
Esok harinya. Al, terlihat sangat marah. Ia menuju sebuah perusahaan,dimana zakir bekerja. Karena Al, sedikit berlari melalu beberapa karyawan lainnya. karyawan nampak heran karena Al, seperti tergesa-gesa mungkin ada sesuatu yang terjadi. selama Al, melewati para karyawan. mereka mengucapkan selamat pagi, sambil menunduk. "Pagi pak Al".
Al,tak menghiraukan para karyawannya,yang di pikirannya hanyalah Zakir.
Braakkkk....Al, menendang pintu kerja Zakir. ia melonjak terkejut mendengar pintu ruangannya begitu nyaring di tendang.
"Al,aku bisa jelasin semuanya". Zakir, mencoba menenangkan hati Al. Sial, mungkin Al salah paham tentang kemarin. Zakir,baru sempat melihat status WhatsApp Laila. ia sudah tahu, beberapa menit akan datang. Al,pasti mencarinya namun sayangnya. Al, sudah di depan pintu dan langsung menghampirinya. karena status Laila, setengah jam lalu dia apload. sedangkan Al, langsung melihat status Laila. karena Zakir,tak mementingkan ponselnya. makanya dia baru saja, melihat status Laila.
Buughhhh.... Buughhhh...
Bogem mentah mendarat di wajah Zakir. Ia tersungkur di lantai, secepatnya Dion dan Herman menahan Al. Agar dia tidak, memukul Zakir lagi. sayangnya Dion dan Herman, terlambat datang.
"Aaaakkhhh....". Zakir, meringis kesakitan. Di sudut bibirnya, keluar darah. Ia bangkit berlahan-lahan,tapi pikirannya tidak ada niat untuk membalas Al.
"Lepasss... lepaaaass....aku ingin menghajarnya habis-habisan, karena sudah mengkhianati ku". Al, memberontak kepada Dion dan Herman. mereka menahan tubuh Al, walaupun kewalahan menahannya.
"Cukuuuup.....!!! tenangkan dirimu,Al. kita bicarakan baik-baik". ucap Herman, kepada Al yang sudah di selimuti rasa amarahmya.
"Brengseeeek....kau Zakir, berani-beraninya mengambil Laila dariku. Kau penghianat Zakir, setega itukah menusukku dari belakang". Teriak Al, amarahnya menggebu-gebu disaat Al melihat status Laila pagi ini. Laila, memosting fotonya bersama Zakir kemarin.
"Ck, bercermin lah dulu Al. Bukankah kau,yang pria brengsek ha? Aku dan Laila, tidak sengaja bertemu kemarin. Tak sepantasnya kau mengklaim bahwa Laila adalah milikmu. Sedangkan kamu,malah bermesraan dengan Kenny. Jika kau, memang menyukai Laila. Setidaknya berbasa-basi lah mendekati Laila. Bukan malah berpacaran dengan Kenny, sudah tau bagaimana wujud asli Kenny. Dia hanya memanfaatkan dirimu,Al. Aku sebagai sahabat mu, tidak ada niat menusuk dari belakang. Tapi, Laila berhak menyukai siapa. Termasuk aku,atau kalian". Senyum semerik Zakir, membuat hati Al semakin memanas. Rasakan kau Al,akan aku panasi hatimu.
"Zakir,jangan mempengaruhi pikiran Al. Kamu juga Al, setidaknya berbicara baik-baik. Kami semua, tidak setuju bahwa kamu menjalin hubungan dengan Kenny. Dia bukan wanita baik-baik,". Dion,memihak kepada Zakir dan mencoba menyadarkan temannya. kenapa juga ulat bulu keket itu,datang segala. sialnya memori Al, masih sayang dengan Kenny. ingin sekali aku, membentur kepalamu Al. agar hatimu terbuka lebar,jika Kenny perempuan berbisa.
"Ck,tidak usah sok belagu kau Zakir. jangan main-main denganku, brengsek kau. bajingan...!!!Teman makan teman kau". ucap Al. sambil menunjuk ke arah Zakir, sedangkan Zakir hanya tersenyum semerik.
__ADS_1
"Kau salah paham Al, aku dan Laila hanya kebetulan saja bertemu. untuk apa juga aku, memberitahu mu segala. sedangkan dirimu, sedang bermesraan dengan Kenny ". teriak Zakir,ia juga tak kalah emosinya. Huuu.... harus bagaimana lagi,agar otakmu bagus Al. dalam percintaan kau,minim sekali otakmu.
"Jika kamu,memang memilih Kenny. Setidaknya lepaskan Laila, kau juga sabar. Jika Laila,menjadi istri salah satu di antara kita". Sahut Herman,ia cengengesan. "Maksudku, misalnya Al. Hehehe". Mendengar perkataan Herman,tentu Al membulatkan matanya.
"Brengsek kau, Herman". Decak duon Dion, dengan tatapan tajam.
