
"yang tengah apa ujung ni yang di buka,". Tanta Hans.
Yang mana yah? "Yang tengah saja Hans,". Jawab Ayunda. Ia bingung siapa lagi soalnya baju mereka tertutup dengan jubah hitam "tutup saja wajah pak Tejo,aku enekkk liat wajahnya,". Hans, langsung menuruti kemauan Ayunda.
Hans, mendekati yang tengah. Terlihat seorang wanita dengan rambut panjang yang di ikat begitu juga di sampingnya.
Sreetttt..
Deggg..
"Bu Hali-limah,". Lirih Ayunda. astagfirullah,kenapa bu Halimah? aku sampai tidak menyangka ternyata. Ayunda, menutup mulutnya.
Yah, tersangka ke-dua bu Halimah.
Mulutnya di bungkam juga dengan lakban, keringat membasahi wajahnya dan rambut sedikit acak-acakan.
Terlihat wajah bu Halimah,pucat pias. Mata merah seperti dia menangis. Ayunda, mendekati bu Halimah. Ada tatapan tak percaya di wajahnya. Orang di dekatnya sekaligus keluarga kini tega meneror dirinya.
Ayunda, membuka lakban di mulut bu Halimah.
Ya Allah,kenapa orang didekat begitu jahat denganku,batin Ayunda.
"Ayu-Ayunda...,". Lirih bu Halimah,ia seperti ngos-ngosan.
Mata Ayunda,sudah berkaca-kaca. "Kenapa bu Halimah,tega denganku. Kurang baik apa aku selama ini bu,". Lirih Ayunda,air matanya juga menetes segera mungkin dia menghapusnya.
Hans dan Zense,hanya diam melihat dramatis saat ini. Keluarga terdekatnya begitu kejam kepada Ayunda.
"Maafkan,aku Yu..aak..akku hilaf...,". Lirih bu Halimah,air mata berderai membasahi pipinya.
"Hilaf..? Bukankah bu Halimah, melakukan itu atas dasar bu Halimah, sendiri,". Decak Ayunda.
"Popcorn,enak ni bos,". Hans, menyenggol lengan Zense.
"Kau buat saja pak Tejo, seperti popcorn. Biar kamu puas,". Jawab Zense,ia sedang asyik menikmati suasana baru.
__ADS_1
Ada tatapan benci di mata Ayunda. Ia juga tersenyum kecil.
"Maafkan,aku nak Ayunda," isak tangisnya bu Halimah.
"Ck,aku memberikan kalian tempat tinggal gratis tanpa bayaran sedikitpun apa lagi Kalian juga semena-mena terhadap aku.apa di hati bu Halimah,masih ada dendam di masa lalu ha? Tidak tahu berterima kasih, untung dulu tidak kami laporkan ke polisi akibat memfitnah bapak mencuri uang. Aku tidak menyangka bu Halimah, seperti ini. Siap-siap kalian masuk penjara,". Ujar Ayunda
"maafkan aku nak,aku hilaf.karena kebencian terhadap mu jadi aku senekat ini nak,". Air mata bu Halimah luruh.
"Benci..? Benci apa bu,kurang baik apa aku selama ini. Hapus air mata buaya mu itu,aku muak melihatnya. Bukankah bu Halimah,juga bersimpuh di kaki Bapak. Tapi nyatanya hal sementara tidak membuat bu Halimah jera, buktinya bu Halimah melakukan kesalahan fatal dengan ku lagi. Bu Halimah,kira bisa bermain-main dengan ku,". Decak Ayunda, dengan mata memerah.
"Maaf,nak Ayunda. Tolong lepaskan ibu,kasian Sinta. Dia sedang hamil besar,". Lirih bu Halimah.
"Bagaimana kalau Sinta,aku bawa ke sini. Akan aku hajar habis-habisan tak peduli lagi dengan janinnya. Bu Halimah,saja tega pastinya aku tega,". Senyum semerik Ayunda. Ia hanya mengancam saja.
"Jangan Ayunda,apa kamu tidak ada hati melakukan itu semua. Bukankah kita keluarga,ingat itu,".
"Ck,apa ibu Halimah tidak mempunyai hati. Setega itu meneror ku ha,". Teriak Ayunda. Benar-benar bikin aku gregetan.
"Jangan teriak-teriak sayang, nanti suara mu habis lebih baik suaramu di simpan untuk mendesah di bawah kungkungan ku,". Ucap Zense.
"Lah, bukankah kamu sudah jadian sama Susi,". Zense, menahan tawanya.
