TERLALU LELAH

TERLALU LELAH
Tersangka ke-tiga


__ADS_3

"apa kalian memberi makan mereka bertiga ini,". Tanya Ayunda.


"Hmm...kami hanya merantai kakinya saja, selalu kami beri makan tiga kali sehari. Baru saja di ikat seperti ini,". Jawab Zense.


"Selama empat hari mereka seperti ini,gerak susah apa lagi nafas. Aku yakin mereka sudah mati Yu,". Timpal Hans.


Sreetttt....


Penutup kepala itu di buka oleh Hans.


Deggg...


Mata Ayunda, terbalalak siapa tersangka yang terakhir.


"Bu sari...,".lirih Ayunda. Ia mengerjap matanya.


Keringat bercucuran membasahi wajahnya,ia juga terlihat menangis dan sangat berantakan.


"Kamu kaget sayang,hanya orang terdekat lah yang meneror mu,". Ucap Zense,ia membuka mulut Bu sari.


"Aaaaaa..,". Bu Sari, meringis kesakitan saat lakban di buka dengan kasar.


"Tolong aku Yu,". Teriak Bu sari, sambil memberontak di atas kursi. Terlihat wajahnya sedikit membiru dan bengkak.


"Apa kamu memukul bu sari, Hans,". Ayunda, melihat bengkak dan biru di pipi kanannya.


"Aku punya hati Yu,mana mungkin diriku memukul seorang wanita apa lagi emak-emak takut kualat aku. Dia memberontak gak sengaja terlepas ehh,malah jatuh dan wajahnya terkena sesuatu,". Jawab Hans


Mata Ayunda, menatap tajam ke arah bu Sari. Sepertinya dia tengah meringis kesakitan.


"Ampunilah aku Yu, lepaskan tali ini. Sungguh menyiksa, sangat sakit,huuu...huuu,". Isak tangis bu Sari. "Ini semua salahmu,aku benci karena kamu anakku memiliki penyakit menjijikkan itu. Coba kamu beri dia kesempatan lagi kembali membina rumah tangga. Aku yakin Hendri,tidak seperti itu. ini semua salahmu Ayunda,". Teriak bu sari


"coba bu sari, ingat-ingat dulu. Siapa yang menyuruh anaknya menikah lagi? Siapa juga menyuruh mas Hendri,menalak ku? Bukankah itu semuanya kesalahan bu Sari,". Decak Ayunda.


"Ck,masih saja menyebut mantan suami dengan kata Mas,". Lirih Zense.


"Hussssttttt...bukan waktu untuk cemburu bos,". Timpal Hans.


Ayunda, mengacuhkan perkataan Suaminya.

__ADS_1


"Itu hanya masa lalu, kenapa masih kamu ungkit Yu. Bukankah aku sudah minta maaf,".


"Aku mudah bu, memaafkan kesalahan seseorang. Tapi untuk melupakan nya tidak bisa bu, terlalu sakit yang aku rasa,". Mata Ayunda,sudah berkaca-kaca.


"kamu begitu kejam, memperlakukan aku seperti ini. Apa kamu lupa aku ini mantan mertua mu ha,wanita matre kamu Yu,". Mata bu Sari, memerah ia begitu marah pada Ayunda.


masih bisa mencaci maki diriku rupanya walaupun keadaan seperti itu, batin Ayunda.


"Gak ada untungnya bu sari,marah padaku. Sebentar lagi akan aku masukkan di penjara, biarkan sampai membusuk,". Sengit Ayunda


"tidak punya hati kamu Yu, bisa-bisanya memasukkan aku di penjara yang sudah berumur ini ha..! Dimana letak hatimu,". Teriak bu sari.


"Tidak usah teriak-teriak,jangan harap aku memberikan minum. Bukannya bu sari,yang tidak memiliki hati ha..! Dulu waktu aku masih menjadi menantu,selalu di perlakukan sangat buruk. Sekarang malah ngelunjak meneror diriku, heran sudah tua masih saja pikirannya kaya bocah,". Bentak Ayunda.


"Lepaskan aku Yu,dasar wanita jahat. Sok-sokan menolak rujuk dengan anakku tapi malah memilih pria kaya itu ha..dasar wanita matre kamu Ayunda,Ck..uhuk..uhukk..uhukk, tolong air...air,". Lirih bu Sari,ia tak bisa lagi berteriak.


"Sudah aku bilang bu, jangan berteriak karena aku tidak akan memberikan air walaupun hanya satu tetes. Bukankah aku ini wanita kejam persis yang bu sari,ucapkan,". Kata Ayunda, dengan sinis.


