
Ceklekk....
Pintu ruang terbuka, keluarlah seorang dokter terlihat dari raut wajahnya nampak sedih.
"Bagaimana keadaan ibu,saya dok".
"Maafkan kami,nak. Ibumu,sudah tidak bisa di selamatkan lagi. Yang sabar,nak". Ucap dokter, tersebut
Duaaaaarrrrr.....
Bagaikan di sambar petir, di siang bolong. Laila, langsung bergegas masuk ke dalam melihat sang ibu. "Ibuuuuu..... Ibuuu.... Bangun,buuuu.... Jangan tinggalkan Laila,bangun buuuuu". Isak tangisnya Laila,sambil menggoyangkan tubuh sang ibu yang sudah tertutup kain putih.
Ia menangis sejadi-jadinya, bagaimana ke depannya nanti jika tak ada sesosok seorang ibu. "Aaaaaaakkkkhhh....". Teriak Laila,ia tak sanggup lagi untuk berdiri berlahan-lahan matanya mulai buram dan tak sadarkan diri.
******
Siang harinya. Jenazah ibu kandungnya, Laila. Akhirnya sampai di perkarangan rumahnya, begitu juga dengan Laila.
Secepat kilat, tersebarnya kabar jika ibu kandungnya Laila masuk ke rumah sakit. Terutama Ayunda.pagi harinya, Ayunda langsung menuju rumah sakit.
Sesampai di sana,ia melihat keadaan Laila sangat berantakan. Ayunda, juga syok dan terkejut jika sang ibu telah pergi selamanya.
Ayunda, sekuat mungkin membujuk Laila yang masih mematung dan membisu. Seakan-akan tatapannya kosong,ia tahu jika Laila sangat terpukul kehilangan sesosok seorang ibu.
Orang-orang sekitar,ramai di rumah Laila. Begitu juga teman-temannya, langsung datang saat mengetahui kabar tersebut.
Ayunda, merangkul tubuh Laila dan menghapus air matanya.
kebetulan sekali meninggalkannya ibu kandungnya Laila,Al dan teman-temannya berada di luar negeri. mereka tidak bisa ikut melayat dan menenangkan perasaan Laila yang sangat terpukul.
"Bagaimana ini? Lihatlah keadaan Laila, sangat memperihatinkan". Ucap bu RT, langsung.
__ADS_1
"Biar aku saja, mengurus Laila di rumahku. Biar aku,yang menjaganya". Jawab Ayunda, langsung. "Al,tidak ada di rumah. ia sudah lama pindah,jadi tidak apa-apa. jika Laila,di rumahku".
"Baiklah kalau begitu, Ayunda. kasian Laila, kalaupun kamu tidak mau. aku mau kok,jaga Laila ". sahut ibu lainnya,merasa iba kepada Laila.
"benar,kami mau jaga Laila. biar rumah gak sepi". timpal lainnya. namun Ayunda, langsung menyangkal bahwa dia saja menjaga Laila.
Semua orang-orang sepakat dengan ucapan Ayunda. ibu-ibu lainnya, mempercayai jika Ayunda bisa menjaga Laila.
Jenazah ibu kandungnya Laila, sudah di makamkan. Ayunda, langsung membawa Laila ke rumahnya.
Kamar Al,menjadi milik Laila. Ayunda,juga memerintahkan kepada ibu-ibu lainnya. Agar baju-bajunya,tolong di bawakan ke rumahnya.
Malam harinya. Ayunda, membujuk agar Laila makan. "Makanlah, Laila. Jangan menyiksa dirimu sendiri,".
Laila, menatap ke arah Ayunda. Ia langsung memeluk tubuhnya dan menangis. "Jangan terlalu bersedih Laila, ikhlas kan. Perjalanan hidupmu,masih panjang sayang". Ayunda, menghapus air matanya. "Makan yah, dari pagi sampai sekarang belum makan".
Maafkan aku,bu. Ini semua salahku,ibu sudah lelah bekerja siang malam. Maaf,aku belum sempat membahagiakan ibu. Benar kata tante Ayunda,aku harus bangkit. Perjalanan kehidupan ku,masih panjang. Walaupun ibu,tidak ada di sampingku. Setidaknya selalu ada di hatiku, semoga aku bisa melewati semuanya. Tanpa seorang ibu, terimakasih atas semuanya bu, batin Laila.
"Dulu, Tante juga pernah di posisi ini sayang. betapa terpukul dan hidup pun seakan-akan tidak mau. saat kita benar-benar kehilangan sesosok seorang yang kita sayang, tapi percayalah. suata hari nanti pasti kamu,dapat kebahagiaan lebih". Ayunda, tersenyum. "memang awal-awal sangat sulit, jalani saja. seiring waktunya, semua akan baik-baik saja. bukan melupakan, kenangan indah bersama masih di dalam hati kita,".
