TERLALU LELAH

TERLALU LELAH
Barang kecil


__ADS_3

"bu sum,bu sum,". Panggil Sinta.


"Ehh...ada Sinta,ada apa yah? Manggil-manggil saya sepagi ini,". Kata bu Sumi. pasti ada sesuatu.


"It-itu tau gak ibuku dimana? Kok gak ada yah,". Tanya Sinta. "Mana rumahnya di gembok lagi,".


"Hemmm...kata orang-orang sih,ibumu ada di rumah pak Tejo,". Jawab bu Sumi.


"Jangan ngaco bu, ngapain ibu ke sana,". Sinis Sinta.


"Lah,siapa tau kerja atau jadi istri pak Tejo,hehhehe. Canda Sinta,". Kekeh bu Sumi.


Aku harus ke sana,buat mastiin,batin Sinta. Saat menoleh kerumah Ayunda,ia melihat Zense, tengah keluar ingin pergi kerja.


"Ehh... Suaminya Ayunda! Boleh gak numpang ikut,aku mau kerumah pak Tejo,". Ucap Sinta, dengan centilnya.


Zense, mengernyitkan keningnya. "Tidak,". Jawab tegasnya."lagian tidak searah,".


Ck,sok dingin.


"Ayunda....,". Teriak Sinta. Mendengar teriakkan seseorang, Ayunda langsung keluar dari rumah.


"Yu,liat suamimu ini. Dia gak mau antar aku kerumah pak Tejo. Kata bu Sumi,ibuku ada di sana,masa kamu tega liat aku hamil besar begini. Siapa tau bantuin aku kamu cepat hamil," senyum kecil Sinta.


Ayunda dan Zense,saling pandang. mereka sama-sama menaikan bahu.


"Sayang,pergi saja. Nanti aku urus benalu ini," bisik sensual Ayunda.


Cup...


Satu kecupan mendarat di pipi Zense. "Cuman pipi nih,"


"Isss...gak enak di liat orang,lagian tadi udah,". punya suami,mau lebih terus.


"Aku berangkat dulu, nanti kalau ada apa-apa. Hubungi aku,". Zense, langsung naik ke mobilnya.


"Lepas,lepas Yu! Aku ingin ikut,". Bentak Sinta.


Sedangkan Sinta,ingin menyusul namun dengan cepat Ayunda,tahan.


Ayunda, langsung menghempaskan tangan Sinta.


"By,". Ujar Ayunda,ia langsung menutup pintu rumahnya.

__ADS_1


sial,jadi gak dapat tumpangan gratis. apa lagi Suaminya Ayunda, sangat tampan dan kaya.


"awas kamu Ayunda,sok belagu,". teriak Sinta.


Sinta, langsung menuju pangkalan ojek di dekatnya. walaupun ngos-ngosan karena membawa perutnya,sudah besar hanya menunggu beberapa hari lagi.


sesampai di perkarangan rumah pak Tejo,ia langsung bergegas masuk ke dalam. sebelum masuk,ia masih berdiri di ambang pintu. ia menguping pembicaraan orang-orang di dalam.


apa yang terjadi kepada ibu? kenapa jadi begini,batin Sinta." ibuuuu...,". panggil Sinta,ia langsung menghampiri ibunya duduk di lantai.


"ibu, kita pulang. ngapain ibu di sini? kaki ibu kenapa,". lirih Sinta. matanya sudah berkaca-kaca.


"apa kabar nak, bagaimana janinmu? baik-baik sajakan calon cucu ibu. ini hanya luka ringan tidak apa-apa,". jawab bu Halimah. ia mengusap air mata anaknya.


"ibumu adalah istriku,dia harus tetap tinggal di sini,". suara lantang dari pak Tejo.


"apa? is-istri, maksudnya apa bu,". tanta Sinta, nampak tak percaya.


"ibu dan pak Tejo, sudah menikah beberapa hari yang lalu nak,". bu Halimah,hanya menunduk saja. "ibu,tak bisa pulang. ibu harus di sini, pergilah ke rumah mertuamu,".


"tidak.. tidak, semuanya bohongkan bu. tua bangka itu kan yang sudah memaksa ibu,". bentak Sinta.


plakkk...


Sinta, meringis kesakitan akibat tamparan terlalu keras.


"tidak,aku mohon! jangan sakiti ibuku,". Sinta, memohon kepada pak Tejo. yang sudah menjadi ayah tirinya.


"didik anakmu ini Halimah, jangan asal bicara. kalau dia berani mengatakan aku hal-hal yang tak baik. aku akan menghukumnya,". sengit pak Tejo.


