
"wedeh,mobil baru,". Ucap Regan,saat ia melihat siapa yang keluar dari mobil di parkiran.
"Beli apa dapet,". Kekehnya
"Alhamdulillah, dapat dari sumbangan,". Jawab Ayunda, dengan entengnya.
"Ck,mana ada, halu,".
"Ada, buktinya aku,". Jawab Ayunda.
"Jangan-jangan jampi-jampi nya manjur yah Yu,".
"Matamu jampi-jampi,aku duluan. Banyak kerjaan,". Ayunda, meninggalkan Regan. Dan masuk ke dalam ruang kerjanya.
Regan,tau darimana mobil yang di dapatkan Ayunda. Namun dia hanya diam dan membiarkan nya.
*****
Hari ini Regan,ada meeting bersama Zense Alvaro.
"Aku tak menyangka jika kamu menyukai Ayunda,".
Langkah kaki Zense, terhenti seketika saat mendengar ucapan temannya Regan.
"Kalau kamu tau,cukup diam,". Jawabnya dengan tegas lalu meninggalkan Regan,di ruang meeting.
Tak sengaja Ayunda, berpapasan dengan Zense. "Matiku sudah keliatan,mau balik gak bisa lagi terobos aja lah,".saat Zense, melewati Ayunda, tentu saja Ayunda,tengah membungkuk kan badannya. ia kira Zense,sudah berlalu pergi. Saat mendongak betapa terkejutnya ternyata Zense,masih di hadapan Ayunda.
"Ehh,masih ada. Silahkan tuan,". Kekeh Ayunda.
"Tunggu aku di mobil,". Ucap Zense,kepada sekertarisnya.
Sang sekretaris sudah menghilang di balik lift. Barulah Zense, memajukan dirinya dan menghimpit tubuh Ayunda. "Bukankah aku sudah bilang,jangan panggil tuan.panggil Zense,". Bisik Zense.
Hembusan nafasnya terasa di wajah Ayunda,ia masih menunduk tak berani mendongak kan wajahnya.
Aduh,gimana ini,batin Ayunda. Ia terus meremas maps di tangannya sendiri.
"Ak-aku hanya menjaga sikap saja karena kita masih didalam kantor,". Jawab Ayunda.
"Benarkah,jika sekali lagi kau memanggilku dengan sebutan TUAN akn aku beri hukuman,". Ancam Zense,namun ia tersenyum melihat Ayunda, sedekat ini.
Dengan cepat, Ayunda. Mendorong dada bidang zense, dengan sekuat tenaga. Karena usahanya tak berhasil akhirnya hanya pasrah, Zense memperkuat dekapannya.
Melihat wajah Ayunda,tak berani menatapnya. Zense, langsung menjauhi tubuh Ayunda. Karena ada kesempatan kabur.Ayunda, langsung berlari dan berucap. "Permisi Tuan Zense,maaf kecoplosan,". Teriak Ayunda,tengah tertawa.
__ADS_1
"Ayunda,". Teriak Zense. Tak menyangka jika Ayunda, malah menantang perkataannya.
Saat berlari sambil menengok kebelakang tak sengaja menabrak Regan, bos-nya itu.
Brukk.
"Auu, ngapain sih bos. Di tengah jalan,". Sungut Ayunda.
"Lah, marah balik. Kamu tu kenapa lari-lari,". Tanya Regan
Syukurlah kalau Regan,gak tau apa yang terjadi di lobi kantor tadi,batin Ayunda. "Aku buru-buru, permisi,". Pamit Ayunda.
"Aneh,pasti ada sesuatu". Kata Regan. Dengan senyuman kecilnya
"kenapa harus sedekat itu Zense, dengan ku. Gak bisa dibiarin ni lama-lama aku yang kena penyakit jantungan,". Ayunda,sambil memegang dadanya yang dari tadi berdegup kencang.
Sedangkan di mobil.
Zense,tengah senyum-senyum saat mengingat wajah Ayunda. "Kalau seperti ini terus bisa-bisa aku hilaf," gumam Zense.
"Lebih baik anda secepatnya menikahi nona Ayunda,kalau telat bisa-bisa terdahulu orang,". Ucap sekretarisnya.
Namun Zense,hanya diam tak menjawab perkataan sekertarisnya itu
***
"Kamu gak tau yu ? Itu acara lamaran si Ambar sama Johan. Anak pak Tejo, juragan sapi,". Jawab bu Sumi.
"Oh,enak dong Ambar,nikah sama anak juragan sapi,". Ujar Ayunda.
