan sakiti mereka lagi pak,kasian mereka harus menuruti hawa nafsu pak Tejo saja,". Omel Panjang lebar Ayunda.


"aku yakin, istri-istri dan anak pak Tejo akan sakit hati. Jika mengetahui pak Tejo,masuk penjara seumur hidup. Bagaimana nasip mu pak.apa lagi ditambah istri -istri pak Tejo, menikah dengan pria lain lalu harta situ di ambil mereka,mampus,". Decak Ayunda. "jangan hanya mengikuti ego dan obsesi mu pak,lalu mengorbankan segalanya.


terlihat jelas di wajah Ayunda,ia begitu geram terhadap pak Tejo.


"Tidak..tidak.. mereka tidak akan meninggalkan aku Ayunda,kamu jangan menakuti ku,". Bentak pak Tejo.


"Istri ku tidak menakuti mu,tapi kenyataan,". Sahut Zense.


"Jangan,aku mohon..jangan kamu laporkan aku ke kantor polisi,semua ini salah mereka berdua. Aku hanya hilaf, aku di hasut sehingga aku melakukan hal bodoh ini. Maafkan aku Ayunda,". Mohon pak Tejo.


"Tutup mulut pak Tejo,aku tidak mau di usik dia. Buka yang kedua Hans,aku ingin tau siapa di balik kain penutup itu,". Decak Ayunda. "nanti kita sambung lagi,ini hanya pemula,"


"Ayunda,aku mohon.hmmm....hmmmm...hhhmm,". Mulutnya sudah di lakban lagi oleh Hans. Tangan di ikat ke belakang dan kaki juga di ikat. Pak Tejo,sekuat tenaga memberontak namum hasilnya nihil.


Dasar tua-tua keladi,bikin gemes. Ingin aku cukur rambut yang hampir botak itu, batin Ayunda.


"Apa kamu tidak, memberikan dia pelajaran sayang,". Kata Zense. Ia mendekati wajah Ayunda dan melu-mat bibirnya.


Mata Hans, langsung dia mengalihkan pandangan dari temannya itu. "Ck,tidak tau tempat,". Gumam Hans.


Sedangkan pak Tejo, melotot menatap tajam ke arah Ayunda dan Zense, sedang berciuman mesra.


"Bagaimana pak Tejo? Anda itu jauh berbeda dari saya, tentunya Ayunda memilih ku,". Senyum semerik licik Zense.


Zense, mendekati pak Tejo. Ingin sekali menonjok wajahnya namun Ayunda, menggeleng kepala.


******

__ADS_1


mohon maaf,kemarin gak up, soalnya baru siang tadi baru lulus review. sedih jadinya, berulang kali,tetap aja.


__ADS_2