
Seseorang memasuki kamar hotel, Ayunda.
Dengan santai, melepas semua pakaian menyisakan celana panjang hitamnya saja.
Secara berlahan ia menaiki kasur yang di tepati Ayunda,yang tengah tertidur pulas.
Dengan sangat pelan Zense, berbaring di samping Ayunda. Ia juga ingin tertidur menyusul ke dalam mimpi sang kekasih.
Tak berapa lama Zense, tertidur pulas sambil memeluk erat tubuh Ayunda.
Satu jam berlalu. Ayunda,tengah mengeliyat namun ia merasakan seseorang di sampingnya.
"Aaaaaaaaaa,mesum. Siapa kamu ha,". teriak keras Ayunda. ia langsung mengambil bantal.
Bugh..bughh...bugh..
Ayunda,tengah emosi ua masih ketakutan entah mengapa tiba-tiba ada seseorang tanpa baju tidur di sampingnya.
Karena masih tak sadar siapa pria itu. Bahkan nyawa Zense,masih belum terkumpul dia menerima pukulan bantal yang di berikan Ayunda.
Tak sengaja Ayunda, melemparkan ponselnya sangat tepat kena di jidat kepala Zense. Ia meringis kesakitan.
"Aiiissss....sakit sekalii... stop Ayunda...ini...aku,". Teriak Zense. Ia langsung menangkap tangan Ayunda. Dari tadi tak henti-hentinya memukul menggunakan bantal.
"ka-kamu kenapa. Ya ampun,maaf aku tak sengaja Zen,kamu juga yang salah tiba-tiba ada di samping aku,". Geram Ayunda. "sumpah aku gak tau,maaf yah. maaf,".
Zense,masih saja meringis kesakitan di jidat kepalanya. Bahkan terlihat membenjol merah kebiruan.
Sedangkan Ayunda,tengah sibuk mencari minyak ayu putih atau sesuatu yang bisa meredakan sakitnya untuk di oles. Ia sudah berapa kali mencari kemana-mana namun tidak ada.
"Sudah,sudah! Tak usah di cari lagi kalau gak ada. Udah gak sakit lagi,". Kata Zense.
"Maafkan aku Zen, sumpah aku ripleks banget tadi,". Lirih Ayunda.
"Tidak apa-apa!aku juga yang salah sayang,". Lirih Zense,di telinga Ayunda.
Wajah mereka saling berdekatan. "Aku sangat merindukanmu,". Tanpa ba-bi-bu lagi Zense, langsung ******* habis bibir Ayunda.
Sebenarnya di hati Ayunda,juga merindukan Zense,namun dia gengsi.
"hmmm,,shhhttt,". Desis Ayunda,saat ciuman itu turun ke leher. Secara perlahan tangan Zense, langsung membuka kancing baju Ayunda.
Ayunda, tengah tak sadar karena menikmati belaian Zense.
Tangan Zense,tengah meraba-raba mencari pengait bra. Setelah terlepas terpampang lah sebuah gunung kembar yang begitu menggiurkan. Membuat air liurnya hampir menetes.
Hamp,,gunung kembar Ayunda,sudah di lahap habis oleh Zense,bahkan secara bergantian.
"Shhhh... hmmmm,". Suara laknat itu terdengar di telinga Zense,membuat ia sangat bergairah ingin memiliki ayunda, seutuhnya.
Tangan Ayunda,tak tinggal diam. Entah mengapa tangan aktif nya meraba-raba perut Zense,yang begitu indah.
__ADS_1
Ia juga memandangi wajah tampan Zense, postur tubuhnya sangat bagus, lengan begitu kekar dan ada sebuah tato bergambar naga tepat di bidang dada dan melingkar melewati bahu terus ke belakang tubuhnya.
Tatonya bagus,batin Ayunda.
Zense, menghentikan aksi seperti bayi kehausan dan menatap manik-manik mata Ayunda. "Satu minggu lagi kita akan menikah,". Kata Zense, langsung mencium keningnya.
Ada senyuman manis di bibir Ayunda. Ia juga menganggukkan kepala tanda setuju.
"apa sudah lama tato ini,". Tanya Ayunda, sedari tadi masih mengelus-elus tato Zense, sesekali dia mencentil choco chips milik Zense.
"Kalau mau hisap saja,". Goda Zense. Ayunda,yang masih di bawah Kungkungannya merasa malu bahkan wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Coba rasain,pasti enak,". Bisik sensual Zense.
