
Hidupnya seakan-akan hancur,mau tak mau dia akan menikah dengan Hamzah dan menjadi istri keduanya.
Orang-orang sekitar, nampak tak percaya mendengar kabar jika Laila menjadi istri kedua Hamzah. Walaupun keluarga dari ustadz Zulkifli,yang terpandang.
Ayunda,nampak tak percaya mendengar jawaban Laila. Ia bersedia untuk menikah dengan Hamzah, bahkan Wulan dengan senang hati memiliki madu seperti Laila.
Wulan,juga bercerita jika dirinya tidak bisa hamil. Maka dari itu,wulan mengijinkan suaminya menikah lagi. Asalkan dari perempuan baik-baik, seperti Laila yang di pilihnya.
Begitu banyak drama di buat oleh mereka,agar para warga percaya. Bahwa Laila, tidak terpaksa menikah dengan Hamzah. Laila,juga berkata akan menikah dengan Hamzah tanpa pemaksaan apapun.
Ustadz Zulkifli, mencoba berlahan-lahan berbicara dengan Laila. Apakah dia di paksa atau di ancam oleh Hamzah, sepupunya.
Laila, dengan mantap menjawab. Dia menikah dengan Hamzah,tanpa pemaksaan apapun. Ia bersedia untuk menjadi madunya Wulan, tentu saja wulan dan Suaminya tersenyum merekah.
Malam harinya. Ayunda, mengetuk pintu belakang rumah Laila.
Laila, membuka pintu belakang rumah nya. Matanya sembab sehabis menangis.
"Tenanglah, Tante tau. Kalau mereka mengancam mukan. Pasti mereka sudah merencanakan untuk ini,mana mungkin aksi mereka begitu lancar". Ayunda, memeluk tubuh Laila.
Ayunda,juga ikut menangis. Melihat kehidupan Laila, tanpa orangtuanya yang mendampingi dirinya saat seperti ini.
"Tidak tahu, Tante. Walaupun mereka sudah, merencanakan semuanya. Aku tidak ada bukti, membongkar semuanya Tante". Isak tangisnya Laila. "Daripada aku,merasa bersalah seumur hidup dan tidak berbalas budi kepada mereka. sama saja,aku selalu kepikiran dan hidupku tidak tenang ".
"Baiklah,kita keluar dari rumah ini. Kau, bersembunyi sementara di apartemen Al. Dia anak yang baik,gak bakalan macam-macam. Kalau macam-macam,biar Tante sate dia". Ucap Ayunda,membawa Laila kabur dari sini sementara.
"Tidak mau Tante,kenapa harus pergi. Biarkanlah seperti ini,aku yakin. Semuanya Laila, sanggup melewati segalanya". Laila, menolak perkataan Ayunda.
__ADS_1
"Dengerin Tante,yah... sekarang suami Tante, sedang mencari bukti-bukti mengenai ini semua. Anggap saja mengundur waktu Laila, sedangkan akad nikah besok jam sembilan pagi. Mepet sekali waktunya,Al dan teman-temannya juga sibuk mencari informasi lainnya. Walaupun di bantu beberapa orang,tak mungkin semulus yang di pikirkan. Karena Hamzah, menggunakan orang dalam". Ayunda, mencoba menenangkan pikiran Laila. Agar dia mau,di ajak kabur dari sini.
Laila, memandang wajah Ayunda yang tersenyum kepadanya. Ia memikirkan sejenak,jika di kabur. Apa kata orang-orang sekitar,pasti mereka akan mencari Laila. Di sisi lainnya, Laila sebenarnya tidak mau menikah dengan Hamzah. Walaupun niatnya hanya membalas budi semata, kepalanya nyut-nyutan memikirkan masalah ini.
"Bagaimana kata-kata orang sekitar Tante, orang-orang di sini baik sama aku. Aku takut, karena namaku sudah tercoreng karena aku kabur". Laila, bingung harus berbuat apa.
"Aiiss.... orang-orang sekitar sini, mereka tidak setuju dengan pernikahanmu. Mereka merasakan ada kejanggalan, ibu-ibu di sini. Berharap kamu, kabur Laila. Tante tau,kalau kamu di paksa oleh mereka pasti di ancamkan. Nah,maka dari itu lebih baik kamu kabur saja. Masalah besok,biar Tante yang beresin sama ibu-ibu. Tidak ada waktu lagi,ayo. Cepat kabur. Al, sudah menunggu mu di pinggir jalan". Ayunda, menarik lengan Laila.
"Makasih banyak, Tante. Walaupun aku, berkata sebenarnya. Percuma juga,karena aku tidak memiliki bukti apa-apa. Baiklah, makasih banyak Tante. Aku mengikuti saran dari Tante, maaf banyak merepotkan Tante dan lainnya". Laila, memeluk erat tubuh Ayunda.
Ayunda, tersenyum puas melihat Laila mau pergi juga.ia melepaskan pelukannya, menyuruh Laila mengendap-endap keluar dari belakang rumahnya.
