
"maaf,mau nanya ruangan Ayunda dimana? Hemm... maksudnya lantai berapa,". Hendri, seperti salah tingkah. Baru kali ini dia menginjak kaki perusahaan. Gila,besar banget perusahaan milik Ayunda,kalau aku menjadi suaminya. Pasti aku selalu di kejar-kejar wanita cantik-cantik. Kerja enak,uang banyak dan gak capek-capek lagi.
"Maaf,apa anda sudah membuat perjanjian dengan bu Ayunda,". Tanya resepsionis di perusahaan tersebut. Membuyarkan lamunan Hendri.
"Hemmm...tidak ada,tapi kami sangat dekat,". Jawab Hendri. Sial,kenapa harus di jaga sih. Susah juga bertemu dengan Ayunda.
"Silahkan anda keluar pak. Kami tidak bisa mempertemukan anda dengan bu Ayunda. Apa lagi dengan orang sembarangan seperti bapak,kami lihat gelagat bapak sedikit mencurigakan,". Ucap salah satu resepsionis lainnya.
"Tolong beritahu namaku Handri. Beritahu dia sekarang,aku yakin dia akan mengijinkan aku masuk dan menemuinya," pinta Hendri.
"baik,akan kami hubungi dulu. Silahkan menunggu,". Resepsionis lainnya langsung menghubungi sekertaris Ayunda.
Sedangkan Hendri, langsung mengirim pesan kepada Ayunda. Karena telpon tak kunjung di angkat.
[Aku ada di bawah,aku ingin bertemu mu Ayunda. Suruh mereka untuk mengijinkan aku menemui mu,atau aku akan memberitahu kalau aku adalah mantan suamimu]
Hendri, langsung mengirim pesan tersebut .
[Urusan kita sudah selesai. Untuk apa menemui ku ha..!! Coba saja kamu berteriak memberitahu siapa kamu di perusahaan ini. Paling orang-orang mengira kamu sudah tidak waras] Ayunda.
"Sial,awas kamu Ayunda. Aku akan menunggumu,". Geram Hendri.
beberapa menit kemudian. Hendri, langsung di keluarkan dari perusahaan oleh satpam.
Betapa nekatnya Hendri, masih setia menunggu Ayunda. Saat pulang bekerja,Ia sudah menunggu di parkiran mobil Ayunda.
karena kemarin ia,juga membuntuti mantan istrinya sampai ke mansion. tapi sayang,dia gak bisa masuk begitu saja.
Berjam-jam Hendri, menunggu hingga akhirnya. Ayunda, keluar dari perusahaan dan menuju parkiran mobil.
"Hay,mantan istriku tersayang,". Senyum merekah Hendri.
Astaga, kepala sudah pusing Karena masalah pekerjaan. Di tambah sama mantan suami tidak ada tahu malu,batin Ayunda. "Untuk apa lagi mas,kamu menemui ku,". Sinis Ayunda. ia begitu terkejut melihat mantan suaminya tiba-tiba muncul dimana-mana.
"Aku ingin berbicara padamu,hanya sebentar Ayunda,". Kata Hendri, sedikit memohon.
kenapa dia tau sih, aku ada di perusahaan ini. apa dia sudah mengikuti kemana-mana.
__ADS_1
"kalau masalah rujuk,aku tidak mau membahas soal itu,". Kata Ayunda. benar-benar muak,kalau harus mendengarkan jata rujuk dari mulut penjilat seperti Hendri.
"Ayunda,aku mohon. Berikan aku pekerjaan, kamukan tau aku bekerja untuk membayar semua tagihan rumah sakit ibuku. Berikanlah aku pekerjaan,jadi cleaning service di perusahaan kamu juga tidak apa-apa,". Mohon Hendri. Biarlah aku sedikit berusaha. Senyum semerik Hendri.
Ayunda, mengerutkan keningnya. Mas Hendri,mau pekerjaan? Tumben,apa ini akal bulusnya. Ahhh...aku kerjain kamu Hendri, batin Ayunda. "Kamu yakin,mau cari kerjaan? Walaupun hanya cleaning service,". Delik mata Ayunda.
Hendri, langsung mengangguk kepala. "Iya, apapun itu. Asalkan aku dapat pekerjaan dan gajih,". Asik, rencana awal berhasil.
Ayunda, langsung mengambil sesuatu di dalam tasnya. "Besok datanglah ke alamat ini,". Ayunda, memberikan alamat salah satu Perusahaan lainnya. siap-siap kejutan lainnya.