"Ogah,emang aku gak normal apa. Jeruk makan jeruk,".
"Huufff... kalian bisa diam gak,". Bentak Ayunda.
Seketika Zense dan Hans,diam. Mereka tidak mau kena getahnya.
Diam sajalah, takutnya gak dapat jatah,batin Zense.
mampus, semoga bos gak dapat jatah malam ini,batin Hans.
"Bagaimana nasip Sinta,jika tau ibu kandungnya masuk penjara. Aku yakin, setelah anak itu lahir pasti Suaminya akan menceraikan dirinya. Mana mau punya mertua yang masuk penjara,apa lagi mertua Sinta tak Sudi memiliki seorang besan narapidana,". Sengit Ayunda.
"Jangan... aku mohon... jangan kamu hancurkan kehidupan anakku,". Bu Halimah, menangis histeris.
__ADS_1
"Itu pantas yang kalian dapatkan, hukuman untukmu bu. Makanya mikir sebelum bertindak,kalian kira aku diam begitu ha? Oh,tentu tidak bu! Suamiku akan mencari sampai ke akar-akarnya siapa mengusik ku, bukankah begitu sayang,". Ucap Ayunda.
"hmmmmm...apa yang di katakan Ayunda,itu memang benar. Kalian akan aku pastikan membusuk di penjara,". Zense, menatap tajam ke arah bu Halimah.
"Tidak,itu tidak mungkin.kami hanya melakukan meneror saja,tidak macam-macam,itu tidak adil jika hukuman ku seumur hidup," teriak bu Halimah.
"Terserah kami dong,mau menghukum kalian seperti apa,". Jawab Ayunda.
"itulah akibatnya bermain-main dengan kami bu,harus siap tanggung akibatnya yang lebih berlipat ganda," sahut Zense.
"Kamu jahat Yu,tega. Melakukan hal keji ini kepada keluarga mu sendiri,". Bentak bu Halimah.
"Gak ngaca dulu bu! bukankah bu Halimah,yang lebih dulu kejam ha..! Sok-sok ngatain kejam padahal nyindir diri sendiri,". Decak Ayunda.
Bu Halimah,diam. Hanya bisa menangis saat ini,ia berharap ada kemurahan hati Ayunda.
Namun sangat jelas jika tatapan Ayunda, sangat benci.
"jangan harap aku bermurah hati bu, karena aku bukan bapak. Yang selalu memaafkan kesalahan orang, semakin di biarkan malah ngelunjak. Orang kejam terlahir dari orang baik bu,ingat aku akan mengusir Sinta. Aku tidak sudi memilki keluarga dengan kalian,yang tidak tahu berterima kasih,". Jelas Ayunda.
"Jangan usir Sinta, Yu. Mau tinggal dimana dia? Dia lagi hamil besar,aku mohon lepaskan aku. Kasian Sinta, sebentar lagi lahiran. Aku mohon lepaskan aku Yu,aku hilaf,". Bu Halimah,ingin sekali bersimpuh di kaki Ayunda. Namun apa daya dirinya di ikat begitu kuat.
"Aku tidak peduli,mau dia tinggal dimana. Bukankah Sinta,juga memiliki suami. Uuhh...aku yakin suami sementara, setelah mertua Sinta tau. Kalau bu Halimah,masuk penjara. Tidak akan lama lagi Sinta,akan menjadi Janda. Dia menghidupi anaknya sebatang kara,". Herdik Ayunda.
"Jangan... jangan korbankan anak dan cucuku,ini semua salahku. Hukum saja aku Ayunda,". Pinta bu Halimah.
Ayunda, tersenyum licik.
Sepertinya aku mempunyai ide cemerlang, batin Ayunda. "terima saja akibat yang bu Halimah,buat sendiri,". ketus Ayunda.
"aku mohon, lepaskan aku. aku janji tidak akan mengulanginya lagi. aku menyesal Yu, pasti anakku sangat khawatir sudah empat hari aku menghilang,".
"aku tidak peduli,malah bagus anakmu khawatir bu. rasakan itu! bukan bu Halimah, sendiri yang bikin ulah,". decak Ayunda,ia tersenyum sinis. "tutup lagi mulutnya dengan lakban,terus tutup wajahnya juga,".
"siap,kita lanjutkan yang ketiga,". kekeh Hans.
__ADS_1
"aku mohon, jangan di bungkam lagi mul..hmmm...hhmmm..,". mulut bu Halimah,sudan di bungkam Hans. ia juga menutup kepalanya. terlihat jelas kepala bu Halimah, bergeleng-geleng.