
"mamah,papah mana". Tanya Al,ia sudah tak menemukan sesosok J. Benar saja sudah beberapa hari ini,dia tak menemukan sesosok J. Yang sudah di anggap sebagai ayahnya.
"Hemmm...kamu tau sendiri,bukan. Kalau papah J,sibuk sayang. Sini,mama mau cerita sama kamu. Kalau papah,pulang. Mamah, bakalan menuruti perkataan mu waktu itu,". Kedip mata Ayunda.
"Hemm...yang mana mah,apa mamah mau menikah dengan papah J,". Al, terlihat sumringah saat mendengar ucapan dari sang ibu. "yeeeehhh.... makasih mamah,gak sabar punya dedek perempuan yang imut dan cantik,". Al, loncat-loncat kegirangan.
Ayunda,hanya mengangguk pelan. "Iya sayang,kamu jangan mencari papah dulu yah. Papah kerja,buat Al,". Ayunda, mengelus kepala Al. Ia,juga cengengesan mendengar ucapan anaknya. Astaga,jadi Al menyuruh aku menikah dengan J. hanya ingin memiliki adik perempuan,ide darimana dia.
"iya,mah. Al,mau mandi dulu". Al, langsung menyambar handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. terlihat ia sambil bernyanyi entah lagu apa yang di nyanyikan oleh nya.
"Non,ada tamu. Tapi bibi tidak tahu siapa? Baru liat ,". Ucap bi Ijah,yang barusan masuk ke kamar Ayunda.
Tamu? kenapa sore-sore begini ada tamu.
"Iya,bi saya ke sana. Bikinin teh sama cemilan yah,". Pinta Ayunda,ia melangkah menuju ruang tamu.
Saat di ruang tamu. Ayunda, begitu terlihat penasaran siapa wanita yang bertamu di sore hari. Terlihat jelas wajah wanita itu tersenyum kecil, begitu anggun dan menawan.
Apa lagi body nya sangat bagus dan terlihat dari pakaian ia seorang wanita karir. Hemm...apa dia rekan bisnis ku,batin Ayunda. Ia tersenyum manis saat memandang tamunya. kalau rekan bisnis seharusnya ada kabar dari kevin dan Alex.
"Maaf,aku bertemu di sore hari,". Wanita itu membuka suara. boleh juga, wanita pilihan J.
Ayunda,hanya tersenyum kecil. "Hemm...tidak apa,malah bagus karena saya ada di rumah,". kenapa datang waktu saya,gak ada.
"Kenalkan saya Sofia Vergara, panggil aku Sofia,". Wanita itu, memperkenalkan namanya. Ia juga mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Dengan senang hati Ayunda, menyambut uluran tangannya. "Ayunda, senang berkenalan dengan anda,".
"Ahhh... jangan terlalu formal begitu berbicara dengan ku, biasa-biasa saja,". Kekeh sofia,kepada Ayunda.
__ADS_1
"maaf,ada hal apa? Sampai-sampai kerumah ku,". Tanya Ayunda, sebenarnya dia sangat penasaran dan darimana wanita ini tahu alamat rumahnya. Dari gelagat wanita di hadapannya. Ayunda, menaruh rasa curiga kepada Sofia.
Wanita itu tertawa kecil."aku temannya J,alias satu timnya. Jelas tau bukan,apa pekerjaan J,". Wanita tersenyum kecil. Kasian,kalau sampai gak di kasih tau.
Ayunda,hanya menggunakan pelan. "Terus,ada hal apa lagi". Nah,apa lagi ini? apa masalah baru lagi,huuuu....
"Aku mendengar desas-desus dari temannya,aku juga mengikuti langkah J. Sampai-sampai aku tau alamat rumahmu,aku penasaran wanita yang sudah meluluhkan hatinya,". Kata sofia,ia begitu tenang. "Apa kamu tau,jika salah satu teman tim kami. Bernama Yolanda,dia sangat mencintai J. Aku hanya memperingati dirimu,agar hati-hati kedepannya,".
"Hemmm, maaf aku tidak tahu...terus aku harus apa, menjauhi J atau bagaimana? Kau tau,bukan. Cinta tak bisa di paksakan,begini yah. Kalau dia memang mencintainya seharusnya relakan bahagia,kalau dia berbuat macam-macam. Itu bukan cinta,tapi obsesi,". Tegas Ayunda,ua terlihat lebih tenang menghadapi. Hemmm.... masalah beginian,aku bisa mengatasinya. Ngomong-ngomong sofia atau Yolanda. "Aku juga tak mengenal temanmu bernama Yolanda atau kamu orang yang sama,". Tebak Ayunda.
