
"Pak Tejooooooo.....,". Teriak bu Halimah dan bu sari.
Mereka keadaan sudah sadar diri,namun saat ini mereka sedang tidak menggunakan baju.
"Sial,sial. Semua ini karena Ayunda,". Pak Tejo, mengusap rambut ke belakang. Ia memungut pakaiannya, sedangkan sang istri masih berbalut selimut.
"bukannya pak Tejo,tidak berbuat macam-macam kepada kami ha!tapi ini apa pak,". Bentak bu Halimah.
"Bilangnya gak nafsu, tapi malah di terkam juga kami,". Sambung bu Sari
"Alahhh... jangan sok munafik kalian,itu sudah tugas istri. Lagi pula kalian menikmati bahkan mende-sah, gak percaya? Kita buktikan mumpung punya ku berdiri," pak Tejo, memperlihatkan miliknya yang sudah menegang.
"pak Tejooooooo," teriak mereka lagi.
Pak Tejo, terkekeh melihat mereka yang menutupi wajah masing-masing. Bahkan pak Tejo, dengan beraninya memainkan miliknya lalu mendekati istri-istrinya.
Bu Halimah dan bu sari, mereka berdua gelabakan saat pak Tejo,mulai melangkah menuju ke arah mereka.
"Aaaaaaa...dapat kamu Halimah, cepat layani aku ha! Buat apa punya istri tak ada gunanya. Ayo, cepat,". Bentak pak Tejo.
Bu Halimah, memberontak saat lengannya sudah di cekal.
"Aku mohon,pak. Lepaskan aku, bukannya pak Tejo tidak nafsu kepada kami,". Ucap bu Halimah.
"Pak Tejo,jangan gila kamu yah,". Sambung bu Sari.
"Diam, bukannya kalian harus patuh dengan ku ha! Aku akan tetap memberikan kalian nafkah asalkan nafkah batinku terpenuhi juga,". Tegas pak Tejo, kepada istri-istri barunya.
"bersiaplah kalian akan pulang,". Suara tegas penjaga di ambang pintu,yang tiba-tiba.
Mendengar perkataan penjaga. Pak Tejo, mengurungkan niatnya untuk menerkam istri-istrinya.
"Kalian selamat untuk saat ini,". Decak pak Tejo.
"ingat, jangan sampai orang-orang tau kalau kita menikah.anggap saja rahasia terbesar kita bertiga,lagi pula Ayunda akan melepaskan kita mulai sini,". Ujar bu Sari.
"Hemmm...kalau sampai nanti kita tinggal di rumah masing-masing, terserah kita mau gaknya satu atap tinggal. Dia kira siapa,". Ujar bu Halimah.
"Bagaimana mungkin kalian melanggar peraturan dengan Ayunda,apa kamu buta. Aku yakin di ruangan ini ada cctv tak terlihat, Ayunda bisa saja dengan liciknya. Kita harus beralasan untuk pergi beberapa hari kemana,anggap saja bulan madu. Kalian harus kompak beralasan bulan madu kepada Ayunda,". Jelas pak Tejo. Mereka pun paham maksud dari suaminya.
"minimal dua hari lah, kita baru bisa pulang kerumah masing-masing,". Kata bu Sari.
"Hemmm...".
*******
__ADS_1
Ada yang tidak beres ini,batin pak Tejo. "Dimana Ayunda,kami perlu bicara,".
"Bos tidak ada di rumah,tapi kalian harus pulang menggunakan mobil ini. Kalian masih dalam penjagaan,kalau kalian berani melarikan diri. Siap-siap kami tembak, mengerti,". Suara tegas penjaga yang di depan mereka.
"Bagaimana ini pak? Gagal semua rencana kita, Ayunda tidak mudah di tindas atau di bodohi". Bisik bu Sari.
"Kami ingin pulang sendiri saja, menggunakan taksi. Tak perlu kalian antar, urusan kami dengan bosmu sudah selesai,". Ucap pak Tejo.
Penjaga-penjaga tepat di samping mereka,hanya menyungging senyuman kecil. "Cepat masuk,atau kami tembak ha,".
Dengan hati penasaran bu Halimah, bisa-bisanya nekat untuk lari.
Aku harus lari, mumpung mereka tidak memperhatikan ku, paling juga ancaman Ayunda,batin bu Halimah.
Berlahan-lahan bu Halimah, mengundurkan diri. Ia merasa aman lalu dengan langkah lebih cepat dan lari menuju gerbang utama.
Hahahaha,sebentar lagi aku bebas,batin bu Halimah. Ia dengan semangatnya berlari.
sedangkan penjaga di sana,hanya diam lalu tersenyum-senyum tanpa ada pergerakan.
