
Ayunda, menikmati keindahan di pagi hari. Ia berjalan-jalan keliling sekitar rumahnya.
"Ada kabar mengejutkan lo,". Ujar bu RT.
Tentu saja Ayunda, tengah ikut bergabung dengan emak-emak.
"Gosip apa bu,".
"Penasaran,nih,". Timpal lainnya.
"It-itu pak Tejo,katanya sakit-sakitan. Mana gak bisa bangun dari tempat tidur,apa lagi istri-istrinya pada gak mau bawa dia ke rumah sakit,". Ucap bu RT. "Aku dapat berita dari orang-orang sana,".
"sama persis dengan bu sari,dia juga gak bisa bangun dari kasurnya. aku sering dengar Neli dan Ambar, teriak-teriak marah-marah gitu,". ucap bu Salma
"kualat mungkin dia, sama istri-istrinya.kasian bu Arum,sudah rela di madu,". Sindir lainnya.
"Ayunda,kamu yang sehat yah...jadi gak sabar nunggu anak kamu lahiran,". Kekeh bu RT.
"Sama,bu. Semoga lahirnya lancar, Yu.kami hanya bisa mendoakan kamu saja,". Timpal lainnya.
"Ehh... Bu Halimah,mau ikut gabung juga. Santai-santai ama kita-kita,". Tegur bu Lela.
saat melihat bu Halimah,baru datang.
"Hemm ..aku mau bicara sama Ayunda,ada hal penting,". Kekeh bu Halimah.
Tentu saja ibu-ibu di sana mencibiri bu Halimah, mereka tau semuanya.
Bu Halimah, menarik lengan Ayunda. Agar jauh dari kerumunan ibu-ibu tadi.
"Ada apa,bu? Main jauh-jauh,". Tanya Ayunda.
Ayunda,masih kesal kepada pak Tejo,bu Sari dan bu Halimah. Mereka sudan melanggar perjanjian tersebut.
Namun Ayunda,hanya membiarkan mereka. Saat ini pak Tejo dan bu Sari, berbaring lemah di atas ranjang sampai tidak bisa bangun lagi.
Mana mungkin Ayunda,mencoblos mereka ke dalam penjara. Biarkanlah hukum karma,yang mereka derita saat ini.
"begini Ayunda, bolehkah kami tinggal lagi di samping rumahmu. Masa kamu tega sama kami,kami ini keluarga mu lo,".
"Ck, keluarga bu? Bukankah bu Halimah, sendiri memutuskan silahturahmi kita. Saat aku mengusir kalian ha..! Tidak tahu malu,". Decak Ayunda. Maafkan mamah nak,mamah harus terbawa emosi menangani benalu satu ini.
"Maafkan ibu,nak. Waktu itu hanya emosi,kamukan tau. Sinta, anaknya tidak mau menyusu di badan. Mana bayar kontrakan,mana harus beli susu dan Pampers. Pengeluaran kami sangat banyak,gajih Vano tak seberapa. Kasihani kami Ayunda,". Lirih bu Halimah.
"Maaf,bu. Aku sudah benar-benar kecewa dengan bu Halimah, pertama sudah melakukan hal tak wajar kepadaku dan kedua melanggar perjanjian kita dulu. Seharusnya ibu malu bertemu ku lagi,untuk kali ini aku tidak mau membantu apapun itu," sinis Ayunda.
"kenapa jadi membahas sudah berlalu Ayunda,apa masih ada rasa dendam kepada kami,". Ucap bu Halimah.
__ADS_1
"Huuuuff...kenapa bu Halimah,mau bercerai dengan pak Tejo? seharusnya hidup bu Halimah, setidaknya terjamin. Tidak menyusahkan orang lain,aku muak dengan kata-kata yang keluar dari mulut anda,". Ayunda, menatap tajam ke arah bu Halimah.
Ia hanya menyungging senyuman kecilnya.
Dengan hati hampa.bu Halimah,pulang ke kontrakannya yang tak jauh dari tempat tinggalnya Ayunda.
Sesampai di kontrakkan ia meratapi nasipnya begitu menyedihkan.
"Bu, bagaimana? Apa Ayunda,mau kita tinggal di rumahnya dulu,". Ucap Sinta. Membuyarkan lamunan bu Halimah.
"Ayunda,tidak mau. Dia sudah membenci kita,". Jawab bu Halimah, dengan lesu.
"Uuhhhh....gimana dong bu..! Ini semua karena ibu sih," sungut Sinta.
"Kamu kerja Sinta,nanti ibu yang jaga anakmu. Lagian anakmu gak nyusu di badan,ibu tidak bisa bekerja lagi. Liat kaki ibu, seperti ini pasti orang-orang melihatnya jijik,". Ucap bu Halimah,ia meneteskan air mata.
Kakinya tak kunjung sembuh-sembuh,malah lebih parah dan tercium bau amis di kakinya.