"Akukan cuman bercanda, maksudnya kek gitu". gumam Herman,ia menahan tubuh Al.
"Diaaammm....!!! Kenapa kau, berbohong Zakir? Pantesan kemarin,kamu tidak ikut kumpul-kumpul dengan kami. Ternyata kau,tengah bersenang-senang dengan Laila. Aku paling benci namanya penghianatan Zakir. kau tahu,jika aku tak menyukainya kan dengan orang berkhianat". Al, mencoba mendekati Zakir. Namun secepatnya Dion dan Herman, menahan Al.
"Semua pria akan terpesona dengan Laila,selagi dia bukan siapa-siapa. Kenapa aku,tidak boleh menyukainya. Tenang saja Al,aku akan resign dari perusahaan ini. Aku tahu,kau sangat benci penghianatan". Zakir, menyunggingkan senyumnya.
"Semoga kau,langgeng dengan Kenny. Berharap kau,jangan menyesal kehilangan Laila. Jika suatu hari nanti,dia akan bersama pria lain". Setelah mengucapkan perkataan itu,zakir langsung meninggalkan ruang kerjanya.
Zakir,lebih baik menghindar pertikaian antara mereka. jika terus di lawan,bisa saja lebih parah lagi. setidaknya beri waktu ruang dan waktu, untuk menenangkan pikiran masing-masing.
"Tenang dulu Al, jangan emosi segala. pikirkan dengan otak dingin mu,kalau sama-sama emosi gak bakalan kelar. yang ada tambah kacau". tegur Dion,ia memberikan segelas air putih.
Al,mulai duduk di sofa. ia menghembuskan nafas beratnya. ia memijit pelipis keningnya, kepalanya sudah nyut-nyutan memikirkan masalah ini. "Aku pergi dulu". pamit Al,ia melihat seseorang menelpon di ponselnya. "Dan satu lagi, katakan kepada Zakir jangan berpikir resign dari perusahaan ini. aku percaya kepada kalian, bagaimana mengurusnya".
Dion dan Herman,duduk di sofa. Hanya karena perempuan,kini persahabatan mereka jadi berantakan. Al,entah pergi kemana. Tiba-tiba Kenny, menelpon dirinya dan langsung pergi begitu saja.
"Huuuufff.... bagaimana ini, Dion? Sekarang persahabatan kita,jadi berantakan seperti ini". Tanya Herman,menoleh ke arah Dion.
"Tidak tahu,aku sedang pusing. Aku pergi dulu,ada urusan penting". Dion, beranjak pergi meninggalkan Herman.
__ADS_1
"Lah,aku di tinggal dong. Lebih baik susul Al, saja". gumam Herman,ia juga meninggalkan ruangan Zakir.
*******
Zakir,tengah bersantai di sebuah danau. Tak lama kemudian, Dion datang. Ternyata Dion,tengah mengikuti sahabatnya.
Dion,duduk di samping Zakir. Mereka sama-sama menatap luruh,ke arah danau.
"Al,bilang jangan pernah resign dari perusahaannya. Masalah pribadi,tidak usah ikut campur dalam pekerjaan. Bekerjalah secara profesional,Al sahabat kita Zakir. Kita banyak berhutang budi kepadanya, sebagai sahabat tidak seharusnya saling menjauhi. Seharusnya saling memperingati dan menyadari bahwa pilihan dia tidak baik". Dion, menepuk pundak Zakir.
"Maaf,aku telanjur emosi. Setidaknya aku, tidak berbicara masalah resign. Huuuufff....dimana Al dan Herman". Tanya Zakir,ia mulai menenangkan pikirannya.
"Kami di sini". Ucap Al dan Herman, bersamaan.
Zakir dan Dion, langsung menoleh ke belakang. Benar saja Al dan Herman, juga menyusul mereka.
Zakir, langsung memeluk Al. "Maafkan aku,kawan".
"Aku juga minta maaf, sudah memukulmu. Lihatlah bibirmu memar dan bengkak, seharusnya aku memukul mu lebih parah dari ini". Kekehnya Al,kini mereka saling meminta maaf atas kejadian ini.
"Nah..gini dong,kitakan Sahabat sejak lama. Masa karena perempuan jadi saling benci dan berantakan". Ucap Herman, menepuk pundak Al.
"Kau benar Zakir,mulai sekarang sebisa mungkin mendekati Laila. Walaupun cintaku, bertepuk sebelah tangan. Apakah Laila, masih menyukai Ustadz Zulkifli. Aaahhh... gara-gara mengingat itu,aku sampai-sampai kembali kepada Kenny ". Gerutu Al,ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tenang saja, Kenny masalah gampang. Serahkan kepada kami". Senyum merekah zakir, Dion dan Herman.
__ADS_1
Al, langsung manggut-manggut melihat senyum licik mereka. Al,tahu jika sahabatnya apa yang harus di lakukan.