
Malam semakin larut.
Ayunda,masih terjaga dalam tidurnya.
"Uuuhh... kenapa aku deg-degan banget yah, berasa anak perawan jadinya. Apa ini efek dari gak terlalu dekat dengan Zense, atau hal lainnya,". Gerutu Ayunda.
Malam ini.malam terakhir Ayunda, melepaskan status sebagai Janda.
Ting...
Sebuah pesan masuk di ponsel Ayunda.
[Kamu serius mau menikah dengan Zense? Apa kamu tidak mikir kenapa dia tiba-tiba mengajak kamu menikah? Padahal kalian baru saja kenal,atau kamu di manfaatkan olehnya. Secara kamu dan dia jauh berbeda].
Dada Ayunda, berdegup kencang. Saat membaca pesan masuk yang di kenal.
"Tidak,aku tidak percaya dengan pesan masuk yang tidak di kenal ini," gumam Ayunda.
Ia langsung membalas pesan tersebut.
[Siapa kamu,jangan mengada-ada yang tidak jelas. Aku bisa melaporkan mu].
Ayunda, langsung mengirim pesan itu. Dada nya sudah turun naik,ia juga meremes benda pipih di tangannya.
[Kamu tidak bodoh bukan..! seharusnya berpikir lah sebelum bertindak. Semoga saja pernikahan mu langgeng]
Pesan tersebut masuk lagi.
Deggg...
"Ya Allah, lindungilah pernikahanku. Mungkin ada orang tidak suka dengan pernikahanku. Tapi siapa?apa mas Hendri,atau wanita yang menyukai Zense. Setauku tidak ada wanita mendekati Zense,". Ayunda, tengah kebingungan.
Ia juga tidak mau membalas pesan dari orang yang tak di kenal.
Ting...
Sebuah pesan masuk namun bukan pesan melainkan gambar sepasang boneka dengan berpakaian pengantin. Ada hal anehnya boneka tersebut di lumuri dengan warna merah seperti darah.
Ada tulisan terpampang jelas di bawah gambar tersebut.
"Batalkan pernikahan besok,kalau tidak aku akan meneror dirimu"
Deggg...
Ayunda, tersenyum kecil di sudut bibirnya. Ia malah mengabaikan pesan tersebut.
"Ck,basi..dia kira aku takut dengan ancamannya". Ucap Ayunda.
Dor...dorr...dorrr..
Sebuah gedoran di jendela kamar Ayunda.
"Siapa..siapa di sana? Jangan macam-macam,". Teriak Ayunda. Namun berselang lama gedoran itu terulang kembali.
Dorrr...dooorr..dorr
Ayunda,kaget dan tegang saat jendela kamarnya di gedor lagu. Ia berlahan-lahan mendekat jendela dan menyingkap tirai sedikit demi sedikit semuanya nihil tidak ada siapa-siapa.
"Cctv,iya cctv,". Entah kenapa dirinya gemeteran sambil membuka cctv di ponselnya.
Terpampang nyata ada dua orang berjubah hitam sedang mondar-mandir di depan rumahnya.
__ADS_1
Salah satunya ingin mengobrak-abrik hiasan di depan rumah, namun yang satunya mencegah dan menarik lalu pergi dari depan rumah Ayunda.
"Ya Allah..siapa mereka, apa mereka yang mengendor pintu jendela kamarku,". Kata Ayunda.
Ia mencoba menenangkan pikiran dan hatinya, semoga saja ini hanya ujian semata.
******
Pagi hari begitu cerah.
Ayunda, tersenyum di depan cermin. Ia melihat dirinya memakai baju pengantin seperti kebaya berwarna putih.
"Wahh..cantik banget kamu Yu,aku pangling lo,". Kekeh Melisa.
"Aku kira kita salah masuk kamar,". Timpal Vivian.
"Bajunya cantik banget,pas lo di badan kamu,". Puji Melisa.
"Uuhhh,aku deg-degan tau. Coba pegang tanganku panas dingin,". Ujar Ayunda.
"Subhanallah..cantik banget kamu nak yu. Semoga pernikahan kamu yang terakhir langgeng terus,". Ucap bu sumi,ia baru saja masuk ke dalam kamar.
"Makasih banyak bu,doanya,". Kata Ayunda.
"Sebentar lagi mereka datang,". Ujar Vivian. ia tersenyum merekah
"Mempelai wanitanya nanti yah, keluar. Kalau sudah ijab Kabul, baru keluar,". Perintah bu sumi, sebelum meninggal mereka.
Ayunda, mengangguk kepalanya.
Ya Allah, lindungilah pernikahanku yang kedua ini,batin Ayunda.
"Senyum dong,jangan melamun yu,". Tegur Vivian.
"Ada apa, cerita. Siapa tau kami membantu,". Ujar Vivian. Melisa,memegang tangan Ayunda.
"Jangan nangis,nanti luntur makeupnya,". Isak tangis Ayunda terdengar,di pelukan Melisa.
