
Akibat olahraga sore. Ayunda,tepar di atas ranjang. Zense,juga menutupi tubuh istrinya yang polos.
"Ada apa Hans,". Saat pintu kamar di ketok oleh seseorang. Zense, langsung membuka pintu kamar.
"Pelaku nya sudah tertangkap bos,satu pria dua wanita,". Ucap Hans.
"Bagus, simpan saja di markas. Setelah pulang nanti biar Ayunda,yang menghajar mereka,".
"Aku tidak yakin,kau tau bukan istri mu itu orangnya tidak tegaan,".
"Huuu...nanti kita pikirkan lagi, pergilah. Ganggu saja," usir Zense.
"Ck,bucin,bucin,". Decak Hans. Ia meninggal kamar sahabatnya sekaligus bos.
"Hmmmmm...,". Ayunda, mengeliyat. Ia celingukan mencari suaminya di samping namun tidak ada. "Kemana dia,".
"Kau mencari ku,sayang,". Kekeh Zense,ia bersembunyi di bawah tepi ranjang. Kini merayap naik ke atas dan masuk kedalam selimut.
"Shhhh...hmmmm..zen," suara laknatnya keluar.
Saat ini Zense, menyusu seperti bayi di balik selimut tebal yang menutupi tubuh Ayunda.
Tok...tok..tok
Bunyi kamar mereka ada yang mengetuk.
"Zen...ad..ahh..da..hmm..yang mengetuk pintu..shhh...kamar..,". Desah Ayunda.
"Sial,menganggu saja,". Gerutu Zense. Ia menghentikan aktivitas di tubuh Ayunda.
Ia secepatnya menggunakan boxer. Lalu melangkah pergi ke pintu kamar.
"Ada apa lagi Hans? Suka sekali mengganggu kesenangan ku,".
"Kapalnya tidak bisa hidup,ada seseorang yang merusak mesinnya,". Ucap Hans.
Zense, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Beli kan tiket Regan dan Farhan,untuk bulan madu. Aku dan Ayunda,akan pulang saja,".
Brakkk..
Pintu kamar tertutup dengan begitu keras.
"Untung bos,". Teriak Hans.
*****
Saat ini mereka semua sedang berkumpul di sebuah hotel.
"Kamu gak papa kan Yu,kok tiba-tiba mau pulang,". Dengus kesal Vivian.
"Ck,sudah malam sayang,kita masuk kamar yuk. Belum inboxing nih,". Farhan,menarik lengan istrinya yang baru sah siang tadi.
"Nanti dulu, sayang.aku mau sama mereka,". Tolak Melisa.
"Mereka enak,sudah berapa kali inboxing.kita aja yang belum, peduli amat sama mereka,". Farhan, langsung mengangkat tubuh istrinya ala koala.
Ayunda dan Vivian,hanya cengengesan melihat kelakuan mereka berdua.
"Jangan lupa,minum obat kuatnya,". Kekeh Regan.
"Kau kira,aku tak kuat jika tanpa obat itu ha,kita liat besok,". Teriak Farhan, meninggalkan mereka sambil mengangkat tubuh istrinya.
"Tolong... Ayunda, Vivian,". Melisa, memberontak di atas tubuh suaminya.
__ADS_1
Astaga,aku bisa pingsan.
"Nikmati saja Mel," teriak Ayunda.
"Semangat, anggap saja hara-huru,". Sambung Vivian.
"orang yang meneror mu sudah tertangkap tapi bisa saja masih ada,". Jelas Hans.
"Seriusan,wahh...gak sabar pengen aku bonyok tu wajahnya,enak banget main teror aku,". Kesal Ayunda.
"Hajar aja Yu,jadi pengen juga," ujar Vivian.
"Ya,udah...kamu bantu aku yang menghajar bagaimana,". Ajak Ayunda, dengan cepat Vivian, langsung mengangguk kepala.
"Gak yakin aku,". Ejek Hans.
"Oh...kamu merendahkanku Hans,". Ayunda, menatap tajam ke arah Hans. Hans,hanya menyungging senyum kecilnya.
"iya,aku jamin kamu langsung luluh sama penjahatnya,". ucap Hans,lagi.
Ayunda, memandang wajah Zense,namun secepatnya Zense, memalingkan wajahnya.
"siapa sih Hans,kenapa kalian suka banget main rahasiaan tapi ujung-ujungnya tidak tepat,". decak Ayunda.
"biasa Yu, perkataan pria itu hanya omong kosong,". sahut Vivian.
"hmmm,karena pria itu selalu salah,". timpal Zense. Hans dan Regan,hanya cengar-cengir saja.
*****
"Uuuhhh.capek-capek enak,". Ayunda, merentangkan kedua tangannya.
Dari arah belakang Zense, memeluk Ayunda.
Terlihat wajah mereka berdua saling bertatapan.