Ayunda, memandang wajah tampan Zense,ia tau jika saat ini dia tengah menahan hawa nafsunya. Beberapa kali Zense,mencium wajahnya. Namun saat ini Ayunda, memberanikan diri mendekati bibirnya ke bibir Zense. Entah dorongan mana ia berani memulai ******* bibir Zense.
Tentu saja Zense, menerima dengan senang hati. Artinya Ayunda,juga menyukainya dirinya.
"Aku mencintaimu Ayunda,". Ucap Zense,ia menghentikan ciuman mereka.
"Ak-aku juga mencintaimu Zense,". Balas Ayunda. Dan kini mereka melanjutkan acara ciuman. Betapa girangnya hati Zense, karena cintanya telah di balas oleh pujaan hati.
****
Di sore hari.
Mereka semua menikmati suasana di pinggir pantai.
Tentu saja mereka menjadi obat nyamuk. Sesekali melirik para turis di sana.
"Wew,ada yang senang nih,". Ucap Regan. Kepada Ayunda.
"Apaan sih. Biasa aja,". Ketus Ayunda.
"Ayo,kita mandi,". Melisa langsung menarik tangan Vivian dan Ayunda. Kini mereka sudah berenang.
Ada canda tawa mereka saling bermain air.
Karena tak ada prianya tentu saja Hans dan Kevin. Ikut bergabung bermain-main air.
Bahkan Melisa,juga melempar pasir ke arah Hans dan Kevin.
"Ouy,ouy,jangan pasir dong. Nanti masuk mata sama telinga,cukup main air saja,". Ucap Kevin.
"Ck,dasar lemah,". Sahut Vivian. Ayunda,hanya cengengesan saja melihat mereka saling adu dengan air.
"Stop..stop! Mataku perih,". Teriak Vivian.
Mereka pun melanjutkan aksi bermain air saling membalas siram siraman. yang ada hanya cekikikan tertawa lepas.
Dari kejauhan Zense, Regan dan Farhan. Mereka saling memandangi kekasih mereka masing-masing.
__ADS_1
Mereka bertiga memang kompak tak suka mandi-mandi di pantai.
"Kapan kau menikahi Ayunda,". Regan, melirik Zense.
"Satu minggu lagi,". Jawab nya
"Gercep juga kamu Zen,". Sahut Farhan."kau yakin menerima semuanya termasuk emak-emak,". Kekehnya.
Regan,hanya manahan tawanya saja."kau apakan kedua curut itu,". Tanya Regan.
"Tidak ada,malah aku senang kan ide aku juga. Bagus kan,". Zense, menyungging kan senyuman kecilnya.
Mereka berdua angguk-angguk saja.
Fiks! Zense,sudah di jampi-jampi Ayunda,batin Regan.
Ck, bucin-bucin, batin Farhan.
"kita main bola voli, bagaimana?,". ajak Farhan.
Zense,dan Regan. mengangguk kepala.
"Hans,kevin! ke sini,"
teriak Farhan.
"kita main bola voli,apa para gadis-gadis yang cantik ikut bermain juga,". tanya Farhan.
"tidak,kami mau ganti baju. perut kami sudah lapar. teruskan saja kalian,". jawab Vivian.
Ayunda,hanya mengikuti kemauan dari temannya. bukan hanya makan,mereka ingin bersantai tanpa pasangan masing-masing.
"biarkanlah mereka mau makan dulu,nanti ke sini juga. ayo kita main,sudah lama tidak main-main,". suara tegas Zense.
Vivian, Melisa dan Ayunda. sedang kegirangan karena sudah dapat ijin.
Selesai berganti pakaian dan langsung jalan-jalan di tempat orang-orang berjualan pernak pernik unik dipinggiran pantai.
karena ada janji oleh-oleh untuk ibu-ibu.tentu saja di bantu Melisa dan Vivian,untuk memilih.
"kayanya aku juga mau kasih oleh-oleh sama keponakan,". ujar Melisa.
"kayanya aku juga deh,". sahut Vivian.
Mereka bertiga sedang sibuk memilih sampai-sampai kebingungan.
cukup lama mereka berbelanja sehingga lupa waktu. sesekali Zense, celingukan mencari Ayunda,dan lainnya namun tidak ada terlihat.
"ayo Zen, lempar bolanya,". teriak Kevin.
"tunggu,sudah lama mereka pergi! kenapa tidak ada datang-datang,". kata Zense.
__ADS_1
Mereka pun langsung sadar bahkan Regan, melihat jam tangannya. memang mereka sudah lama pergi. tiba-tiba saja hati mereka langsung merasakannya gelisah.