
beberapa Minggu kemudian.
Dimana pengumuman kelulusan, akhirnya keluar. Semua murid kelas XII di nyatakan lulus.
Mereka semua terharu, mendengar pengumuman kelulusan tersebut.
Ada juga merasakan sakit hati,karena hari ini adalah hari mereka berkumpul seperti ini. mereka saling berjabatan tangan dan berpelukan, sambil mengucapkan semoga sukses kedepannya.
Tak lupa beberapa murid lainnya, menyumbang pidato dan acara meriah yang di selenggarakan bersama. Seperti bernyanyi bersama-sama dan berjoget-joget.
Selesai dengan acara di sekolah. Mereka pamit,pergi ke pantai secara bersama-sama. Seragam sekolah mereka, penuh dengan coretan tanda tangan.
Sepanjang perjalanan para murid-murid lainnya, bernyanyi hingga ke tempat tujuan. Tak hanya dari sekolah mereka saja, namun sekolah lainnya juga. di pantai begitu meriah,di penuhi anak-anak sekolahan.
"Kayanya bakalan sedih,kita jarang kumpul-kumpul seperti ini". Ucap Shelly, sambil tersenyum kecil.
"Hemm... kita bakalan sibuk, dengan urusan masing-masing". Sahut Laila, menatap ke arah mereka.
Yang lebih sedih itu aku, Lai. Tidak melihat wajah cantikmu lagi,aku sibuk dengan pekerjaanku. "Hemmm...semoga sukses selalu buat kalian". Kata Al,ia tersenyum manis.
"kapan-kapan kita,bisa kumpul di kafe atau dimana gitu". kata Dion. "kalau kumpulan bakalan aku,pacarku". kekehnya.
"Nah,lo zakir gimana? ada gak". tanya Herman, dari tadi tangannya selalu bergandengan dengan tangan shelly.
"Wahhh.. masalah itu,bisa di atur". jawab zakir, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
yang lainnya hanya cekikikan,sudah pasti teman satu ini masih jomblo.
Mereka tak lupa saling mengucapkan kata selamat atas kelulusan masing-masing, walaupun ada rasa sedih jarang untuk bersama-sama seperti dulu. Masa-masa indah sekolah,telah berakhir.
Al dan teman-temannya,mulai sekarang mereka akan fokus dalam pekerjaan. Tidak seperti dulu,lagi.
Shelly,juga fokus dengan kuliahnya karena ingin menggapai cita-citanya menjadi seorang dokter. Seperti ayah dan kakaknya.
Sedangkan Laila,ia tak sanggup melanjutkan kuliahnya. Terpaksa dia harus bekerja keras untuk membantu sang ibu, walaupun cita-citanya menjadi seorang dokter. Akhirnya pupus sudah,hanya angannya saja.
Dion, Zakir dan Herman. Mereka juga memiliki tanggung jawab masing-masing,di perusahaan cabang lainnya. Al, mempercayai mereka menjadi tangan kanannya.
__ADS_1
******
Satu minggu kemudian.
"Sama siapa kamu, tinggal Al? kenapa juga harus pindah". tanya Laila, sambil melihat Al membawa barang-barang masuk ke dalam mobil.
"Aku tinggal di apartemen,hanya sendirian. lagian aku,sudah besar. kalau mau ke sana, main-main juga boleh. ajak Shelly, nanti aku ajak Herman". jawab Al, tersenyum manis.
"Ck,yang ada jadi obat nyamuk Al. melihat ke uwuwuwuan mereka,". jawab Laila.
"kan ada aku Lai,apa kek gitu. mengisi waktu luang,kamu gak cari pacar gitu". tanya Al, membuat mata Laila membulat sempurna.
"Gak, ngapain pacaran. yang ada sakit hati tau,". kekehnya Laila. "kapan-kapan lah, nanti aku kabarin, bakalan main-main ke sana".
"langsung nikah, maksud kamu? hemmm..kabarin aku yah,". aku selalu ada waktu untukmu Laila, walaupun aku tahu,isi hatimu hanya menganggap bahwa diriku hanya seorang teman. semoga kamu, menyadari bahwa aku menyukaimu sejak pertama kali melihatmu.
bakalan sepi,gak ada Al. biasanya ada aja yang di ributin, sekata saling jauhan. "Oke deh, nanti gampang kok".
Yahhh...ibu segala datang, jadinya Laila gak jawan pertanyaan ku yang awal, gerutu Al.
serem banget Tante Ayunda, pantesan Al gak berani sama mamahnya. "apa yang di katakan mamahmu,benar Al". sahut Laila,ia cekikikan.
