
Sesampai di perkarangan rumah mertua Ambar. Mereka langsung keluar dan di sambut para ibu-ibu yang bertetangga dengan Ayunda.
"Aku kira kamu tidak akan datang Ayunda,kami tau kamu sangat sibuk,". Ucap Bu Sumi, langsung mengambil Al. "Bu Sum, sangat merindukan kamu Al,".
Al, langsung senyum merekah di gendong Bu Sumi.
"Wiihhh...gebetan baru yah,". Ucap salah satu ibu-ibu di dekatnya.
"Doain yah,bu. Teman Ayunda, dulu. Masa ibu-ibu lupa,yang sering ikut mencok bersama. Itu dia Ariestya,yang sering di panggil Tya,". Jawab Ayunda.
Bu Sumi dan lainnya, menatap lekat dengan Aries. Aries,hanya tersenyum kecil saat di sana menatap ke arahnya.
"Oowaaalahhh...sampai pangling,maaf nak Tya. Baru liat kamu,kamu sudah berubah drastis,". Kekeh bu Lela.
"Nak Tya,apa kabar. Lama gak kerumah,". Sahut bu RT,yang datang tiba-tiba. "Sama siapa ke sini,hemm,".
"Sama Ayunda,bu". Jawab sopan Aries.
Bu RT, terkejut mendengar perkataan Aries. "Ayunda,kamu dengan Aries. Memiliki hubungan,"
Nah,kan pasti banyak lagi pertanyaan lainnya. "Hehehehe...doain saja bu,". Senyum manis Ayunda.
"Kirain kamu bakalan nikah,sama kakak iparmu,". Bisik bu Sumi, langsung di cubit Ayunda.
Banyak ibu-ibu lain merasa senang kedatangan Ayunda. Namun semua itu ada juga nampak tak suka seperti Hendri, Ambar dan Neli. Mereka menatap tajam ke arah Ayunda,apa lagi ia datang membawa pasangan baru.
Mata Hendri, memerah manahan rasa amarah kepada mantan istrinya.
"ya ampun,sudah bawa pasangan baru,". Sindiran Ambar.
"Heran deh...kok mau-maunya sama janda yang sudah dua kali,". Cibir Neli."palingan bertahan berapa bulan, jangan-jangan meninggal lagi. Kaya suami Ayunda,yang sebelumnya,". Sambung Neli.
"Aku salah menilai mu Ayunda,apa kamu sebahagia ini atas meninggalnya ibuku. Sampai-sampai kamu membawa pasangan baru,apa mau kamu pamerkan kepada ibuku yang sudah meninggal ha,". Decak Hendri.
"siapa sih,yang menyuruh mu datang ke sini Ayunda? Tidak tahu malu,dasar wanita murahan,". Sambung Neli.
"Sudah cukup..!!!,". Bentak Aries. "Jangan mengatakan hal-hal yang tidak baik kepada Ayunda,kalau tidak mau menerima akibatnya,".
"Benar,apa kamu tidak tau siapa yang di bawa Ayunda? Dia seorang polisi,aku yakin angkatannya sudah tinggi,". Sambung bu RT.
Ambar dan Neli, terdiam seketika. Wajahnya pucat pias, mendengar perkataan bu RT.
Polisi? Sial, seberuntung itu kah Ayunda, batin Ambar dan Neli.
"Lagian aku ke sini karena adik kalian Hendri. Yang mengirim pesan kepada ku,". Ayunda, memperlihatkan ponselnya.
__ADS_1
Ambar dan Neli,merasa malu. Mereka menatap Hendri,yang berpaling arah.
"Apa karena dia kamu tidak mau rujuk kepadaku,". Tanya Hendri, kata-kata itu sudah muak di dengar Ayunda.
"Sudah cukup,mas. Aku muak, mendengar perkataan mu tentang rujuk. Sampai kapanpun aku tidak niat,". Jawab Ayunda, dengan tegas.
"Seharusnya kalian bersyukur atas kedatangan kami dan Ayunda. Seandainya kami tidak ada hati,bisa saja mengusir orang-orang di sini. Agar kalian sadar,tidak ada yang membantu menguburkan jenazah ibu kalian,". Sengit bu Lela.
"Benar,kami masih memaafkan kelakuan ibumu Ambar. Apa lagi ibumu banyak salah kepada Ayunda,dulu. Apa lagi Alm.belum sempat meminta maaf,". Ucap salah satu ibu yang ikut melayat.
Semu orang bergidik ngeri. "Sudahlah bu,aku sudah memaafkan kesalahan beliau. Semoga beliau tenang di sana,". Lirih Ayunda.
"sadar dong,kalian. Jangan sampai sudah wafat tapi belum minta maaf,sama orang yang pernah kalian zolimi. Jangan sampai deh, mayatnya gak di terima bumi,". Ketus ibu yang lainnya.
"Sudah,sudah. mohon ibu-ibu yang tenang. Kita akan mengadakan sholat jenazah dulu,". Tegur pak ustadz,kepada ibu-ibu yang sedang berdebat. "Tidak baik, berdebat saat sedang berduka cita begini,".