Entah kenapa tiba-tiba saja Ayunda, memikirkan isi pesan tadi malam pikiran berkecamuk kemana-mana.
"Yu,udah yah. Acaranya mau mulai, mereka sudah datang,nanti make upnya hancur. apa kata orang kamu nangis". tegur Vivian
"Jangan nangis,nanti jadi berabe,gimana Vi". Melisa,juga kebingungan dengan tangisan Ayunda.
"Aku..aku..takut Mel,". Lirih Ayunda,dalam tangisnya.
"Vi,kunci dulu kamarnya takutnya malah ada yang datang. Terus liat Ayunda,nangis malah jadi masalah,". Pinta Melisa. Dengan secepatnya Vivian, mengunci pintu kamar.
"Udah yu,jangan nangis. Cerita kenapa kamu nangis,". Bujuk Melisa, lagi.
"Aku tidak tau Mel,". Ujar Ayunda. Masih memeluk Melisa, dengan erat.
Sedangkan diluar Zense, bersiap-siap mengucapkan ijab kabulnya.
Banyak juga desas-desus dari orang-orang sekitar. Betapa beruntungnya Ayunda, mendapatkan seorang pria kaya raya.
Buktinya saja banyak penggiring laki-laki di belakang Zense. Pakaiannya juga jas terlihat mewah dan mahal. Dengan seserahan pernikahan begitu fantastis dan mewah.
"Bagaimana para saksi? Sahh...,".
"Saahhh..,".
__ADS_1
"Alhamdulillah... Al-fatihah,".
Suara lantang kata sah, terdengar dari dalam kamar.
"Aduh,make upnya berantakan,". Gerutu Vivian.
"Astagfirullah.. Ayunda,bangun,". Melisa, sangat ketakutan saat mengetahui jika Ayunda,sudah pingsan di pelukannya.
Karena hanya Melisa dan Vivian. Mereka begitu syok saat mengetahui jika pengantin wanita,sudah tidak sadarkan diri.
"Tolong, Ayunda pingsan,". Teriak Vivian.
Semua orang menjadi heboh dan ricuh.
semua orang-orang langsung bergegas mendekati kamar pengantin.
Begitu juga Zense,saat mendengar Ayunda. Yang baru saja beberapa detik sudah sah jadi istrinya.
Ia langsung berlari ke arah kamar. Setelah melihat istrinya tak sadarkan diri,di pelukan Melisa. Zense, langsung mengambil alih.
"Sayang,bangun,jangan buat aku takut,". Ucap Zense,ia juga mencium kening Ayunda.
"kita sudah sah, menjadi suami-istri," lirih Zense.
Melisa dan Vivian,juga ikut menangis melihat temannya tak sadarkan diri.apa lagi melihat aksi Zense, membangun Ayunda.
"Maaf, ibu-ibu...tolong jangan ikut masuk ke dalam kamar. Kasian pengantin kepanasan,". Hans, dan lainnya membubarkan para ibu-ibu berkerumunan.
"pakai minyak kayu putih dulu Zen,". Vivian, memberikan botol minyak kayu putih.
"Tolong nak... berikan minuman ini untuk nak Ayunda,". Ujar bu Sumi.
Ibu-ibu terdekat Ayunda,juga syok dan kaget. Mendengar jika Ayunda, pingsan.
"Apa Ayunda,sudah makan,". Tanya yang lainnya.
"Sudah bu,". Banyak juga ibu-ibu bersimpati kepada Ayunda.
"Tinggalkan aku berdua di dalam kamar, Hans kau urus yang lainnya,". Ucap Zense.
"apa perlu bibi temanin kamu Zen,". Zense, langsung menggeleng kepala.
Hans,hanya mengangguk kepala juga."aku akan menelpon dokter,". Ia juga sangat khawatir kepada bos sekaligus sahabatnya.
"ada apa heboh-heboh,". ucap bu Sari,yang baru datang. bersama anak-anaknya.
"itu, Ayunda. dia pingsan,". jawab ibu yang lainnya.
"apa gak makan Ayunda, gimana sih kalian ini mengurusnya gak becus,". decak bu Sari.
"ibu di sini saja, kamarnya sudah di kunci,". cegah bu RT.
kok bisa pingsan, kenapa yah?,batin bu Sari.
"silahkan duduk dulu bu,". ucap bu RT, kepada bibinya Zense. baru saja keluar dari kamar Ayunda.
berlahan semua orang sudah mulai tenang, banyak juga orang lain tengah membicarakan keadaan Ayunda.
bu RT langsung mengajak bu sumi dan bu lela,ke dapur jauh dari keramaian. mereka bertiga saling berbincang dengan pelan. sambil memegang sebuah kotak.
"apa yang kalian bicarakan dan di tangan mu apa bu RT,". ada seseorang memergoki mereka.
__ADS_1
mereka bertiga kaget karena mendengar suara dari arah belakang mereka.