"hemmm...iya mamahku,sayang. jangan lupa juga, anaknya di jenguk. mentang-mentang di rumah damai,sampai lupa punya anak di luaran". jawab Al, tersenyum kecil.
"Ehhhh...kamu ini yah,gak bakalan lupa kan kamu anak mamah". ucap Ayunda, memberikan berkas ke arah Al. "ini berkas yang kamu,minta kemarin".
"Semuanya sudah,siap boy". kata J, barusan keluar.
"sudah pah,ini mau pamit pergi. Laila,aku pamit yah. jangan lupa, selalu semangat. kalau kangen,gampang tinggal hubungi aku". kedip mata Al, membuat Laila tak enak hati. apalagi di hadapannya ada kedua orangtuanya Al.
"Apaan sih,gak jelas banget". gerutu Laila. kenapa juga Al, blak-blakan bicara seperti itu. bikin malu,iya.
Ayunda dan J, cekikikan tertawa mendengar ucapan Anaknya. karena Al,memang suka bercanda. "Ya sudah,kamu hati-hati nak".
"jangan macam-macam boy, bakalan papah kasih pelajaran nanti kamu. kamu,sudah besar sudah tahu. mana yang baik,mana yang buruk". Tegas J, membuat Al hanya mengangguk pelan.
Al,pamit dan melambaikan tangannya saat meninggalkan perkarangan rumahnya. ada hati tak rela, meninggalkan rumah ibunya. karena Laila,masih memandang kepergian.
__ADS_1
Al,tidak lagi tinggal di rumah orangtuanya. Ia malah berpisah dan tinggal di apartemen miliknya sendiri.
Laila, merasa sedih mengetahui jika Al tak lagi tinggal di dekat rumahnya.
Sepi dan hampa,tak seperti dulu. Seakan-akan mengubah segalanya.
Akankah Al, berubah tidak seperti dulu lagi. apakah ada luang waktu, untuk berkumpul bersama. Akankah Al, menemukan cintanya melupakan Laila. Sudah pasti dari kalangan artis,model ,wanita karir dan lainnya, berlomba-lomba untuk merebut hati Al. akankah Hati Al,goyah dan menghapus rasa cintanya kepada Laila yang bertepuk sebelah tangan.
********
malam harinya,saat Laila pulang kerumah. keadaan rumahnya, terlihat sepi.
"ibu,ya Allah..bangun bu". Laila,di kejutkan dengan keadaan sang ibu. Yang sudah tergelatak di lantai,tak sadarkan diri.
Laila, langsung mengambil ponselnya dan memesan taksi online. Ia menangis sesenggukan, melihat keadaan ibunya. "Tolooong.....ya Allah,bangun bu.... tolong....!!".
Tetangga sebelah rumah Laila langsung bergegas datang mendengar teriakkannya,juga membantu ibunya berbaring di atas kasur. Beberapa kali tetangganya Laila, mencoba menenangkan dirinya. melakukan apapun agar ibunya sadar,namun hasilnya nihil juga.
"Yang sabar nak, Laila. suami ibu,gak ada maaf tidak bisa mengantarkan kalian".
"Gak papa bu, makasih sudah datang. aku sudah mesan taksi online ". jawab Laila,masih memandang wajah ibunya. ya Allah,kenapa dengan ibu?kenapa belum sadar juga.
Beberapa menit kemudian. Akhirnya taksi online, datang juga. Untung saja ada tetangga Laila,yang membantu memasukkan tubuh sang ibu.
Dengan hati gelisah, menatap ke arah sang ibu. Yang sudah pucat pias,ia menggenggam erat tangan ibunya dan berdoa sepanjang jalan.
"Pak,tolong lebih cepat lagi". Pinta Laila,ia tak henti-hentinya menangis.
Ya Allah, lindungilah ibuku. Hanya dia satu-satunya orangtuaku,bu....tolong, bertahan lah. Sebentar lagi, kita akan sampai.
Sang sopir taksi online, merasa iba melihat keadaan Laila. Mencoba mempercepat gas mobilnya, agar segera sampai ke rumah sakit.
Sesampai di rumah,sakit. Sang ibu, langsung di bawa ke ruang UGD.
"maaf,dek. tunggu di sini dulu". suster tersebut, mengehentikan langkahnya Laila. tentu saja membuatnya tambah gelisah, melihat keadaan ibunya tambah pucat.
Laila, mondar-mandir di depan pintu ruang UGD. Ia sangat takut, bagaimana keadaan ibunya. Ia bingung harus berbuat apa, sedangkan dia hanya bisa berdoa.
__ADS_1