"Serius Ayunda, makasih banyak. Besok aku akan datang.aku janji tidak akan telat pasti tepat waktu,". Senyum sumringah Hendri.
"Besok datang saja,ke alamat itu. Hanya menggunakan baju biasa,nanti kamu akan di berikan baju spesial rekan setimmu nanti," ujar Ayunda,ia menyunggingkan senyumnya.
Ia langsung pergi meninggalkan Hendri,yang masih berdiri melihat kepergian Ayunda.
****
"Kenapa tidak bilang kalau bibi mau datang ke sini. Kan biar Ayunda,pulang lebih awal,". Ucap Ayunda,yang baru datang. Saat memasuki ruangan tamu di mansion,ia kedatangan bibi Viana.
Ayunda,hanya tersenyum kecil. "Hehehehe, siapa tau bibi. Juga merindukan aku,".
"Apa kamu ada niat untuk menikah lagi nak," tanya bibi Viana, tiba-tiba.
"Ehhh...kalau masalah itu, belum kepikiran bi. Lagian gak ada yang lagi di dekati," jawab santai Ayunda.
"Apa kamu tidak ada rasa dengan kakak iparmu? Kalian cukup lama satu atap tinggal,padahal kalian bukan siapa-siapa. Apa kata orang-orang di luar nak, walaupun orang-orang takut menyinggung kalian. Tapi kalian berdua tidak pantas satu atap,apa lagi hanya status kakak ipar atau adik ipar,". Jelas bibi Viana.
"Kalau masalah itu?kami bisa menanganinya bi, tenang saja,". Jawab Ayunda.
Bibi Viana,hanya mendengus panjang."bibi,harap kalian secepatnya menikah,".
"Menikah?tapi bi,aku masih belum kepikiran kalau masalah itu,". Rengek Ayunda,ia memegang lengan bibi Viana.
"Apa kamu tidak kasian dengan Al? Dia membutuhkan kasih sayang seorang ayah, walaupun ayah sambung,". Bibi Viana, mengelus lengan Ayunda. "Bibi,lihat Al. Begitu dekat dengan J, pikirkan baik-baik nak,".
"Aku akan menikah suatu hari nanti,kalau ketemu jodohnya lagi," kekeh Ayunda. Terlihat sumringah.
__ADS_1
"Kau selalu saja membuat bibi, kebingungan. Bibi,ini serius nak,".
"Ayunda,juga serius bi,". Senyum merekah di wajah Ayunda.
"lagi ngobrolin apa ini," suara tegas J,ia baru saja datang entah dimana?
"Ini,bibi mau menjodohkan dengan anak teman bibi. Walaupun masih lajang,orangnya,". Langsung di jawab bibi Viana, sebelum Ayunda.
Lah...? Bibi, apa-apa sih. Masa beda cerita,malah di tutupin." Ha...!!! ,". Ayunda,malah tambah kebingungan.
"Di jodohkan? Siapa orangnya bi,dia harus lulus koleksi aku dulu. Aku tidak mau pria yang sembarangan,". Sahut J.
"bukan urusanmu J, biarkan ini urusan bibi dan Ayunda. iyakan nak Ayunda,". kedip mata bibi Viana.
"i-iya bi, ini masalah kami J. kamu tidak pantas untuk ikut campur," ketus Ayunda.
J, mengerutkan kedua alisnya. "terserah kalian,".
"ngomong-ngomong,kamu kapan menikah? usia mu sudah tidak muda lagi J," ucap bibi Viana.
"tenang saja bi, secepatnya aku akan menikah. tak perlu khawatir kalau masalah itu,". senyum semerik J.
Dan aku tidak percaya hal itu J,batin Ayunda.
******
malam hari,saat di meja makan. mereka menikmati makan malam bersama. seperti pasangan suami-istri dan memiliki anak satu.
"kami yakin,atas penawaran bibi. tentang perjodohan dengan anak temannya,". J, bertanya lagi kepada Ayunda.
"hemmm...lagian gak salahnya di coba dulu, siapa tau cocok,". jawab Ayunda, sambil menikmati hidangan di atas meja.
"ingat...!!! jangan memilih sembarangan,apa lagi sampai-sampai tak menyayangi Al. akan aku patahkan lehernya,". tegas J,ia sambil memotong daging di piringnya.
"tenang saja,aku bukan anak kecil. yang selalu sembarangan memilih," ucap Ayunda,ia juga sambil menyuapkan makanan ke Al.
Ayunda, sebenarnya keberatan atas perkataan bibinya tadi siang. tapi tak salahnya dia mencoba dulu.
__ADS_1