
"cuci semua baju-baju ini sari, dengan menggunakan tangan. Awas kalau pakai mesin cuci,nanti kain-kain rusak". Sila, langsung melemparkan setumpuk cucian baju.
"Kamu apa-apaan Sil,aku ini besan mu. Tak pantas kamu melakukan diriku seperti pembantu,". Tolak bu Sari.
"Ohh... besan..besan...gak sadar kamu ha..! Kamu itu maduku, istri mudah mas Tejo. Kalau kamu tidak mau melakukan ini, siap-siap aku laporkan ke Ayunda. Biar kamu bakalan masuk di penjara,atau aku akan adukan ke mas Tejo,". Sengit Sila. Ia jauh lebih muda dari istri-istri pak Tejo,yang lainnya. Namun akur dengan istri pertama.
Baiklah,untuk saat ini aku harus mengalah.kalau tidak aku akan masuk penjara,apa lagi hukuman pak Tejo, batin bu Sari.
"Dasar pengaduan,". Gerutu bu Sari,ia memungut semua pakaian yang berserakan di lantai.
"Gitu,dong.gak usah basa-basi segala,". Sila, langsung melenggang pergi meninggalkan madunya."pekerjaan kamu dan Halimah,masih banyak. cepat kerjakan semuanya,masak aja belum. setelah nyuci baju,masak semua bahan sudah ada di dalam kulkas. jangan sampai telat dong,nanti mas Tejo datang untuk makan siang,".
"Ya ampun,lelet banget sih kerjaan kamu Halimah. Cuman nyapu gitu aja kaya, cari jarum di sungai,". Ucap Sila. melihat bu Halimah, sedang menyapu dengan keadaan kakinya masih sakit.
"Bagaimana mau cepat Sil,kakiku masih sakit,". Buliran air mata mengalir di pipinya.
"Duh..duh...gak usah drama kamu, kalau cuman diam tanpa pergerakan luka kamu tambah parah. Cepat, kerjakan sampai beres. Nanti aku cek lagi,". Sila, langsung pergi menuju ke ruang tamu.
Di ruang tamu sudah ada bu Arum, istri pertama pak Tejo.
"Bagaimana pekerjaan mereka beres,". Ucap bu Arum, terlihat sudah berumur tapi terlihat masih muda.
"Kalau begini turus kak,aku jadi cepat tua. Ngomel-ngomel gak jelas sama mereka,yang satu lelet minta ampun dan yang satunya suka membantah baru di kerjakan,". Gerutu Sila.
Bu Arum, langsung menutup majalah di tangannya. "Kamu awasi mereka,aku pusing jika terus-menerus bicara dengan orang-orang lemot,".
"Hmmmm...aku akan mengawasi mereka kak,tenang saja,". Senyum semerik Sila.
*****
"yakin kamu gak ikut,siapa tau ada yang kamu beli," ucap Zense kepada istrinya.
"Gak,ah. Malas aku ikut meeting sama kamu, mending santai-santai di rumah,". Tolak Ayunda.
" Siapa tau kamu mau ikut,aku meeting di restoran juga. Dekat dengan mall,siapa tau kamu mau jalan-jalan nanti aku nyusul kalau sudah selesai meeting nya," Ayunda, merapikan dasi Suaminya.
"Gak,mas. Aku di rumah saja,lagi malas kemana-mana,".
__ADS_1
"Ya sudah,nanti aku belikan pizza,". Sebelum pergi Zense, langsung ******* bibir manis Ayunda.
Tangan nakalnya juga meremas gunung kembar istrinya.
"Aahhh.. Zense...hmm..nanti gak jadi pergi lo,". Tangan Ayunda, langsung menahan lengan suaminya. Yang mau masuk ke dalam celana pendek Ayunda.
"Huuuuff,aku pergi dulu sayang,". ia langsung menghentikan sosor menyosor kepada istrinya.
Cup...
Satu kecupan mendarat di pipi mulusnya Ayunda.
"kalau pulang,nanti aku lanjutin,". Kedip mata Zense, namun hanya ada ejekkan dari Ayunda. ia mengeluarkan lidahnya.
