
Satu minggu kemudian.
Dion, memberitahu siapa pelakunya.
"Ngapain kita ke sekolah SMP,". Tanya Herman,kepada lainnya.
"Kita cari siapa nama Irfan,aku sudah menyelidiki semuanya,". Senyum semerik Dion.
Al, percaya kepada Dion. Karena masalah ini, ahlinya.
"Baiklah, itu masalah gampang". Kekehnya Zakir.
Mereka semua masuk ke sekolah lamanya dulu, semua guru-guru kenal siapa mereka. Apa lagi Al,murid kesayangan dan paling cerdas.
Selesai berbincang hangat dengan guru-guru, mereka dulu. Kini pamit,mau jalan-jalan katanya. Padahal mau cari siapa yang bernama Irfan.
"Tadi di dalam kelas kak,masuk aja di kelas itu". Seorang laki-laki, menunjuk salah satu kelas tersebut.
Dengan senyum kecil, mereka langsung menuju ke kelas yang di maksud bocah tadi.
Sesampai di depan kelas. "siapa yang bernama Irfan". Tanya Al, temannya menepuk jidat masing-masing.
Kenapa harus bertanya-tanya,padahal nama mereka sudah terpampang di baju mereka masing-masing.
"Mungkin Al,gak mau baca satu persatu nama mereka ". Ucap Herman.
Satu kelas seketika terdiam saat mendengar suara Al, menggelegar. Saat para murid-murid,tengah bercanda gurau.
"Sa-saya kak". Kata Irfan, mendekati mereka. Ia tahu,kenapa mereka mencari dirinya. Kak Shelly,kak Laila...tolong Irfan, Irfan sudah ketahuan.batinnya, Tangannya sudah mulai gemeteran saat melihat seringai tajam Al.
"apa kamu pelakunya,tidak mungkin lupa dengan wajahku,bukan? Katakan,kenapa kamu melakukan hal ini". Kata Al,ia mulai interogasi. Irfan, langsung duduk di kursi bahunya sudah di pegang oleh Zakir dan Herman.
"Aku di suruh oleh seseorang kak". Jawan Irfan, tertunduk takut. lebih baik mengaku daripada berbohong, bisa-bisa aku habis di hajar mereka.
"Gak usah gemetaran segala,kami hanya interogasi dan kamu jawan sejujurnya". Kata Zakir,ia melihat jari-jari Irfan gemetaran.
__ADS_1
"Katakanlah siapa yang menyuruhmu,". Bentak Dion,ia mengusap wajahnya. Ia masih membayangkan ayam jagonya berubah jadi opor dan dia makannya begitu lahap.
"Kak Shelly dan kak Laila,kak. Aku hanya ikut-ikutan saja, karena kami tetanggan. Jangan katakan aku kak,yang memberitahu semua ini. Nanti aku di marahin habis-habisan sama kak Shelly,". Pinta Irfan, dengan iba.
"Ehhh...bocah,kamu gak sukakan sama Shelly. Jawaaab...,yang jujur ". Tanya Herman,sambil mendorong bahunya.
Irfan, langsung menggeleng kepalanya. "Tidak kak,aku tidak suka dengan kak Shelly,".
"Awas....!!kalau kamu suka,aku smakcdown kamu". Ancam Herman,ia menyeringai tajam.
"sekarang kita sudah tahu,siapa pelakunya. Yukkk..cabuuuuttt....". Kata Dion,kini mereka meninggalkan kelas Irfan.
Sesampai di parkiran. Al, termenung sejenak. Bagaimana menghukum pelakunya? Jika sang pelaku adalah pujaan hatinya.
"Bagaimana ini,kalau pelakunya mereka? Kenapa juga harus mereka". Gumam Herman,ia menatap ke arah Al.
"jangan bengong dong, Al. Kamu yakin,mau ngasih pelajaran sama shelly dan Laila". Tanya Dion,ia memainkan kedua alisnya.
"Janganlah,kalau sampai Al. Ngasih pelajaran sama Laila, jangankan mendekati memiliki saja tak akan pernah bisa. Mungkin Laila,ada dendam kusumat sama kamu. Kenapa kita kena imbasnya,yah". Kata Zakir,nampak heran. "Untung opor ayam jagonya,enak gak alot".
Mereka langsung menancapkan gas motornya,lalu meninggalkan sekolah lamanya dulu. Dengan hati kesal, ternyata di balik ini semua adalah Laila dan Shelly.
*******
Besok paginya. Al, tengah duduk di kursi Laila. Ia sambil menunggu kedatangan empunya, bagaimana mungkin. Ia harus mempertanyakan mengapa,dia melakukan hal ini.
Tak lupa juga Herman, menunggu Shelly. Ia santai-santai di parkiran, menunggu.
Beberapa menit kemudian. Akhirnya Shelly,datang juga. Segera mungkin Herman, menghampirinya.
"Shelly,aku ingin berbicara serius denganmu". Senyum semerik Herman.