Berlahan-lahan bibir mereka saling dekat lalu berciuman saling bertukar salvina.
Aksi lengan Zense,yang lincah melepaskan baju istrinya satu persatu hingga polos. Begitu juga Zense, melepaskan baju dan celananya.
Ia langsung merebahkan tubuh Ayunda,di sofa panjang. Lengannya bermain di daerah gunung kembar Ayunda.
"Shhh...hmmm,". Ciuman Zense, turun ke leher. Lalu ke gunung kembar. Banyak jejak di tinggalkan Zense.
Tangan Zense, sudah mengelus-elus di daerah sensitif Ayunda.
"Ahhh...ahhh..hmmm,". Erangan Ayunda,saat jari itu masuk dan memaju mundur.
Tangan Ayunda, meremas sprei. Ia mengeliyat menikmati sentuhan lembut Zense.
"ahhhhh...,". erangan panjang saat Uno Zense, masuk sepenuhnya di milik Ayunda.
"hmmmm...ahhhh...ahhh,". desa-hannya Ayunda.saat Zense, menghujam tubuh Ayunda.
"aahhh..ahh,". desah Zense,ada keringat di keningnya dengan cepat Ayunda,melap sambil terengah-engah kenik-matan.
Zense, membolak-balik tubuh Ayunda. sedangkan empunya tersenyum saja dapat perlakuan dari suami.
berbagai gaya mereka coba, keringat bercucuran membasahi tubuh mereka.
*******
"kamu yakin,kita pulang. apa tidak ikut mereka bulan madu,". ucap Zense,di pagi hari.
__ADS_1
"hmmm...aku tidak sabar menemui mereka,yang sudah mengganggu hidupku,". decak Ayunda.
aku yakin,bukan hanya mereka yang menggangu Ayunda. pasti ada yang lain juga, batin Zense.
"ahhhhh...,". mata Ayunda,merem melek. saat Uno,masuk ke dalam milik Ayunda.
pagi ini Zense, melanjutkan olahraga pagi.
"ahh...kau canduku sayang,".
sepagi ini Zense, dengan semangat menghunjam tubuh Ayunda.
plok.. plokk..plok..
bunyi penyatuan mereka dengan erangan kenik-matan yang tiada tara.
"ahhh...aku sampai....ahhhhh....ahhhh..,". erang panjang Ayunda. tubuhnya ambruk di atas tubuh Zense.
kini Zense,membalik tubuh Ayunda. dengan gaya menungging, Uno langsung menusuk dari belakang.
"ouhhh..aku suka ini honey,". lirih Zense,ia ******* habis bibir istrinya.
*****
"mana Ayunda dan Zense," tanya Farhan. mereka sudah siap untuk berangkat ke bandara.
"mana aku tau,kalau kalian mau pergi. ya sudah,sana pergi," usir Regan.
"Oh,kamu ngusir kami Gan," sahut Melisa.
"palingan juga masih main kuda-kudaan, kita malah nungging keriting ni kaki," decak Hans.
"yakin kalian mau nungguin mereka, sayang," ucap Regan,kepada istrinya Vivian.
Vivian, langsung mengakat kedua bahunya.
sudah hampir jam delapan pagi,namun Zense dan Ayunda,tidak ada muncul juga saat mereka sarapan pagi.
hampir satu jam barulah terlihat jelas kedatangan Zense dan Ayunda,di restoran.
terlihat jelas di wajah mereka berdua tertawa lepas, Ayunda juga menggandeng tangan Suaminya.
"Ckckck, kaya pengantin baru,". decak Hans. ia sedang menikmati secangkir kopi di restoran tersebut sambil menunggu Zense dan Ayunda.
"mana yang lainnya Hans," tanya Ayunda, sambil memilih menu.
"ini sudah jam berapa, tentu lah mereka di perjalanan ke Bandara,". kesal Hans.
"kamu mau menyalahkan ku Hans? yang salah itu dia,". delik mata Ayunda kepada Zense.
"hmmmm...hanya aku yang salah,karena pria itu selalu salah di mata wanita," sahut Zense. di iringi angguk-angguk Hans.
"Ck,sadar juga kalian para pria,". decak Ayunda. ia juga memberikan menu pesanan kepada pelayan. "kenapa kalian bisik-bisik,apa kalian menyalahkan ku ha,"
Zense dan Hans, langsung menggeleng kepala. Ayunda,hanya memutar bola matanya."kompak sekali kalian, pantesan orang-orang sekitar curiga kalau kalian berdua gay,tapi aku malah cenderung ke kamu Hans,".
"jadi selama ini kamu menganggap aku dulu gay, sayang,". dengan tatapan mata yang berbeda.
"ahh..itu dulu sayang,". kekeh Ayunda.
mati aku,salah bicara lagi,batinnya.
ada senyuman semerik licik di wajahnya Zense.
__ADS_1