"Alhamdulillah, akhirnya Laila mau. besok harus, siap-siap mengumpulkan ibu-ibu menyerang mereka". geram Ayunda,ia menyunggingkan senyumnya
Sedangkan di pinggir jalan. Al, gelisah sekali karena Laila tak kunjung datang.
"Aiiissshhh....mana nih,becus gak sih? Mamah, membujuk Laila kabur denganku". Gerutu Al, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Laila, syukurlah kau mau kabur. Ayo,masuk". Al, menuntut tangan Laila.
Dengan ngos-ngosan Laila, langsung masuk ke dalam mobil. Begitu juga Al,ia langsung bergegas menancapkan gas mobilnya, secepatnya ia kabur.
Kini Laila, mulai merasa tenang. Tapi, tangannya masih gemeteran takut ketahuan. Sebab Hamzah,sudah menyuruh beberapa orang mengawasi kediaman Laila.
Sesekali Laila, menengok ke belakang. Ia takut jika seseorang membututi dia dan Al, keringat dingin membasahi keningnya Laila.
"Tenangkan dirimu, Laila. Di jamin tidak ada siapapun,yang berani mengejar kita". Ucap Al,ia tersenyum kecil. Sampai kapan pun,kau tidak akan aku biarkan menikah dengan pria bajingan itu.
__ADS_1
"Tapi,Al? Aku sudah melaksanakan kesalahan besar, sudah pasti mereka semakin marah kepadaku. Al,balik aja yuk...aku mohon". Rengek Laila,ia memohon kepada Al dan menyentuh tangan Al.
Refleks Al, terkejut saat kulitnya di sentuh oleh Laila. Ini asal momen langka, biasanya Laila ogah-ogahan bersentuhan walaupun hanya bersentuhan dengan tangan saja.
"Tidak akan,kau harus menuruti perkataanku. Apa kamu yakin, menikah dengan Seseorang pria yang sudah memiliki suami Lai. Kau perempuan baik-baik,apa kata orang-orang nanti. Nama baikmu, tercoreng oleh orang jika sampai pernikahan ini terjadi. Lebih baik,kau menikah denganku". Senyum semerik Al, astagaaaaa....kenapa aku, keceplosan.duuh....
Laila,hanya diam mendengar ucapan Al. "gak lucu Al,canda boleh. Tapi tepat waktulah,ini masalah besar. Jika aku, tidak....".
"Cukup Laila,diam....kita sudah sampai,nanti saja ceritakan kepadaku semuanya".
Benar saja mereka,sudah sampai di apartemen milik Al. Namun masih di lantai bawah.
Laila, mengikuti langkah Al dari belakang. Ia calingukan melihat sekeliling saat keluar dari lift,lalu menuju pintu apartemen milik Al.
"Al,gak papa nih? Kita berduaan di apartemen, takutnya malah di grebek orang". Rengeknya Laila. "Seram juga,nih lorongan apartemennya mana sepi lagi". Kini Laila,malah dempet-dempet dengan Al.
"Bagus,kalau di grebek orang. Tinggal nikah,beres Laila. Tumben-tumbenan dempet-dempet sama aku, biasanya ogah-ogahan.Ayok,mauk...anggap saja rumah sendiri". Kekehnya Al, walaupun Laila terlihat Cemberut.
"Iisshhh... nyebelin banget sih? Untung baik,kalau gak dah... kabur,". Gerutu Laila,ia masuk ke dalam apartemen milik Al. Ia melihat sekeliling ruangan,nampak damai dan tentram. "Wahh..bagus apartemen mu Al,pantesan betah di sini".
"Kamarnya ada dua, bersebelahan denganku. Kalau takut,aku siap kok. Nina in bobo kamu, Laila. Mumpung kita berduaan,". Kedip mata Al.
"Gak jelas banget sih? Laper Al". Ucap Laila, tersenyum manja.
Membuat Al, gemes terhadap Laila. Ingin sekali menerkam Laila,tapi dia sadar karena mereka tidak memiliki hubungan apa-apa. "Baiklah,nanti kita pesan makanan. Di dapur, tidak ada bahan-bahan apa-apa. Di sana arah dapur,siapa tahu kamu haus. Di dalam kulkas,banyak minuman kaleng kalau mau".
"makasih banyak,Al. Kepalaku sudah hampir pecah, memikirkan bagaimana kedepannya. Mungkin saat ini,aku aman. Tidak tahu, nantinya bagaimana? Takut Al,gak nyangka hidupku seperti ini". Air matanya luruh sudah.
__ADS_1
Al, langsung duduk di samping Laila. Mencoba menenangkan hati Laila, tangannya merangkul pundak Laila dan menuntut ke pelukkannya. Gugup, itulah yang di rasakan oleh Al. ia mengelus lembut kepala Laila,yang masih menggunakan hijabnya. Sedangkan Laila, sudah menangis kesegukan di pelukkan Al. Tangannya Laila, menyentuh dada bidang Al.
Sekuat tenaga menahan gejolak di dada Al, detak jantungnya berdegup kencang. Bahagianya tidak terkira,karena ini adalah pertama kalinya bisa memeluknya. Anggap saja aku, mengambil kesempatan dalam kesempitan. maafkan aku, Laila. mengambil keuntungan,hihihi, batin Al