Bu Sari,terdiam. Ia mengontrol dirinya karena batuk masih menyiksa di tenggorokan.


"Lepaskan kain penutup kepala semua dan lakban di mulutnya juga Hans,". Ucap Ayunda. Hans, langsung mengangguk kepala.


Sebelum singa, bertanduk dengan cepat Zense, melepaskan pelukannya.


Selesai Hans, melepaskan semuanya. Terlihat mereka bertiga menatap tajam ke arah Ayunda.


Sedangkan Ayunda, duduk di sebuah kursi tepat di hadapan mereka.


"Berikan kami air dan makanan Yu,kami lapar," lirih bu Halimah, wajahnya pucat pias.


Ayunda, memutarkan bola matanya. "Hans, belikan makanan satu bungkus dan air botol mineral satu,". Ucap Ayunda.


"Satu, kenapa hanya satu Yu. Kami ini bertiga," ucap bu Halimah.


"Makanannya harus sate yah Hans," entahlah apa yang di pikiran Ayunda.


"Siap,". Ujar Hans. Ia meninggal ruangan tersebut.


Ada senyum kecil di sudut bibir Zense,ia mendekati istrinya.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan dengan mereka bertiga sayang,". Ucap Zense.


"Entahlah,aku masih memikirkan bagaimana menghukum mereka,". Ujar Ayunda.


"Lepaskan kami yu,kami ingin pulang,". Teriak pak Tejo.


"Waw...pak Tejo, perhatian juga dengan bu Halimah dan bu sari,".


"Bagaimana tidak perhatian sayang, mereka kan satu tim," Zense dan Ayunda cekikikan tertawa.


Pak Tejo, Bu Halimah dan bu Sari. Mereka saling pandang melihat tingkah suami istri di hadapannya.


"Lepaskan aku Yu,aku mau pulang. Pasti anakku Sinta,sudah mencariku kemana-mana,". Ujar bu Halimah.


"Aku juga yu, lepaskan ikatan ini. Aku mau pulang,ingat aku ini orang tua yang harus kamu patuhi jangan jadi wanita durhaka," timpal bu Sari.


"Aku juga Yu, lepaskan. Maaf, aku hilaf. Itu semua karena mereka berdua mengajak ku untuk meneror mu dan mereka juga menaruh boneka pengantin berdarah itu,". Jelas pak Tejo. "Saat mendengar kamu pingsan, mereka sangat senang bahkan mereka juga mendoakan kamu sekalian mati,". Sambung pak Tejo.


"Tidak, Yu. Apa yang di katakan pak Tejo,itu semua bohong. Dia hanya memfitnah kami,". Sahut bu Halimah.


"Memfitnah? Seperti bu Halimah, memfitnah Alm.bapakku kan bu,". Tanya Ayunda. Seketika bu Halimah,terdiam.


"Sudahlah,jangan saling menyalahkan. Bukankah semua ini kemauan kita bertiga ha,". Bentak bu Sari.


"Aku suka dengan kejujuran mu bu sari," sahut Zense.


"aku mohon lepaskan lah kami,jangan hukum kami. Bukankah kami sudah berumur sudah pastikan kami juga menikmati sisa umur tua kami bersama cucu dan keluarga. Kami hilaf Yu,di pengaruhi bisikan setan karena iri dengki dan kebencian,". Jelas bu Halimah.


"Apa yang di katakan bu Halimah,benar yu. Kami minta kemurahan hatimu,tolong jangan di penjara kan kami seumur hidup". Sambung pak Tejo.


Ayunda,menghela nafasnya. Jujur saja dirinya tidak tega memasukkan mereka di penjara apa lagi seumur hidup. Terlihat jelas bu Halimah dan bu sari, mereka menangis. Sedangkan pak Tejo,hanya tertunduk lesu.


"pikirkan yang terbaik sayang,jika mereka di biarkan pasti akan ngelunjak," ujar Zense, membuyarkan lamunannya.


"Aku janji,tidak akan melakukan hal gila lagi," sahut pak Tejo.


"Aku juga Yu, maafkan aku nak.berikan lah kesempatan untuk berubah,". Sambung bu Halimah.


"Lepaskan aku Yu,aku ingin pulang, maafkan aku. maafkan mantan mertua mu ini". Timpal bu Sari. Ck,malas sekali aku bermurah hati kepadanya,kalau tidak memohon mana mau Ayunda melepaskan ku.

__ADS_1


__ADS_2