TERLALU LELAH

TERLALU LELAH
Pergi Ke Acara (S2)


__ADS_3

[Besok pulang sekolah jadikan,adu ayam di kampung sebelah yang kemarin] Zakir.


Al, tersenyum kecil saat membaca pesan dari temannya.


[Oke deh,tolong bawa ayam jago aku yah]


Al, langsung membalas pesan dari temannya. Hanya cetang biru dan tidak ada balasan dari Zakir.


"Kita sudah sampai bos" kata Lin, kepada Al. ia langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


Al, menghembuskan nafasnya dengan berat. Terpaksa malam ini,ia harus datang di acara ulangtahun perusahaan salah satu teman bisnisnya. Biasanya hanya di wakili oleh sang sekertaris,namun sang ibu memaksanya dan akhirnya dia pergi.


Lin, membuka pintu mobil dan di susul sang bos keluar. Al, mengancingkan kemeja Jasnya. Dengan langkah tegap dan gagah,ia memasuki ballroom hotel tersebut.


Semua orang-orang tercengang melihat kedatangan Al,anak dari seorang pembisnis handal dan di segani orang-orang walaupun umurnya terbilang masih muda. tapi,jila masalah bisnis boleh di adu seperti sifatnya sering adu ayam. Jarang-jarang Al,mau datang ke acara beginian.


Bisik-bisik terdengar kericuhan saat kedatangan Al dan di sambut sang pemilik acara. "Terimakasih atas kedatangannya,Tuan Al. Ini adalah kesempatan beruntung bagi saya,karena ke datang anda Tuan". Kata pak Herupratomo, mereka saling berjabatan tangan.


"Sama-sama, mumpung waktu saya kosong. Makanya kebetulan bisa berangkat,". Jawab Al, tersenyum kecil.


Ck,takut sama bu Ayunda. Makanya berangkat, kalau tidak. Ehh...mana mau, batin Lin, mengumpat di dalam hatinya.


Seketika pak Bahar, langsung menghampiri Al. Ia sangat sumringah,atas kedatangan Al. Bagaimana tidak senang? Kalau Al adalah calon menantunya.


"Beruntung pak Bahar, punya anak tiri pacaran sama Al,". Bisik lainnya.


"Hemm...enak dong,pak Bahar jadi banyak yang ikut berbisnis dengannya,". Sahut lainnya.


"Tuh,pak Bahar langsung menghampiri calon menantunya,".


"Jadi iri aku, pengen juga". Kata lainnya,bahkan banyak juga orang-orang sekitar tengah berbincang tentang pak Bahar.


Sedangkan pak Bahar,ia tersenyum merekah di dalam hati. Ia sangat beruntung sekali karena Al, bakalan jadi menantunya. Bahkan dia bisa bernaung dibawah perusahaan Al,atau dia bisa melebihinya.

__ADS_1


"Apa kabar nak Al? Lama kita tidak berjumpa,apa lagi tidak mampir ke rumah. Main-main gitu sama Annisa,atau kalian jalan-jalan di luar,". Kata pak Bahar, langsung berjabat tangan. Seakan-akan sok akrab sekali.


"Wahhh....Al dan anak tirinya pak Bahar, jalan-jalan di luar,". Kata Seseorang.


"Iiisss... beruntung banget ". Sahut lainnya.


Membuat orang-orang rekan bisnis lainnya, menjadi iri kepada pak Bahar.


"Saya lagi sibuk pak, banyak pekerjaan. Apa lagi saya dan Annisa, sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi,". Tegas Al,dia tidak mau pak Bahar selalu menganggap dirinya calon menantunya. Bahkan sampai mengambil kesempatan ini,demi bisnisnya.


Mendengar perkataan Al, membuat orang-orang tercengang mendengarnya. Awalnya memuji-muji pak Bahar,kini semakin riuh atas putusnya hubungan mereka.


Begitu juga pak Bahar, langsung syok dan tidak percaya. "Ahh...kamu memang bisa saja bercanda,". Kekehnya pak Bahar,namun di dalam hati dia sangat malu.


"Tuan Al,apa benar anda dan anak tirinya pak Bahar sudah tidak ada hubungan apa-apa". Seorang wanita cantik tengah, bertanya kepada Al.


"Itu emang benar,bahkan berita ini sangat populer di kalangan anak sekolahan,". Sahut salah satu wanita,cantik dan seksi mendekati Al. Dengan gaya elegan, dan berkelas. Ia juga memperlihatkan sebuah video tersebar, tentang perselingkuhan anak tirinya pak Bahar.


Malu,itu yang di rasakan pak Bahar. Matanya memerah manahan emosi dan tangannya mengepal kuat. Dirinya seperti di siram air kotor ke wajahnya, bahkan ia mendengar jelas dari ucapan orang-orang lain.


Al,tidak bermaksud untuk mempermalukan pak Bahar. Namun ini pelajaran baginya,karena sudah main-main dengan Al.