"Iya, tapikan bapak nya yang juragan sapi. Anaknya gak yu,". Timpal yang lainnya.
Tak berselang lama terlihat keluarga pak Tejo,keluar dari rumah Hendri.
"Mau kemana pak,". Tegur Johan, kepada bapaknya.
"Mau ke rumah Ayunda,lama gak ketemu dia. Dulu bapak akrab sama ayahnya,". Ujar pak Tejo.
"Gawat Hen, jangan-jangan pak Tejo, naksir sama Ayunda,". Bisik Neli,kepada adiknya Hendri.
"Jangan macam-macam kamu Hend.biar saja kalau pak Tejo, menemui Ayunda,". Cegah sang kakak Ambar.
Hendri,terdiam sambil menatap ke arah pak Tejo, menemui Ayunda, mantan istrinya.
Pak Tejo, merapikan tampilan nya agar terlihat lebih menarik di mata Ayunda.
__ADS_1
"Apa kabar Ayunda,". Pak Tejo, mengulurkan tangannya untuk berjabat.
Dengan senyuman manis Ayunda, membalas jabatan pak Tejo.
"Alhamdulillah,baik pak. Bapak kabarnya bagaimana,". Tanya Ayunda.
"Lebih baik kamu gak usah manggil bapak. Panggil saja Tejo,". Pinta pak Tejo,tak luput juga dengan mata genitnya.
Ck,tua bangga udah punya istri dua masih aja ganjen,batin Ayunda.
"Gak enak pak,kan umur kita terpaut jauh,". Kekeh Ayunda.
"Gak papa,kalau jodoh umur pun tak msalah Ayunda ku,". Goda pak Tejo, dengan cengiran kudanya.
Fix, walaupun Janda. Tapi masih padat cantik lagi,batin Johan. Tak luput juga menatap Ayunda,dan membuat dirinya terpesona.
Dasar tua-tua keladi, batin Ayunda.
"Maaf yah pak, Ayunda. Mau masuk kedalam dulu soalnya baru pulang kerja,". Ujar Ayunda. Mencoba menghindari.
"Kamu terlihat sukses sekarang yah pasti kamu capek kerja,nikah saja sama aku nanti akan aku jadikan kamu ratu di istana ku,". Rayunya lagi
Membuat Ayunda,nampak tak enak melihat sikap pak Tejo,yang sudah ke centilan. "Permisi pak Tejo,". Ayunda, langsung masuk kedalam rumah dan menutup lalu menguncinya.
"kapan-kapan aku akan mampir yah ratuku,". Teriak pak Tejo,dari luar.
"iiis, amit-amit jabang bayi, gak Hendri,gak pak Tejo,sama aja membuatku gak mood,". gumam Ayunda,di balik pintu. ia juga masih mendengar adu debat antara Hendri dan pak Tejo,di balik pintu rumahnya.
Bakalan berat sainganku, batin Hendri. "Pak Tejo, ngapain goda-goda mantan istri saya," tanya Hendri.
"Lah apa urusan mu Hend,kamu itu cuman mantan suami apa salahnya jika aku mendekati Ayunda,". Tanya pak Tejo.
"Hendri,ayo pulang.jangan bikin malu pak Tejo,itu bakalan jadi besan ibu nanti,". Cegah bu Sari.
"iya Hend,jangan cari masalah sama calon mertua kakak,". Bentak Ambar, setengah membisik.
"Aku gak peduli kak,aku gak terima kalau pak Tejo, berani-berani menggoda mantan istriku,". Geram Hendri.
"Ayo, pulang Hendri. Jangan bikin malu,". Bentak bu Sari, langsung menarik Hendri, menjauh kan dari pak Tejo.
"Kamu urus adikmu itu,jangan berani macam-macam denganku juragan sapi yang terkenal di daerah ini atau aku bisa membatalkan pertunangan dengan anak saya,". Ancam pak Tejo, kepada Ambar. Calon menantunya.
"Maaf,pak. Nanti saya nasehati,". Jawab Ambar,ia sedikit ketakutan.
"Kalau bapak marah,aku juga gak bisa bantu," kata Johan. Ia langsung meninggalkan tunangan Ambar,dan menyusul ayahnya masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Ambar,masih terdiam tak berkutik dengan dada memanas untuk bersiap-siap memarahi Hendri, karena sudah lancang dengan calon mertua nya.
Tentu saja Ambar,tak mau kehilangan Johan,karena dia anak orang kaya. Sudah pasti menjamin kehidupannya nanti.