Shelly, nampak heran kepada Herman. "Bicaralah, mumpung orang-orang lagi sepi". Duhh...meleleh hatiku,bang. menatap wajahmu,bisa gak? jangan dekat-dekat, jantungku hampir copot bahkan tangan keringat dingin.
"Aku tahu siapa yang mengadu ke mamahnya Al,tentang adu ayam". Senyum semerik Herman. "Kau tahu maksud ku apa ha? Kalau sampai Al,tahu.apa lagi anak tetanggamu yang bernama Irfan,pasti mereka akan memberikan kalian hukuman". Kata Herman,ia sengaja menakuti Shelly. "ingat ancamanku,tidak main-main,".
__ADS_1
Aduhhh....kenapa secepat ini, ketahuan sih? kenapa Herman,tahu dengan Irfan. matii.. aku, bagaimana ini?.
Shelly, gelabakan saat mendengar ucapan Herman. Bibirnya seakan-akan,tak bisa berbicara atau mengelak lainnya. "Herman,jangan bilang-bilang sama Al. Kami takut Herman,plisss .. jangan yah,karena amarahnya Al. Seremmm...plisss.. jangan bilang-bilang yah". Rengeknya shelly,memegang lengan Herman. Ia meminta iba kepadanya,namun Herman tersenyum kecil. Karena rencananya, langsung mulus.
"Baik,aku tidak akan memberikan informasi ini kepada Al. Asalkan kamu harus jadi pacarku,jika kamu menolaknya. Maka siap-siap,aku memberitahu masalah ini". Ancamnya Herman,ia memainkan kedua alisnya. Aku sudah yakin,kamu akan memohon kepadaju Shelly. kesempatan ini, tidak akan aku sia-siakan. tidak masalah bukan? aku memiliki mu dengan cara seperti ini.
"Apa...???kamu...". kenapa Herman,malah mengajak pacaran?
"Bagaimana shelly,apa kamu menerima permintaanku. Atau ....". Ancam terusss... sampai kamu, menerimaku Shelly.
"Iyahh....aku mau jadi pacar kamu, asalkan jangan bilang-bilang sama Al". Gak papa deh,aku nerima. Apakah Herman,juga menyukaiku sama sepertiku.
Asyiiikkkk.... akhirnya aku pacaran juga dengan shelly, walaupun dengan ancamanku. "Bagus,jadi kita pacaran. Awasss...kalau main-main denganku,apa lagi selingkuh. Aku tidak segan-segan, menghukum dirimu. Ingat kata-kata ku,sayang". Senyum semerik Herman,kepada shelly.
Deggg....
Mendengar kata sayang, membuat shelly jadi salah tingkah dan malu-malu. Duhh.. jantung pliss, di kondisikan deh...."Hmmmm...aku tipe perempuan setiaku". jawab shelly, malu-malu.
*******
Laila,yang baru saja tiba di kelas. ingin meletakkan tasnya,namun Al sudah duduk terlebih dahulu di kursinya.
"minggir...aku mau duduk,". pinta Laila, menatap ke arah Al.
"kenapa kamu melakukan ini Lai,aku benar-benar kecewa kepadamu". Al, membuka suara namun tatapannya masih lurus.
"maksud kamu apa,sih? aku gak paham". ketus Laila, langsung. apa Al,sudah tahu semuanya. aduhhh. matiii....aku....mana lagi, Shelly.
"tidak usah berpura-pura tidak tahu, Laila..!!! aku sudah tahu,siapa pelakunya tentang adu ayam kepada mamahku". kini Al, berdiri di hadapan Laila. "kenapa, diam. Ck,benarkan apa yang aku katakan,". Al, menyungging senyumannya.
Laila, mengundurkan langkahnya. "iya,kalau aku kenapa? kamu marah ha, silahkan. aku melakukannya demi kebaikan kamu juga,itu dosa Al. kasian kedua orang tuamu,juga menanggung dosanya. apa perlu,aku langsung memberitahu kepada mamahmu. jika kamu juga,sering melakukan balap liar. aku marah kepadamu Al,karena kemarin kamu sudah merendahkan diriku. seharusnya kamu berterimakasih kepada ku,karena dengan mamah mu tahu. jadi kamu tidak melakukan hal ini lagi, ngomong-ngomong opor ayamnya enak". senyum merekah Laila. ia duduk di kursinya, setelah Al menyingkir.
"Kauuu.... ternyata kamu,licik juga Laila. ternyata selama ini,aku salah menilaimu. aku benar-benar, kecewa Kepadamu ". kata Al, langsung meninggalkan Laila.
Laila, menatap kepergian Al. ada rasa bersalah kepada Al,apakah sudah melakukan kelewatan kepadanya. "untuk apa,aku memikirkannya. kalau dia kecewa kepadaku, setidaknya dia tidak akan menggangguku". gumam Laila, walaupun perasaannya tidak enak.
__ADS_1