**********


Plaaakkkk......


Sebuah tamparan keras di pipi Annisa,oleh ayah tirinya.


Ia langsung terjatuh ke lantai, merasakan sangat perih di pipinya.


Saat sampai di rumah. Pak Bahar, langsung berteriak memanggil Annisa. Saat Annisa dan ibunya beserta adiknya, berkumpul. Barulah pak Bahar, langsung menampar wajah anak tirinya itu.


"Mas...!!!kamu apa-apaan ha? Main tampar anakku,salah dia apa? Sampai-sampai kamu menamparnya begitu keras. Annisa, anakku mas. Walaupun bukan darah dagingmu,". Bentak bu Selvi, walaupun umur 40 an. Namun terlihat masih terlihat muda apa lagi seorang wanita karir.

__ADS_1


"Dia sudah mempermalukan aku Selvi..!!! Dia dan Al, mereka sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kau tahu di acara ulangtahun perusahaan temanku, semua orang-orang mengejek-ejek harga diriku. Karena anak mu, sudah melakukan kesalahan besar. Dia berselingkuh dengan pria lain, sehingga Al memutuskan hubungan mereka,". Bentak pak Bahar, dengan suara menggelegar.


"maafkan aku mah,aku salah. Itu semua karena Al, percuma kami memiliki hubungan. Tapi,dia tidak ada waktu untukku sama sekali sehingga aku kesepian dan memiliki hubungan dengan pria lain yang jauh lebih perhatian dengan ku selalu ada denganku. Yang selalu mendengar keluh kesahku, namun Al tidak ada apa-apanya dibandingkan pria itu. Walaupun jauh lebih kaya daripada Al, tapi aku nyaman mah". Annisa, memeluk sang ibu dan menangis tersedu-sedu.


"Anak tidak tahu di untung, bukannya bagus kamu memiliki hubungan dengan Al. Ini malah berselingkuh dengan pria ,yang di bawah Al". Decak pak Bahar, matanya memerah manahan emosi.


"Cukup mas...!!! Selama ini aku selalu diam dengan perlakuan kamu dengan Annisa,kamu tidak adil kepada anakku. Lebih baik kita pergi dari rumah ini nak,mamah tidak sanggup melihat kamu tersiksa. Hanya karena ambisius dengan bisnis, sehingga kamu menjadi korbannya,". Bu Selvi, langsung membawa anaknya berdiri.


Annisa, terharu kepada sang ibu. Karena ibunya,malah membela dirinya di bandingkan ayah tirinya.


"Naufal, Emily. Kalian ikut mamah,atau sama papahmu. Ingat mas,aku tidak akan pulang ke rumah ini. Sebelum kamu menyadari kesalahan kepada anakku dan meminta maaf," tegas bu Selvi, kepada suaminya.


"Ka-kami ikut mamah". Jawab Naufal dan Emily.


Mereka berempat langsung bersiap-siap untuk pergi, masing-masing memasukkan baju ke dalam koper.


Pak Bahar, terdiam sejenak sambil terduduk di sofa. Tak berselang lama istri dan anak-anaknya,keluar dan membawa koper masing-masing.


Istri dan anak-anaknya keluar dari rumah,tanpa menoleh dirinya. Suara mobil, meninggalkan perkarangan rumahnya.


"Aaaargghhh....sial,sial". Pak Bahar, mengusap wajahnya dengan kasar. Ia langsung mengambil kunci mobil,niat untuk mencegah istrinya pergi.


Pak Bahar, sangat mencintai istrinya. Dengan langkah cepat,ia langsung masuk ke dalam mobil.


Sedangkan Al,masih memantau dari kejauhan. Seandainya pak Bahar, tidak mengejar sang istri. Al,juga bertindak secepatnya. Namun Al, tersenyum kecil saat melihat pak Bahar pergi.


"Ikuti mereka,". Kata Al, kepada Lin.


Beberapa menit kemudian. Akhirnya Lin, menghentikan mobilnya dari kejauhan. Terlihat jelas pak Bahar, berhenti salah satu rumah. Ia terlihat bergegas keluar mobil dan memanggil istrinya. Pak Bahar, terbilang sangar kepada orang-orang. Kini berlutut di kaki sang istri, meminta maaf atas keegoisannya. Ia juga meminta maaf kepada Annisa,apa yang di lakukan salah.


"mah,maafin papah". Lirih Annisa,ia menangis melihat ayah tirinya masih berlutut meminta maaf kepada sang istri. Sang suami,juga berjanji akan berubah.


Bu Selvi,membuang muka. Air matanya tak bisa di bendung lagi, akhirnya lolos juga.

__ADS_1


"Maafkan aku mah,maaf". Pak Bahar,masih berlutut di hadapan istri tercintanya.


"Aku maafkan,mas. Jika terulang lagi,aku tidak segan-segan meninggalkan kamu". Jawab sang istri, langsung di peluk erat oleh pak Bahar.


__ADS_2