TERLALU LELAH

TERLALU LELAH
Sixpack (S2)


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, setiap hari libur. Al, menyempatkan diri lari pagi.


Saat menoleh ke arah rumah Laila,ia melihat Laila sedang sibuk menyiapkan kue-kue yang di antarnya.


Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah. Ia membantu sang ibu, mengantar pesanan kue-kue orang.


"Semangat banget, ngantar kuenya". Tanya Al, sambil merentangkan kedua tangannya.


"Kalau gak semangat,gak hidup,". Jawab Laila,menyusun semua kue-kue ke dalam wadah.


"Iyayah...kaya aku nih, semangat olahraga pagi. Biar badanku kekar, seperti papahku". Ia memperlihatkan otot tangannya, membuat Laila geleng-geleng kepala.


Namun bukan hanya otot,yang di perlihatkan Al. Ia calingukan melihat sekeliling, tidak ada orang lain selain mereka berdua. Dengan ide jail, Al mengangkat bajunya dan memperlihatkan sixpack perutnya yang di penuhi kotak-kotak.


"Astagfirullah,Al....". Pekik Laila,ia langsung memalingkan wajahnya. "Kamu benar-benar gila Al...!!! Sudah menodai mata suciku ini, benar-benar yah,". Geram Laila,namun Al hanya cekikikan tertawa.


"Lai....Lai...baru liat perutku,kamu sudah seperti itu. Bagaimana kalau lihat yang lainnya,". Goda Al,ia sangat menyukai mengerjai Laila.


"Dasar mesum,". Geram Laila, wajahnya bersemu merah seperti tomat masak.


"Mesum...? Pikiran kamu yang mesum,aku hanya memperlihatkan dada bidang kokoh saja. Pikiran kamu yang kemana-mana Laila,mesum". Kekehnya Al. "Jangan lupa antar kue ke rumah,bentar lagi mamahku bangun,". Kini Al, meninggalkan Laila. Ia melanjutkan lari paginya.


"Gilaaaa.... awas kamu Al, astagfirullah.... pagi-pagi sudah di suguhi dengan sixpack perutnya Al. Astagfirullah, nyebut-nyebut Laila. Ini dosa, astagfirullah". Laila, mengusap wajahnya dengan kasar.


Dengan pikiran kemana-mana, dia tetap santai seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Ia langsung menancapkan gas motornya, dengan kecepatan sedang. Biasa mengantar kue, berbagai warung menitipkan kue-kue dan lainnya.


******


"Makasih kuenya Laila,mau mampir dulu". Tanya Ayunda, menyambut kue yang di antar Laila.


Selesai dengan pesanan orang-orang lain, barulah Laila mengantar pesanan Ayunda.


"Makasih Tante,mau pulang saja. Soalnya banyak pekerjaan lain,". Laila, langsung menolak memang benar dia banyak pekerjaan rumah yang belum selesai.


"Iiisss...kamu rajin banget sih,mana buatan kuenya enak lagi". Kata Ayunda, tersenyum.

__ADS_1


"Makasih Tante, jadi gimana gitu di puji -puji. Sampai-sampai baju Laila,jadi kebesaran di puji sama Tante Ayunda. Pamit pulang dulu Tante, makasih banyak sudah mau membeli kue-kue buatan kami". Ucap Laila, sebelum pulang.


"Sama-sama nak, Laila ". Jawab Ayunda, menatap kepergian Laila.


Ayunda, langsung membawa kue-kue keruang tamu. Sudah di tunggu sang suami.


"Ini sayang,kuenya". Kata Ayunda,kepada J. Mereka menikmati suasana pagi hari, di temani secangkir teh hangat tak lupa dengan kuenya.


"mau kemana hari ini, sayang". Tanya J, kepada Ayunda.


"Hemmm...gak kemana-mana sih,sayang. Emang kenapa,ada sesuatu kah". Tanya Ayunda,ia bersandar di bahu J.


"Aku mau ajak kamu, jalan-jalan bersama temanku. Jam sembilan pagi,kita harus bersiap-siap sayang,". Kata J, ia mencium kening Ayunda.


"Ciyeee... romantisnya,". Kata Al,yang bergabung dengan orangtuanya.


"Mana adikmu Al,setiap hari betah banget di dalam kamar. Mamah,sampai tidak pernah melihat dia berteman dengan anak-anak lainnya. Game terus,". Mata Ayunda, mendelik ke arah J.


"Baguslah gak keluyuran dan gak bikin resah, berkurang juga pikiranku,". Kini J, mendelik ke arah Al.


