
"Lai,kenapa kamu? Sakitkah,tuh mata sembab. Kamu habis nangis,Lai". Tanya Shelly, menatap wajah temannya.
Sepulang dari pengajian Laila, mengurung dirinya sampai pagi. Hampir tengah malam ia menangis, karena kelelahan akhirnya tertidur. Pagi-paginya di bangunkan ibunya,bahkan tidak membantu membuat kue-kue. Laila, meminta maaf dan memeluk sang ibu. Ia juga minta maaf,karena tidak membantu ibunya.
Tak segan-segan Laila,juga bercerita dan untungnya memiliki ibu selalu paham keadaan anaknya. Sebisa mungkin sang ibu, membujuk Laila. Namanya juga jodoh adalah rahasia Tuhan.
"jangan sekarang aku jawab pertanyaan kamu, waktu istirahat aja aku mau curhat". Jawab Laila,ia membenamkan wajahnya kedua tangannya di meja pelajaran.
"Tumben-tumbenan sepagi ini,gak semangat. Kaya puasa aja,tapi waktu kamu puasa gak selesu begini". Ucap Al,yang baru datang.
Laila,tidak menjawab perkataan Al. "Lagi galauu, hussssttttt....sana pergi,jangan ganggu orang". Shelly, mengusir Al dan teman-temannya.
"Gak usah galak-galak Shelly,". Sahut Herman,ia mengedipkan sebelah matanya.
Shelly, malah mengejek dengan menjulurkan lidahnya. "Enak tuh..di gigit lidahnya". Kekehnya Herman.
Pletak.....
" Auuu..sshhh". Keningnya Herman,di jitak oleh Zakir
"Ngomong itu bisa gak di saring"
"Uueekkk... apa-apaan sih,". Shelly, mengerucut bibirnya.
Al, menyenggol kursi Laila. Namun tetap saja,tak menghiraukannya. "Gak usah galau-galau Lai,emang kamu mau apa? Biar aku belikan,yahh...biar galaunya hilang".
"Shelly,juga mau apa? biar abang, belikan sesuatu. biar gak marah-marah, seperti penagih utang,". kekehnya Herman,namuan Shelly malah cemberut mendengar ucapan Herman.
"Jangan Shelly,mending sama Aa Dion. di jamin apapun yang kamu mau,sudah pasti Aa akan melakukannya". Ucap Dion,juga.
"Hussssttttt....sudah aku bilangkan,sana duduk di kursi masing-masing ". Shelly, mengusir mereka lagi. "Gak usah ngomong macam-macam, sorry....aku gak ngaruh".
__ADS_1
Karena tidak ada jawaban dari Laila. Al, berjongkok dan menoleh ke atas seakan-akan mengintip Laila dari bawah. Ia tersenyum manis, saat memandang wajah Laila.
"Al,kamu apa-apaan sih? Ganggu aja". Laila, mengangkat wajahnya. Sebenarnya dia, menutupi mata sembabnya. Efek malam tadi menangis kesegukan,kini hatinya plong. Benar-benar yah,tambah gak mood akunya.
"Kenapa tu matamu,bengkak Laila. Kamu sakit mata kah? Biar aku suruh Dion,cari obatnya". Tanya Al,saat ingin menyentuh wajah Laila. Namun langsung di tepisnya. Pasti ada sesuatu yang di pendam Laila,apa ada seseorang yang sudah menyakitinya. tapi siapa?
"Bisa gak,jangan pegang-pegang aku. Bisakan? Iya,aku lagi sakit mata lihat kelakuan mu". Ketus Laila, dengan sinis. Sebel deh,ganggu orang aja. suka banget, nyentuh orang.
"Iiiisss.... sensi amat kamu Lai". Sahut Dion, terkekeh. Shelly,hanya mencibir bibirnya komat-kamit.seperti membaca mantra,padahal mengumpat Al dan teman-temannya.
********
Jam istirahat sekolah telah tiba. Laila,murung di dalam kelas. Ia tak mau pergi ke kantin, katanya malu karena matanya sembab. Hanya Shelly,yang ke kantin membelikan beberapa cemilan dan minuman.
"Cepat cerita Laila,aku penasaran kenapa tuh mata sembab. Pasti ada apa-apanya yah,kamu nangis lama tu". Kata Shelly,ia tahu kenapa kata temannya sembab. Hehehhe...pasti gara-gara cinta,so seperti aku dulu.
"Mulai sekarang aku belajar move on, dengan ustadz Zulkifli shell". Jawab Laila, sambil menyantap cemilan. Walaupun sakit hati,makanan lah paling utama.
"Hussssttttt..... ustadz Zulkifli, sudah ta'aruf dengan Hafizah. Kemarin ustadz Zulkifli, mengirim surat kepada Hafizah. Aku gak yakin baru kemarin, pasti sudah beberapa hari. Baru Hafizah, memperlihatkan surat itu. Sedangkan orang-orang sekitar,tahu dan malamnya ustadz Zulkifli bersama keluarganya ke rumah Hafizah. Hafizah, bohong denganku". Ucap Laila, matanya berkaca-kaca.
"Apaaa... Ustadz Zulkifli ta'aruf sama Hafizah...???" Teriak Shelly,begitu kencang.
