
"Aaaaaaakkkkhhh.....". Teriak Yolanda,saat J menyuntik cairan di tubuhnya. "Sampai kapan,J? Sampai kapan,kamu menyiksa diriku begini. Bunuh saja aku J". Yolanda, merasakan tubuhnya sangat sakit. Entah cairan apa yang di suntikkan di tubuhnya.
J,hanya tersenyum kecil. Ia benar-benar menyiksa habis-habisan kepada Yolanda. "Sayang,kalau aku langsung membunuh dirimu Yolanda. tubuhmu sangat bagus, untuk uji coba cairan buatan ku. Bagaimana? Apa yang kamu rasakan,siapa tahu cairan ini berguna di masa depan". Senyum semerik J. Ia menyimpan beberapa suntikkan di sebuah koper.
"Dimana hati nurani kamu,J. apa kamu,sudah menganggap diriku sebagai binatang ha? selalu siksa begini,tanpa henti-hentinya ". bentak Yolanda, ia menatap tajam ke arah J.
"siksaan inj,belum bisa mengobati rasa amarah ku kepadamu. ingat,ini adalah hukuman yang telah menyakiti istriku". senyum semerik J.
Tubuh Yolanda,kurus kering. Rambut acak-acakan,tak terurus. Baju terlihat sangat lusuh, berwarna putih. Kedua kakinya di rantai dan di gembok,ia merasakan tubuhnya sangat sakit tak bisa di artikan. Memohon ampun kepada J, meminta iba. Namun sedikitpun tidak ada rasa iba, kepadanya. Malahan J,tetap menyiksa dengan suntikan. Sekali di suntik ke tubuhnya,ia merasakan panas. Tenggorokannya seperti di cekik, perutnya juga sangat sakit. Biasanya keluar darah dari mulut, hidung dan telinganya.
Yolanda,hanya pasrah menerima semuanya. Ini memang salahnya sudah berani nekad melakukan hal kepada Ayunda,ia hanya menangis kesegukan meratapi nasipnya saat ini.
Tidak ada satupun yang menolongnya atau mencari dirinya,makan pun hanya sekali sehari dengan menu seadanya.
Air matanya mengalir deras, mengingat masa lalunya. Yang begitu indah,mewah dan bebas tidak seperti sekarang. Lebih baik mati, daripada di siksa oleh J.
J, meninggalkan tempat penyekapan Yolanda. "Sampai kapan kamu menyiksa, Yolanda? Apa kamu masih belum cukup menyiksanya,". Tanya Darwis,kepada J.
"Aku belum puas, menyiksanya. Apa lagi mengingat perkataan dokter terhadap Ayunda,karena kecelakaan tersebut. Anakku dan Ayunda, hampir merenggang nyawa. Apa lagi sekarang dia hamil besar dan kemungkinan sebentar lagi melahirkan. Aku masih terngiang-ngiang jika istriku,tidak bisa lahiran normal. Akibat kecelakaan tersebut,". Kata J,masih menatap ke arah luar jendela mobil.
"apa istrimu bisa hamil lagi,". Tanya Darwis.
J, menghela nafasnya dengan berat. "Tidak tahu,aku tidak akan menuntutnya hamil lagi setelah melahirkan anak kami. Aku akan berbicara pelan-pelan kepada Ayunda,agar dia paham karena kondisinya sekarang".
"Jadi karena ini. Kamu menyiksa Yolanda,tanpa henti-hentinya. Aku sampai tidak habis pikir,kapan kamu membuat cairan mematikan itu. Walaupun tidak merenggang nyawa seketika,tapi kekuatannya sangat mengerikan.sampai-sampai keluar darah mulut, hidung dan telinga. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sakit yang di rasakan, Yolanda". Darwis, bergidik ngeri
__ADS_1
"Aku kira kau akan mencobanya,tenang saja stok masih banyak,". J, menyunggingkan senyumnya.
********
Beberapa hari kemudian. J, sudah menyiapkan ruang VIP terlebih dahulu sebelum lahiran Ayunda.
"Bagaimana kondisi istri saya,dok". Tanya J, sebenarnya dia tak sanggup mendengar ucapan dari dokter.