Laila, meneguk air putih. "terimakasih, Tante". isak tangisnya Laila. "maaf,sudah merepotkan Tante. seharusnya Laila,tidak seperti ini. Laila,yakin bahwa tanpa orangtua. Laila,bisa sukses nantinya".
"Kamu harus semangat, perjalanan hidupmu masih panjang. jangan sia-siakan,hanya termenung dan bersedih. maaf, Al dan teman-temannya tidak ada. mereka tengah melakukan bisnis ke luar negeri, mereka hanya titip salam". Ayunda, mengambil bekas piring Laila. "istirahat lah, Tante keluar dan ke kamar". Laila,hanya mengangguk pelan.
selepas kepergian Ayunda, Laila teringat dengan ibunya. air matanya tumpah lagi,ia turun dari ranjang dan menuju pintu kamar lalu menguncinya. ia tak mau ketahuan oleh Ayunda, sudah cukup merepotkan dirinya.
*******
Sudah dua hari. Laila, tak masuk bekerja, rencananya besok ia kembali beraktivitas seperti biasa.
Sore harinya. selesai membuat kue bersama Ayunda,di dapur. kini mereka menikmati kue, buatan mereka.
__ADS_1
ya Allah, seperti inikah rasanya. jika aku memiliki seorang anak perempuan, begitu hangat. sangat beda dengan anak laki-laki, sekarang masing-masing sibuk sendiri. dari kejauhan J, menatap ke arah Ayunda.
seakan-akan J, tahu apa yang di pikiran Ayunda. J,hanya menghela nafasnya dengan berat.
"Akhirnya selesai juga,tinggal menikmati secangkir kopi panas". kekehnya Ayunda. "ya sudah,kita bersih-bersih dulu. biar badan kita, segar".
"Baiklah, kita mandi-mandi". jawab Laila, dengan sumringah. keadaan dapur Sekarang sudah bersih,tidak acak-acakan seperti tadi.
Ayunda, masuk ke dalam kamar. ia menoleh ke arah Suaminya. yang sedang sibuk dengan laptopnya. saat Ayunda, mengambil handuk. tiba-tiba J, memeluk erat tubuh istrinya dari belakang. "menangis lah sayang". lirih J.
Ayunda, seketika berbalik badan dan memeluk suaminya. ia menangis sejadi-jadinya, bagaimana tidak menangis. Ayunda, sangat menginginkan seorang anak perempuan. tapi sayang, rahimnya sudah di angkat. "maaf". lirih J,ia menghapus air matanya sang istri.
"Bukan salahmu,J. tapi aku,aku yang salah. akun-aku tidak bisa menjaga diriku". ucap Ayunda, dalam isak tangisnya.
J, memejamkan matanya. walaupun dia sudah menghabisi nyawa Yolanda. Tapi, baginya belum puas sama sekali. bahkan detik ini,sang istri masih bersedih.
Ayunda,belum tahu. jika J, sudah menghabisi nyawa Yolanda dan menyiksanya. Ayunda,hanya tau. jika Yolanda, sudah meninggal karena kecelakaan tersebut. padahal J, sendiri yang menghabisinya.
"hussssttttt.... berhentilah menangis sayang,apa perlu aku suruh Al cepat-cepat menikah. lalu menyuruhnya jangan menunda-nunda kehamilan dan anaknya,kita rawat. semoga saja cucu pertama kita, perempuan".
Ayunda, menatap ke arah Suaminya. "sayang,kamu kira bikin bayi. gampang gitu,kaya bikin kue hemmm....perlu proses dong,apa lagi dengan cara di jodohkan. makin sulit sayang, ekstra sabar,".
"Kalau masalah itu,gampang sayang. kita kasih saja mereka,obat perang-sang. beressss....". jawab J, dengan santainya.
"iiissshhh.... sudah tua, semakin menjadi-jadi saja". gerutu Ayunda,ia bangkit dari tempat duduknya. Namun di tarik tangannya oleh J, berakhir jatuh di pangkuannya. "lepasss...mau mandi,".
J,hanya menyeringai tajam ke arah Ayunda. "satu ronde sayang". J, langsung menyambar bibir sang istri. Ayunda,terlena dengan sentuhan lembut dari J. walaupun sudah tua,tapi kekuatannya menghunjam tubuh Ayunda jangan di ragukan lagi.
Tidak sabaran lagi,J langsung melepaskan pakaian istrinya. yang kini sudah sama-sama polos.
"Aahhhhhh.... Oouhhh...shhh....". des-ah Ayunda, merem melek menik-mati sent-uhan lembut dari J. ciumannya turun ke leher dan tangannya bermain di daerah sensi-tif Ayunda.
__ADS_1
tangan lentiknya bergerayang ke arah milik J,yang sedari tadi berdiri tegak lurus. J, membiarkan istrinya bermain di aset berharga miliknya yang siap meluncur.