"Hussssttttt... Shelly,jangan kencang-kencang,". Laila, menutup mulut Shelly. "untung gak ada anak-anak lainnya,dikelas ini. bisa-bisa aku bahan gosip semua orang-orang,". Decaknya.
"Heeemmmm...hmmm...huuuf... sorry, Laila. Aku hanya refleks mendengar ucapan kamu,kok bisa sih? Ustadz Zulkifli dengan Hafizah, wahhhhhh.... tanaman makan pagar ini". Gerutu Shelly.
"Sudahlah Shelly,aku tidak mau berharap lagi. Pria lain banyak, mungkin bukan jodohnya. Walaupun ustadz Zulkifli, sangat baik kepadaku. Akunya aja yang baperan kali,". Laila, menghapus air matanya.
"Sabar Laila,pria lain juga banyak kok. Lebih baik kamu fokus belajar,lulus dan cari kerjaan. Bahagiakan ibumu, tidak perlu memikirkan masalah percintaan". Shelly, memeluk sahabatnya dan menenangkan perasaannya.
"Iya, Shelly. Aku fokus dulu, membahagiakan ibuku. Beliau sudah tua,tapi masih bekerja. Mungkin aku tidak melanjutkan kuliahnya shell,mau kerja aja bantu ibu". Gumamnya,ia menghembuskan nafas beratnya.
__ADS_1
"Aku di suruh kuliah,sama orang tuaku. Kamu bisa kok, kerja sambil kuliah. Semoga ada jalannya, nanti. Sekarang kita fokus belajar dan lulus sekolah. Nanti kita barengan cari kerjaan, bagaimana ". Ide Shelly, mampu menghangatkan perasaan Laila.
Laila, tersenyum sumringah. "Oke". Jawab Laila, langsung. Baiklah aku akan fokus membahagiakan ibuku,tidak perlu memikirkan hal ini lagi.
Di balik pintu. Al,tengah mendengar ucapan mereka. Ia tersenyum getir,saat mendengar kebenarannya. "Apa aku bisa? Mendapatkan hati Laila. Sedangkan dia lebih menyukai seorang ustadz, sedangkan aku jauh dari keinginannya. Masa iya,aku harus jadi ustadz juga. Aahhh.... serumit ini,". Decak Al, meninggalkan kelas. Sebenarnya Al, ingin mengambil ponsel. Saat mendengar berbincang mereka,ia langsung mengurungkan niatnya.
"Al,kenapa kamu bengong". tanya Yulia,menyapanya.
Aisss....kenapa ulat keket inj lagi,yang datang. makin kacau pikiran aku saja, Gerutu Al. "kepo".
"yaelah,akukan nanya doang. pasti ada yang kami pikirkan yah, Al. cerita dong,sama aku". kedip mata Yulia,ia mendekati Al yang tengah bersandar di dinding.
"cuman pekerjaan gak ada yang lain,kamu kenapa dekat-dekat sama aku. nanti aku ketularan gatal kaya kamu". bentak Al, langsung meninggalkan Yulia. ia menghentakkan kakinya, karena sebel dengan sikap Al.
"awas kamu Al,iiissss...kapan sih? aku bisa mendapatkan kamu". gerutu Yulia, namun Seseorang mendengar ucapannya.
"Sampai matipun,tidak akan bisa mendapatkan Al". sahut Annisa, menyunggingkan senyumnya. "kasian banget sih? cinta bertepuk sebelah tangan,duuhhh... malunya,".
"Oh yah,aku malu gitu... seharusnya kamu sadar Annisa,kamu itu jauh lebih buruk daripada aku. Jangan sampai kamu menangis darah,saat aku dan Al jadian. gak kebayang deh, bagaimana sedihnya kamu. aku harap kamu jangan sampai bunuh diri, takutnya gak liat aku bersanding di pelaminan dengan Al,". senyum semerik Yulia, mungkin saat ini tidak dapat memiliki Al. bukankah banyak kesempatan lainnya.
"Wawwww...khayalan kamu, boleh juga. Sangat tinggi, takutkan kamu jatuh aja sih...gak kebayang gimana sakitnya". Annisa, mendorong tubuh Yulia.
"Gak usah main dorong-dorongan,bilang saja kamu itu irikan. Al,mana mau menjilat yang sudah jadi mantan kekasihnya". mata Yulia, melotot menatap tajam ke Annisa.
"Baiklah,kita lihat saja nanti". kata Annisa, berlalu pergi meninggalkan Yulia. saat kakinya melangkah, melalui tubuh Yulia tiba-tiba....
Bruaakkkkkkk...
"Auuu....kurang ajar kamu Yulia". Annisa, terjatuh ke lantai. karena kakinya di halang oleh Yulia.
"Hahahaha....emang pantes,kamu itu di bawahku Annisa,". ucap Yulia, tersenyum kecil. Yulia, meninggalkan Annisa begitu saja. sambil melambaikan tangannya, berjalan secara elegan.
__ADS_1
"Awas kamu Yulia, tunggu pembalasanku". teriak Annisa, dari kejauhan. ia mengepalkan kedua tangannya. Amarahnya sudah di ubun-ubun kepala.