"Ck,kamu kira aku kurang kerjaan. Menyamar menjadi Yolanda dan bertemu dengan dirimu. Lalu mengubah namaku menjadi Sofia,ahhh....itu bulsiit,". Kekeh sofia,ia menatap tajam ke arah Ayunda. Boleh juga nih, orang.
"Aku hanya bisa mengikuti alur kehidupan,memang aku juga mencintai J dan....,".
"Mamah,mau main yah diluar,". Al, langsung mendekati Ayunda dan meminta Ijin.
Sofia, terbalalak melihat seorang bocah. Begitu mirip dengan J, sangat-sangat mirip. Apa dia anak J dan wanita ini, batin Sofia.
"Kamu bisa menembak, bukan. Lihat lah wajahnya, mirip sekali dengan siapa? Apa lagi yang harus aku jelaskan,". Senyum semerik Ayunda.
"Tidak,ini tidak mungkin. Dia bukan anak J,tapi...,"
"Mamah,kakak ini siapa? Kenapa mengatai papah J,"? Rengek Al.
"Dia teman papah, sayang. Mamah,ada hal penting dengan kakak cantik ini. Kamu main sana yah,". Senyum merekah Ayunda.
Al, langsung mengangguk pelan. Ia langsung paham apa maksud dari sang ibu. Al, mengedipkan mata sebelahnya kepada Sofia.
Membuat Sofia, tersenyum kecut. Ia masih tak percaya jika J,sudah memiliki seorang anak.
__ADS_1
"Kenapa kamu diam? Kalau tidak percaya,kau bisa tanyakan saja kepada J,". Senyum merekah Ayunda.
Tidak,aku yakin ini semua salah. Aku harus mencari informasi lebih dalam lagi, sepertinya wanita ini tak bisa di anggap remeh. "Tentu saja,aku akan menanyakan hal ini kepada J,aku pamit. Senang berkenalan dengan mu,". Kata Sofia,ia pamit pulang. Ck, jangan harap kita akan bertemu lagi.
"Hemm... dengan senang hati,". Senyum Ayunda. Namun di dalam hati,ia cekikikan menahan tawanya. Terlihat jelas di wajah Sofia, begitu kesal dan jengkel kepada Ayunda.
Sofia, langsung keluar dari rumah Ayunda. Ia langsung menancapkan gas mobilnya.
"Siapa Ayunda, temanmu,". Tanya bu Sumi,yang tengah bersantai di depan rumah.
"Ahh...biasa teman bisnis bu,". Jawab Ayunda,ia menghampiri bu Sumi.
"Ayunda,kamu tau gak? Kalau mantan suami kamu Hendri,dia jadi pengemis di pasar,". Ucap Bu Lela,baru saja menghampiri Ayunda dan bu Sumi.
"Hemmm.. Ayunda,sudah tau. Aku yang bilang,". Sahut bu Sumi.
"Baguslah,kalau kamu tau. Tao ingat kamu jangan ke pasar dulu, takutnya mantan suami kamu itu berulah. Aku gak tega sih,kasih dia kue donat,". Kata bu Lela.
"Tumben hati Bu Lela,baik hati. Biasanya ogah-ogahan,". Kekehnya Ayunda.
"Yah, sebenarnya aku kesal dan jengkel juga. Tapi lihat kondisinya begitu,gak tega Ayunda. Alhamdulillah,dia gak sini. Minta ampun,minta mohon, minta iba,minta murahan hatimu Ayunda. Bisa-bisa aku baik pitam," gerutu bu Lelah.
"Hussssttttt... jangan ngomong gitu,bu. Biasanya kalau di omongin jangan ke sini, beberapa menit kemudian. Nongol dia bu,aku lagi gak mood meladeni pria seperti itu,". Keluh Ayunda.
"Tapi tega banget yah, Ambar dan Neli. Menelantarkan adiknya seperti itu,apa gak malu,". Sahut ibu lainnya.
"Katanya,lebih malu lagi. Kalau Hendri, menumpang di rumah mereka bu,". Sahut ibu lainnya.
"Astagfirullah,ada yah. Manusia seperti itu,sudah kena karma tu mereka," timpal ibu-ibu lainnya.
__ADS_1
******