"Iya,nanti aku cari kerjaan. Dasar Ayunda,bikin kesal saja,". Gumam Sinta
******
Praaannnkkkk....
Neli, melempar sebuah vas bunga di hadapan Hendri.
"Apa-apaan sih,kak. Main lempar-lempar barang," bentak Hendri.
"Kakak aja sana yang kerja,enak banget nyuruh aku. Aku ini lagi sakit perut kak,habis di tendang sama bodyguard Ayunda. Gara-gara Ayunda,coba aja dia mau rujuk sama aku. Hidupku pasti enak banget," kata Hendri.
"Ayunda, Ayunda, Ayundaaaaa.....!!!aku muak mendengar ucapan mu itu Hendri, Sampai kapan pun kamu tidak akan bisa bersama dia lagi. Lebih baik kamu kerja tau urus ibu dirumah,". Teriak Neli, begitu kesal.
"Suruh saja kak Ambar, mengurus ibu. Diakan enak hidup serba mewah, sekarang.kenapa harus aku capek-capek," dengus kesal Hendri.
Neli, mengacak-acak rambutnya.
"Ada apa sih? Teriak-teriak gak jelas, sampai-sampai kedengaran dari luar," tegur Ambar,yang baru datang.
"Gimana gak teriak-teriak,liat Hendri. Kerjaannya cuman hongkang-hongkang di rumah kak,nanti minta rujuk lah dengan Ayunda. Kemarin dia kena tendang di perut,kapok kamu Hendri. Makanya jadi laki-laki itu kerja,buat dirimu sukses. Kalau sudah sukses pasti Ayunda,mau,". Ucap Neli.
"Lebih baik kamu kerja. Ikut sama Johan, mengelola sapi. Jangan hongkang-hongkang mulu Hendri,kami capek juga,". Suruh Ambar.
"Ogah lah, ngapain nganu sapi. Iiiihhhh...bau banget," tolak Hendri.
"Kalau gak mau,cari kerjaan sana. Jangan lagi kamu kasih uang ke Hendri, Neli. Makan pun jangan di masakan,biar dia tau rasa. Badan besar laki-laki lagi,malasnya minta ampun,". Ejek Ambar.
"iya, iyah...nanti aku cari kerja,kalau perutku sudah sembuh membaik. Lebih baik kakak masak sana,aku sudah lapar banget atau kasih aku uang buat beli makanan. Kalian kan kakakku,jadi wajar memberikan uang kepada adiknya,". Hendri, mengucapkan tanpa memikirkan orang lain.
__ADS_1
Hati Ambar dan Neli, begitu memanas dan kesal melihat kelakuan adiknya Hendri.
"Jangan harap kami memasak untukmu Hendri,kamu kira kami ini babu ha...! Ini itu gak mau,sukanya menyuruh orang saja,". Neli, langsung pergi keluar rumah. Ia sudah sakit kepala menghadapi Hendri.
*****
"Makasih lo bu, pencoknya.aku suka sambal kacangnya," ucap Ayunda.
Bi Ijah,juga ikut mencok bersama Ayunda.
Ting....
Sebuah pesan masuk di ponselnya,namun terlihat nomor tak dikenal.
[Malam ini di hotel xxx temui aku, tapi hanya sendiri].
Deggg...
[Tidak bisa kalau malam. Bagaimana kalau siang].
Ayunda, langsung membalas pesan dari orang tak dikenalnya.
[aku tidak mau di hotel,apa kata orang-orang nanti.kalau kau tidak mau jangan harap kita bertemu].
Kenapa orang ini selalu mengajak ku di hotel,tidak bisa kah di tempat lain,batin Ayunda.
Ayunda, langsung mengirim pesan lagi. Namun tidak ada balasan dari orang itu.
"Non,siapa yah? Mengirimkan bunga setiap hari,". Tanya bi Ijah.
"Hemmm...gak tau bi,mana ucapannya aneh-aneh begitu. Ada juga mengirimkan pesan kepada ku, mengajak ketemu tapi di hotel bi," jawab Ayunda.
"Jangan mau non,siapa tau orang jahat. Kita mana tau,". Kata bi Ijah.
Ayunda hanya mengangguk kepala.
"Aku pergi dulu bi,ada yang di cari ke depan sebentar,". Pamit Ayunda.
Ia langsung meraih kunci mobil.
Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ayunda, berhenti sebuah minimarket.
Saat di parkiran tiba-tiba ada seseorang menyumpal mulutnya dari belakang, menggunakan sapu tangan.
cukup banyak mobil di parkiran dan nampak sepi,tidak ada yang menolong Ayunda.
"Heemmmpptt...hemmmptt..lep..pas... hemmptt...,". Sekuat tenaga Ayunda, memberontak tenaganya mulai melemah dan pengelihatannya memburam.
__ADS_1
saat sang penculik membawa tubuh Ayunda,kedalam mobil.
Ya Allah, lindungilah aku.