"Siapa yang berdua cita ustadz? Malahan mereka bahagia atas meninggalnya ibu saya,". Sahut Ambar.
"Astagfirullah,yang sabar nak. Seharusnya kalian bersyukur atas kedatangan para tetangga dan lainnya. Yang bisa membantu kalian,". Tegur pak ustadz.
"Huuuuuu... dengarin apa kata ustadz,apa perlu kalian bertiga di ruqyah ha,". Timpal ibu-ibu lainnya.
Ayunda,hanya cengir kuda saja. Apa lagi Aries,ia bingung harus berbuat apa. Walaupun dia seorang polisi,mana mampu menghadapi ibu-ibu.
"ruqyah saja pak ustadz,biar mereka sadar,".sahut lainnya.
"Tolong,yang tenang ibu-ibu ku sekalian,". Ucap Aries,namun Ayunda malah cengengesan.
"Gak bakalan kamu bisa menghentikan aksinya para emak-emak," gumam Ayunda,namun masih terdengar oleh Aries.
"Ruqyah..... ruqyah.....,". Semakin ricuh suasananya,pak ustadz ia malah geleng-geleng kepala. Aries,juga membantu pak ustadz. Untuk menenangkan para ibu-ibu.
Susah sekali mengatasi ibu-ibu,daripada mengatasi komandan,batin Aries.
"Liat,kamu Ayunda. Saat ibuku meninggal malah ricuh begini. Dan kamu Hendri, bisa-bisanya mengajak rujuk kepada mantan istri mu yang ****** ini,". Teriak Ambar.
Plakkk......
Satu tamparan mendarat di pipi Ambar. Bukan Ayunda,yang menampar Ambar. Melainkan bu lelah.
"Bu Lela,kenapa menampar aku bu? Apa salahku,". Bentak Ambar, menyentuh pipinya terasa perih.
"Jaga mulut mu Ambar,aku sudah geram kepadamu dari tadi,". Mata nyalang Bu Lela, kepada Ambar.
"huuuuuu....kamu pantas mendapatkan itu Ambar,".
__ADS_1
"Tampar lagi,biar mulutnya tau apa itu adab,".
"Dasar urat malu sudah putus,ini nih... didikan yang tidak tahu di moral kehidupan manusia,". Sahut yang lainnya.
Para bapak-bapak dan pak ustadz, sudah kewalahan menghadapi para ibu-ibu yang semakin ricuh. Tak ada lagi yang menghiraukan jenazah bu sari.
"sudah ibu-ibu,kalian bubar. Kita pulang saja,". Ucap bu RT
Seketika terdiam semuanya. Aries, langsung melongo hanya ucapan dari bu RT. Semua ibu-ibu langsung patuh.
"Ayo...ayo, ibu-ibu kita pulang kerumah masing-masing,". Ucap bu lela.
"Mending kita mencok aja bu, mumpung buah mangga di depan rumah saya banyak,". Sahut yang lainnya.
"Ayo, Ayunda. Kita tinggalkan rumah ini,biar semua bapak-bapak yang mengurusnya," bu RT, langsung menarik lengan Ayunda.
"Aku ikut,". Ucap Aries,ia mengikuti para ibu-ibu.
"Ayundaaaaaa.... tunggu..!!! Puas kamu ha,ini semua salah kamu," teriak Neli.
"Astagfirullah,istighfar nak Neli,". Tegur pak ustadz,lagi.
"Diam pak ustadz,anda tidak ada hak untuk ikut campur," bantah Neli,ia langsung menuju Ayunda. Ingin menjambak, secepatnya Aries langsung mencekal lengan Neli. Menghentikan aksinya.
Melihat kejadian tersebut
Hendri, langsung menampar Aries dengan tiba-tiba. Bukan ingin menghindari tamparan dari Hendri. Ini adalah kesempatan emas bagi Aries.
Plakkk...
Satu tamparan mendarat di pipi mulusnya Neli. Tamparan itu dari Ayunda. "Jangan macam-macam dengan ku Neli,". Sinis Ayunda. "Aku datang baik-baik ,tidak membuat keributan,"
"Ck, bilangnya seorang polisi. Sebuah tamparan saja,tidak kau tangkis. Kenapa tidak membalas,apa kamu takut kepadaku ha,". Ancam Hendri.
"Tya,kamu tidak apa-apa kan,". Ujar Ayunda.
Semua orang-orang di sekitar kaget,atas keberanian Hendri. bahkan ibu-ibu di sana juga syok.
"Baiklah, siap-siap anda masuk penjara. Sebuah tamparan ini akan jadi bukti kuat untuk memasukkan anda ke jeruji besi," senyum semerik licik di wajah Aries.
"Siaaalll,kau menjebak ku.dasar polisi tak tau diri kamu," bentak Hendri. ingin sekali mengajar polisi ini,namun nyalinya ciut
"Hahahahah...mampus kau Hendri,". Ucap ibu yang lainnya.
"Masukkan saja para benalu seperti mereka,". Sahut ibu-ibu lainnya.
__ADS_1
Suasa semakin bertambah ricuh. Pak ustadz, sudah pusing kepala.