
J dan Ayunda,hanya cekikikan tertawa mendengar bentakan Ambar.
"Sayang, mungkin mereka pikir meminjam uang kepada kita. Tidak ada jaminan, seperti di bank. Mereka pikir sat set sat set sut, Langsung mau tanpa ba-bi-bu dan tanpa jaminan apapun,". Kekehnya Ayunda.
"Benar sayang, mereka kira kita tidak berpikir sampai ke situ". Jawab J,ia tersenyum kecil. "Itu resiko kalian jika semuanya hilang,lenyap tanpa sisa. Resiko karena tak sanggup membayar hutang,aku akan memberikan waktu lima tahun. Bagaimana,jika kalian mau. Besok aku akan membuat surat perjanjian dan uangnya langsung ada, tidak bertele-tele,".
Johan, terdiam ada yang dia pikirkan. "500 juta,lima tahun dan jaminannya sertifikat tanah peternakan sapiku. Bagaimana? Tidak jadi 1 M". Kata Johan, langsung.
"Hemmm...boleh, kalian beruntung tanpa ada bunga apapun". Jawab J, dengan santai.
Kenapa tiba-tiba berubah pikiran,apa tidak sanggup membayarnya.
"Ayunda, kenapa harus ada jaminan. Tempat tinggal kita tidak jauh,kita juga mana mungkin kabur. Kami akan membayarnya dengan mencicil tanpa ada jaminan,gimana sih". Sinis Ambar, membuat Ayunda terkekeh geli.
"Uang segalanya bagiku,mana mungkin kami mau meminjamkan uang kepada kalian tanpa ada jaminan apapun. Keenakan dong, nanti gak ada bukti-bukti apa-apa kalau di tagih. biasanya yang ngutang susah di tagih, seperti author nagih hutang gak di bayar orang bahkan beribu alasan segala ,". Ketus Ayunda,ia tersenyum kecil.
"sudahlah Ambar,masih untung kita bisa meminjam uang kepada Ayunda. Tanpa ada bunga seperti di bank,hanya jaminan sertifikat tanah peternakan sapi saja. Semoga peternakan sapi kita, sukses seperti dulu lagi dan kamu jangan boros-boros". Kata Johan,menasehati Ambar.
"Aku boros,mas. Yang boros itu istri mudamu,tidak melakukan apapun. Aku yang berpikir ke rumah Ayunda, untuk meminjam uang. Sedangkan dia hanya hongkang-hongkang di rumah saja, tanpa berpikir dewasa untuk masa depan kita. Ceraikan dia,mas. Malah bikin repot saja". Gerutu Ambar,ia sedikit emosi.
"Tidak...!!! Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan dia. Bukankah dia juga membantu ekonomi keluarga kita, saat-saat sulit begini. Sudahlah jangan menambahkan pusing di kepala ku, baiklah J dan Ayunda. Kami tunggu besok,di rumah. Kami pamit dulu,maaf membuat keributan". Pamit Johan,ia sudah beranjak berdiri.
"Hemm...jam 10 pagi,aku akan kerumah kalian. Langsung membawa uang secara cash". Jawab J, mempersilahkan pergi.
Selepas kepergian Johan dan Ambar. Ayunda, langsung mendelik ke arah Suaminya.
"Kenapa kamu mau membantu mereka". Tanya Ayunda, dengan kesal.
"Tanah peternakan sapi pak Tejo,sangat luas sayang. Kami mengincar wilayah itu, untuk membangun distrik militer. Lebih 1M,pasti tembus jika aku menjualnya kepada komandan,". Senyum semerik J
__ADS_1
"Iya,kalau gak di cicil mereka. Kalau di cicil, bakalan gak dapat tuh tanah". Ledek Ayunda,ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Jangan kau pikirkan tentang itu sayang,kita nikmati saja malam ini". J, langsung menerkam istrinya.
"Aahhh...hemmmm". Des-ah Ayunda, saat J memulai aksinya. J,menyusu seperti bayi besar. ia *******-***** dua gund-ukan dengan gemesnya.
J, mencium perut sang istri dan memainkan klito-risnya. Tubuh Ayunda, menggelinjang hebat. Sesekali J, menji-lat seluruh vagi-na Ayunda. Ia memasukan jari-jari besarnya,ia semakin semangat mendengar des-ahan panjang sang istri. miliknya sudah tegang,siap untuk bertempur dengan ganas.
J, berlahan-lahan mengarahkan senjatanya ke tempat milik Ayunda. miliknya sudah sangat basah oleh J.
Bleess...
"Aahhhh....". Des-ah J,saat miliknya terbenam keseluruhan di dalam li-ang va-gi-na Ayunda.