"Kehamilan istri anda sudah tujuh bulan ,saya cek dan USG. Sangat kecil kemungkinan untuk lahiran normal,Tuan. Ini sangat membahayakan nyawa istri dan anak Tuan,". Jelas sang dokter, membuat hati J seperti teriris. "Bicaralah pelan-pelan kepada istri, Tuan. Agar secepatnya kita melakukan operasi Cesar,demi keselamatan ibu dan anak. Lebih baik rahim istri Tuan,kami angkat. Terlihat ada luka di rahim istri anda,karena kecelakaan tersebut,".
"Tapi,kalau sekarang melakukan operasi. Berarti anak kami, prematur dok". Tanya J.
"Iya, Tuan. Karena luka di rahim istri anda, bukankah istri anda merasakan sakit di bagian perut. Tepatnya di rahim,bukan? Semakin besar janin di dalam kandungan, semakin sakit yang di rasakan Ayunda. Karena lukanya, Tuan,kalau tidak sanggup biar saya yang berbicara dengan istri Anda". Mendengar perkataan sang dokter,J hanya mengangguk kepala. Sungguh tidak sanggup,jika dirinya berbicara langsung kepada Ayunda.
Ia menunggu Ayunda,keluar. Cukup lama sang istri,tidak keluar-keluar. Kemungkinan dia syok,saat mendengar penjelasan dari dokter.
Ceklekk....
Pintu ruang terbuka. Terlihat jelas di wajah Ayunda, matanya sembab. Berjalan menuju Suaminya dan duduk di samping J.
J,tak berani menatap wajah sang istri. Ia tahu,jika sang istri akan marah kepadanya karena sudah menyimpan rahasia ini.
"kenapa tidak jujur dengan semuanya J? Kenapa berbohong selama ini". Tanya Ayunda,yang masih menatap lurus.
"Maafkan aku, sayang. Aku egois,". Lirihnya J,ia memegang erat jari-jari lentik Ayunda. Ayunda, langsung memeluk suaminya. Ia terisak-isak,kenapa harus seperti ini. Namun ia masih bersyukur, karena ada pilihan lain.
__ADS_1
Dengan mengikuti perkataan sang dokter. J san Ayunda, sudah bersiap-siap untuk melakukan operasi secepatnya. Beberapa berkas yang harus di urus, walaupun dengan hati berat. Jika anaknya lahir dalam keadaan prematur,harus di rawat dan masuk ke dalam tabung.
Mendengar kabar bahwa Ayunda,harus melahirkan anaknya yang masih berusia tujuh bulan. Tentu saja membuat orang-orang,merasa simpati yang dekat dengan Ayunda.
Ayunda,hanya tersenyum kecil. Saat melihat wajah sang suami, ini adalah takdir yang harus di lewatinya. "Aku mohon,jangan sampai kamu menyalahkan dirimu,". Pinta Ayunda,kepada J. Aku tahu kamu saat ini, sangat terpukul J.
"Ak-aku tidak menyalahkan diriku,hanya saja aku tidak sanggup melihat keadaanmu sayang,". J, mencium kening Ayunda. aku tahu,kamu sangat takut menghadapi semuanya ini. aku percaya,kamu bisa sayang.
"Jangan kamu pikirkan, doakan semoga kami berdua sehat-sehat. Kamu senang,bukan? Sebentar lagi kita akan melihat buah cinta kita". Ayunda, mengelus pipi J. ia meletakkan tangan J, ke perutnya. sedangkan J,hanga tersenyum sekuat mungkin ia menahan air matanya.
"Aku selalu mendoakan kamu,sayang". J, tersenyum kecil. Sebisa mungkin mungkin dia, menyembunyikan rasa sedihnya.
satu jam kemudian.
Ayunda,sudah bersiap-siap untuk melakukan operasi. Sedangkan J, menunggu di luar ruangan. Ia ingin sekali menemani sang istri,namun dirinya tak sanggup katanya
J, bergabung dengan paman dan bibinya. Al, langsung duduk di pangkuan ayahnya. Bi Inah,hanya diam tak menahan Al.
"Papah,dedek mau lahir". Tanya Al,ia tersenyum manis.
"Iya,sayang. Kamu senang,bukan? Doakan mamah dan dedek yah,". J, mencium pipi Al.
"Kenapa papah menangis? Seharusnya papah, bahagia karena dedek mau lahir,". Kata Al, wajahnya cemberut.
"Papah, menangis karena bahagia nak. Sebentar lagi,kita lihat dedek". J, langsung memeluk anaknya. Papah,bahagia nak.
__ADS_1