"ba-baik pak, akan aku nasehati anakku. aku mohon pak, jangan sakiti kami,". bu Halimah, memohon kemurahan hati Suaminya.


*****


"Sayang, Melisa dan Vivian. Mau ajak aku jalan-jalan besok,cuman sebentar kok,". Ayunda, bergelut Manja dipangkuan Zense.


"Emang mau kemana? Hemm...apa aku percaya,kalian hanya sebentar,". Zense, mengelus-elus wajah Ayunda.


"Hehehe... sebentar kalau,gak lupa waktu,". Kekehnya.


"Hemmm... terserah kamu, asalkan jaga diri baik-baik sayang,".


Zense, mencium bibir istrinya dengan lembut.

__ADS_1


"Ayunda..,". Seseorang memanggil di ambang pintu.


Zense dan Ayunda langsung melepas ciuman mereka.


Sial, ganggu saja ni orang, gerutu Zense.


"Mas, Hendri,". Gumam Ayunda. Ia menghela nafasnya. "Mau apa lagi,mas? Bukankah sudah kukatakan padamu jangan sembarang masuk rumahku,untung ada suamiku,".


"Mau apa kau,ini terakhir kalinya. Kamu masuk sembarangan ke rumah ini,akan aku buat kamu pelajaran jika terjadi lagi,". Tegas Zense.


"Aku tidak ada urusannya dengan mu,aku mau Ayunda. Dia milikku,kamu telah merebutnya dariku. Dasar pria brengsek," ujar Hendri. Ia sambil menggaruk anunya.


"Iiiiyyy...kamu bisa gak mas,jangan garuk-garuk itu mu. Jijik aku liatnya,". Ujar Ayunda.


"Jijik,katamu Yu? Dulu saja kamu mende-sah saat punya ku masuk ke milikmu ha. Sok-sokan jijik,". Ketus Hendri. Aku buat kamu saja suami Ayunda,kepanasan.


Oh...dia nantangin aku. "Ck,kecil begitu. Coba suamiku ini,miliknya panjang,besar. Uuhhh...mainnya saja bisa beberapa ronde,aku saja kewalahan melayani nya. Punya mu kecil,belum apa-apa udah keluar gak puas aku, kecil di banggakan,". Ledek Ayunda.


Zense, tersenyum puas mendengar pujian dari sang istri."makasih,sayang,". kekehnya.


Hendri,diam tanpa bersuara. Apa yang di katakan Ayunda,memanglah benar.


"Kenapa mas? Coba suamiku sekarang dia mainnya bermacam-macam gaya, buat aku melayang selalu mende-sah dengan panjang,". Senyum semerik Ayunda.


"Makasih,sayang. Atas pujian kamu lagi,". Kekeh Zense. Ia mencium bibir istrinya sekilas. "aku akan membuatmu mende-sah lagi, sampai-sampai tidak bisa berjalan,".


Mata Hendri, melotot melihat aksi Suaminya itu. apa-apaan mereka berciuman didepan ku,sial. kenapa aku yang iri melihat keromantisan mereka.


"Apa lagi suamiku sekarang,kaya raya. Gak kaya kamu mas, menyusahkan orang saja. Selalu nurut sama ibu sendiri, sudah tau tidak baik. Masih saja menurut,". Senyum semerik Ayunda.


"Sudah lah sayang,jangan kamu terlalu memujiku. Nanti malah kebesaran kepala, mendengar pujian mu itu. Pergilah Hendri,kau mengganggu kesenangan kami,". Usir Zense. "apa kamu melihat,saat Ayunda mende-sah di bawah Kungkungan ku,".


"Apa kamu tidak jijik,kau tau bukan. Kalau Ayunda,bekas ku," Hendri, menyungging senyuman kecilnya.


"Aku tau! Tapi semua jejak mu,sudah ku hapus. Kasian, apa kamu menyesal Hendri? Sudah kehilangan wanita seperti Ayunda,hemm,". Ucap Zense.


"Itu semua karena kamu brengsek,yang sudah merebut Ayunda, dariku,". Jawab Hendri.


"Pulang saja mas,sana. Lebih baik kamu susul ibumu ke rumah pak Tejo,aku jadi ragu bu sari ada apa-apanya,". Sinis Ayunda.


Astaga,aku hampir lupa iyah,aku harus menemui ibu." Wajarlah jika ibuku di tempat pak Tejo,karena mereka besanan,". Jawab Hendi. Ia tak mau kalah.


Ckckck, lambat laun akan tau semuanya,batin Ayunda.

__ADS_1


__ADS_2