"bu Halimah,jangan lari..kembali,". teriak bu sari,saat melihat salah satu penjaga menodong pestol.
"bu Halimah, berhenti..! jangan lari,". teriak pak Tejo,juga
namun bu Halimah,tetap berlari-lari. ia juga menghiraukan panggilan dari madu dan Suaminya.
Dorrrr...
Dorrrr....
dua peluru di tembakkan satu tepat di kaki bu Halimah, peluru kedua hanya di todong ke atas.
"aaaaa,". teriak mereka.
"Bu Halimah,". Teriak bu sari dan pak Tejo.
"Aaaaaaa...sakit....kakiku...aaaa,". Jerit bu Halimah. Ia merasakan sakit luar biasa di kaki kena tembakan. darah segar mengalir di kakinya.
"Ck,sudah aku bilang bukan.jangan berani coba-coba untuk lari,". Ucap penjaga itu.
Tidak ada satu pun para penjaga panik,ia malah menarik paksa lengan bu Halimah. Untuk masuk ke dalam mobil, mereka tak menghiraukan erangan sakit di kakinya yang hanya lecet kena peluru. Karena penjaga itu membidik hanya membuat kaki bu Halimah,lecet.
"Arghhh...sakit,". Rintihan bu Halimah.
"Obati luka istrimu pak," penjaga itu, melempar sebuah kotak. saat mereka sudah memasuki mobil,siap untuk berangkat.
__ADS_1
"Kalian gila,apa tidak kerumah sakit untuk mengobati luka kaki istriku ha,". Bentak pak Tejo.
"Hanya lecet,tidak ada cedera lebih serius,". Jawab penjaga itu,ia melajukan mobilnya."diamlah atau kami tembak kamu,". ancam penjaga lagi.
sial, mereka benar-benar menembak.aku kira hanya ancaman saja."makanya bu kalau kabur jangan nekat-nekat,kami juga yang susahnya,". ucap pak Tejo.
bu sari dan pak Tejo, mengobati luka bu Halimah. memang benar hanya lecet tidak parah,bu Halimah menangis kesegukan ia merasa amat terasa sakit.
"uuuhhhh...uuhhh..sakit,sakit. pelan-pelan bu pak,sakit,".rintih bu Halimah. tega sekali mereka menembak ku.
"makanya bu,jangan sok-sokan kabur.akibatnya begini bukan,emang enak,". ledek bu Sari.
"gila,kamu malah meledekku ha,awas kamu bu,". bentak bu Sari.
dengan hati kesal. "Aaaaa,sakit bu.pelan-pelan,". bu Sari,tengah sengaja menekankan luka bu Halimah.
********
Ayunda, Zense, Hans dan beberapa anak buah Zense.
mereka tengah duduk di ruang tamu tepatnya di rumah pak Tejo, mereka ingin menyambut kedatangan pak Tejo dan istri-istri barunya.
di ruang tamu Ayunda dan Zense. sudah di hadapan istri-istri tua pak Tejo, bu Arum dan bu Sila.
Bu Arum dan bu Sila, mereka meremes kertas di tangan masing-masing. mereka baru membaca surat perjanjian, Ayunda dan pak Tejo.
"kalian kan wanita pintar,tak keberatan bukan menindas dua benalu itu,". senyum semerik Ayunda.
"bukan dua, tapi tiga Ayunda,". air mata bu Arum, menetes di pipinya saat melihat video mesum kebejatan suaminya.
"baguslah,aku serahkan mereka bertiga kepada kalian. pasti paham bukan apa yang di lakukan,". Ayunda, menyungging senyumannya.
"tenang saja Ayunda, serahkan kepada kami,". sahut bu Sila. istri kedua pak Tejo, terlihat Masih muda.
saat ini Zense, menerima telpon dari seseorang. "siapa sayang,". tanya Ayunda.
"mereka menembak bu Halimah,". jawab Zense, dengan singkat. Ayunda, langsung mengangguk pelan.
"kenapa hanya satu, tidak semuanya,". herdik bu Arum. "kenapa kalian tidak sekaligus membunuh mereka,".
"itu,urusan kalian.kami hanya mengawasi saja,terserah mau kalian apaakan istri baru pak Tejo,". sahut Zense.
Bu Arum, memandang madunya Sila. terlihat mereka saling tersenyum, mungkin saja mereka ingin melakukan Sesuatu.
mata bu Arum, memancing ke arah Ayunda. yang nampak tak suka, begitu juga Ayunda, merasakan hawa yang tak biasa.
__ADS_1
namun Zense,sudah memastikan kalau istri-istri tua pak Tejo. pasti menanam dendam kepada istrinya.