"Al,kamu masih pacaran sama Annisa? Mamah, kemarin lihat lo. Kalau dia sedang jalan-jalan,sama pria lain. Mana mungkin mereka tidak memiliki hubungan apa-apa, begitu mesra sekali mereka berdua,". Padahal Ayunda,sering melihat Annisa tengah berjalan dengan pria lain.


Bahkan ayahnya Annisa,juga menjalin kerjasama dengan perusahaan Ayunda. Ia juga mengenal bagaimana? Watak ayah tirinya Annisa, yaitu pak Bahar.


"Aku tahu mah,tapi gak sekarang aku mutusin dia. Biarkan saja dulu,mau sampai mana dia bertahan. Lagian,dia tidak penting bagiku. Mungkin tidak lama lagi,aku akan mengakhiri hubungan ini,". Jawab Al,ia mencomot satu kue di atas piring.


"heran pacaran sama dia,kok bisa kamu pacaran sama anak pak Bahar. Terkenal pelit, begitu". Tanya J, kepada anaknya.


"Ehhh... papah,suka gosip juga. Sampai-sampai tahu, jika ayahnya Annisa pelit,". Al, memainkan kedua alisnya.


"Papah,hanya mendengar sedikit saja. Itupun dari mamah mu,yang suka ngerumpi sama ibu-ibu di sini". Kata J, dengan santainya.


Plakkk....


Ayunda, menampar lengan suaminya. Sang empunya hanya diam, sambil memusut bekas tamparan Ayunda. "Ck, kapan aku bercerita tentang pak Bahar sama kamu sayang? Perasaan gak ada deh". Delik mata Ayunda.

__ADS_1


"Ada,kamu yang lupa. Aku ingat kok,lagian orang-orang juga tahu". Jawab J,ia juga mengambil satu kue di piring tepat di atas meja.


"Mah,bantuin Al yah,". Rengeknya kepada sang ibu,ia langsung mendekati ibunya.


"Bantuin apa sayang? Hemmm...katakan kepada mamah". Ayunda,memusut kepala anaknya yang sudah besar.


J, menatap tajam ke arah Ayunda. Berarti dia ingin juga,di elus-elus manja.


"Dasar suami posesif,". Gerutu Al,ia mencibik bibirnya.


Dengan cepat J, melempar satu bantal di dekatnya. Namun dengan sigap Al, menepis bantal dan melempar balik. sampai berulang kalinya, membuat Ayunda geram.


"Udah-udah... ngapain lagi sih,main lempar-lempar bantal segala. Tadi mau minta bantuan apa nak". Tanya Ayunda, melerai anak dan suaminya.


"Hari ini Annisa,mau di temanin jalan-jalan mah. Pasti dia mau beli ini itu,aku sih gak pelit. Tapi,dia sudah berkhianat di belakangku mana males lagi. Nunggu waktu tepat,buat mutusin dia. Pliss... bantu aku mah,bentar lagi bakalan datang Annisa,". Rengeknya Al, seperti perempuan. Ia ingin berbaring di atas paha sang ibu,namun J tiba-tiba duluan.


Ayunda,hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku mereka. "Hemmm...mamah,bantu kok sayang,". Jawab Ayunda,ia tersenyum manis.


"Makasih,mamah. Aku kekamar Kai,dulu". Pamit Al. Ia juga mencium sekilas sang ibu,di pipinya. Namun dengan cepat, J menyapu bekas ciuman Al dan di ganti dengan ciumannya.


"Sayang,dia anak kita. Kamu apa-apaan sih,". Tanya Ayunda, sang suami sangat posesif terhadapnya.


"No....kamu hanya milikku sayang,". J, melu-mat bibir Ayunda.


Al,yang ingin kembali ke ruang tamu ingin mengambil ponselnya ketinggalan. Ia hanya geleng-geleng kepala, melihat orang tuanya sedang berciuman dengan mesra. "Dasar,tidak tahu tempat". Gerutu Al. "Mau kemana kamu,". Al, langsung mencegah adiknya yang mau ke ruang tamu.


"Mau ambil kue,". Jawab Kai, tangannya masih di pegang oleh sang kakak.


"Jangan,ini adegan plus-plus. Gak wajib,kamu lihat. Kita balik ke kamar saja yah,". Pinta Al,yang menarik lengan adiknya.


"Lepas kak,aku mau kue". Bentak Kai,ia memang sering melihat kedua orang tuanya yang sering bermesraan.Namun bag Kai,bodo amat.


karena mendengar keributan anaknya.


Akhirnya J, langsung menghentikan ciumannya karena mendengar suara anak-anak mereka. walaupun seringkali Ayunda, memberitahu jika mereka jangan melakukan kemesraan luar kamar. tapi J,hanya manggut-manggut tanda paham. namun tetap J, lakukan tak peduli dengan ocehan sang istri.

__ADS_1


__ADS_2