Berlahan-lahan J, menghunjam tubuh Ayunda dari belakang.
"Aahhh...ahhhh...ahhh,". Suara desa-han menggema di kamar mereka, saling bersahutan satu sama lain.
"Bagaimana,apa Ayunda dan Suaminya. Mau meminjamkan uang kepada kalian". Tanya Hendri,kepada kakaknya.
"Hemm....500 juta, dengan jaminan sertifikat tanah peternakan sapiku,". Jawab Johan,ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Loh,gak jadi 1M". Tanya Hendri,lagi. Kenapa mereka berhutang uang hanya 500 juta,kenapa gak jadi.
"Tidak jadi, karena dia meminta sertifikat rumah dan tanah peternakan sapi juga.kalau gak sanggup bayar,kami bakalan kehilangan semuanya". Jawab Ambar,ia sedikit kesal.
"terus kapan uangnya cair,apa sudah ada uangnya,". Tanya Hendri, lagi.
"Emang kenapa sih? Kamu selalu nanya segala,nanya mulu bantuin gak". Gumam Ambar, dengan kesal.
__ADS_1
"Siapa tahu,uangnya langsung ada. Aku boleh dong,minta uang gak banyak cuman 10 juta. Masa adik sendiri gak di kasih, Kaliankan minjam uang banyak," kata Hendri, entengnya.
"Benar apa kata Hendri,gak banyak kok kami mintanya. 10 juta masing-masing,". Sahut Neli, membuat Johan sangat marah kepada adik iparnya.
"kalian ingin uang? berikan sertifikat rumah ini. Akan aku gadaikan ke Ayunda,kalian memang bodoh tidak berguna. Peternakan sapiku,kena wabah penyakit. Kalian tidak bisa membantuku sama sekali,saat aku memiliki uang hasil meminjam tanpa malu-malu kalian minta bagian...!!! Cuiiihhh....jangan harap aku akan beri uang tersebut, uang itu aku modal kan ke usaha aku,". Tegas Johan,tulang rahangnya mengeras. Ia mengepalkan kedua tangannya,ingin sekali menghajar adik iparnya yang tidak berguna ini.
"Johan,kami minta sama kakak Ambar. Bukan sama kamu" bentak Hendri, tersenyum kecil.
"Oh,minta sama kakakmu. Aku tidak akan memberikan uang, kepadanya. Kalau dia berani memberikan uang kepada kalian, siap-siap aku menceraikan kakakmu ini. Tak Sudi rasanya uangku di makan oleh kalian,yang tidak bisa membantu kesusahan ku". Senyum semerik Johan,ia langsung bergegas pergi meninggalkan rumah Hendri dan meninggalkan Ambar.
Ambar, berteriak-teriak memanggil suaminya. Meminta membuka pintu mobil,namun tidak di hiraukan Johan.
"ini semua karena kalian,suamiku marah kepadaku Neli Hendri...!!,". Teriak Ambar,kepada adiknya.
"Gak usah marah-marah kak, wajarlah kita minta uang. Secarakan kamu kakak kami,gitu aja marah. Suami kakak aja,sok belagu banget.kami hanya minta sedikit gak banyak,tapi marah-marah gak jelas,". Gerutu Neli, kepada kakaknya.
"Kalau mau uang, gadaikan saja rumah Hendri. Gampang,tinggal kasih sertifikat rumah ini kepada Ayunda. Kamu pikir, bagaimana melunasi hutang kalian. Begitu juga dengan kami,jangan seenaknya saja meminta uang dengan jumlah banyak,". Sengit Ambar,ia benar-benar geram kedua adiknya ini.
"Gak usah teriak-teriak Mba,mending pulang sana". Istri Hendri, langsung mengusir kakak iparnya itu.
"Oh,lihat istrimu Hendri. Tiba-tiba bersuara, langsung mengusir kakak mu ini. Bagus.... jangan harap kalian memohon kepada ku suatu hari nanti, ancamkan itu,". Ancam Ambar, matanya melotot hampir melompat ke luar.
"Gak usah melotot begitu,mba. Copot baru tau rasa,". Gumam Yenny, tersenyum semerik.
"Yenny...diam kamu...!!! Jangan berkata kurang ajar kepada kakakku,". Tegur Hendri, langsung.
"Ck,aku harap kamu banyak sabar menghadapi sikap adik iparmu Neli,". Seringai tajam Ambar,ia langsung keluar dari rumah Hendri.
"Kami itu gak pantas ikut campur dalam urusan pribadi keluarga kami,". Bentak Neli,ia melongos masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Sedangkan Yenny, mulutnya komat-kamit seakan-akan mengejek kakak iparnya. Ia juga terlihat cemberut saat, memandang suaminya.