"Ayunda,". Panggil bu Sumi. ia tengah sibuk mengupas buah-buahan.
"Apa,bu,". Jawabnya. wehh buah asem,enak nih.
"Sini,kita mencok dulu,". Dengan sumringan Ayunda, langsung kesebelah rumah bu Sumi.
"Ayo,dimakan. Aku juga lama gak mencok, bikin ngiler jadinya,".
"Kamu tau gak Yu? Waktu kamu bulan madu, Hendri ada mencarimu sampai ke rumah segala. Untung kamu udah pergi ,terus katanya suamimu itu sudah mengurung dirinya waktu akad nikah kalian. Aku yakin Hendri, pasti mau menghancurkan pernikahan kamu,". Bu sumi, memberitahu tentang Hendri.
Loh, kenapa Zense,tidak cerita denganku. Apa dia lupa, batin Ayunda. "Oh..aku gak tau lo bu. mungkin Zense,lupa kali yah,".
"Bisa jadi itu. Kalau tau kamu ada pasti Hendri, cepat-cepat datangin kamu Yu. Hati-hati lo, penyakitnya masih gak sembuh-sembuh,".
"astagfirullah,liat Yu.kayanya Hendri,mau kesini,". Ucap bu sumi. baru saja di ucapkan tiba-tiba langsung ada.
"Mungkin bu,kan rumahku pintunya kebuka. Otomatis aku sudah datang,". Jawab Ayunda.
"Ehhh...liat deh,dia masih garuk-garuk nganunya. Kita simpan dulu yah, pencok nya. Aku takutnya Hendri, malah megang-megang. Aku jijik liatnya ,".
"Simpan bu,". Ayunda dan bu Sumi, bergegas menyimpan pencoknya di dalam rumah.
Ajaib,baru bu sumi membicarakan dia. Gak lama udah nongol. "Aku kira udah sembuh dengan penyakitnya bu,".
__ADS_1
"Mana mungkin secepat itu,sembuh. Walaupun sembuh,tetap saja aku merasa jijik benget," bu Sumi, terlihat bergidik ngeri.
Benar saja Hendri,tengah ngos-ngosan saat sampai di rumah bu Sumi.
"Yu,mas sangat kangen sama kamu,". Hendri, mencoba mendekati Ayunda.
"Diam,diam di situ mas. Atau sapu di tanganku ini,akan melayang di tubuhmu. Aku jijik sama kamu mas,jangan dekat-dekat. Atau aku akan masuk ke dalam rumah bu Sumi,". Cegat Ayunda.
"Benar,tu. Bicaralah dari jarak jauh,kami takut ketularan,". Bu Sumi, juga menodong pisau di tangannya, pisau untuk mengupas buah barusan.
"Ok,aku akan bicara di sini saja. Kamu taukan yu, karena penyakit ini. Aku tidak bisa bekerja, bengkel ku sepi. Lamar kerjaan saja tidak terima,berilah aku uang untuk berobat. Anggap saja uang nafkah ku dengan mu dulu,". Ucap Hendri,tanpa malu.
"Apa,mas? Kamu tidak salah ha? Selama kita menikah,kamu tidak pernah memberikan aku nafkah. Bahkan ibumu saja meminta kepadaku uang, seharusnya aku yang menagih kekamu. Ini malah kebalik,". Sengit Ayunda. Tangan di sapunya masih siap siaga siapa tau Hendri,nekat mendekati dirinya.
"Iya,kamu kira kami tidak tau ha! Apa yang di rasakan Ayunda, apa yang di lakukan Kalian. Jadi laki-laki murahan sih kamu Hend,bikin malu. Mana harga diri mu sebagai laki-laki,gak sebanding dengan Susi,". Ledek bu Sumi
"Uuuhhhh,,,". Sorak tetangga yang lainnya, mereka ikut menonton. "Kamu mau tau gak ibumu di mana Hendri,ibumu di rumah pak Tejo. Apa kamu tau ha, jangan-jangan ada main dengan besannya,". Timpal lainnya.
"Diam, kalian...! Ibuku tidak mungkin di rumah mertua kak Ambar. Ibuku di rumah temannya, sedang bermalam di sana,". Sahut Hendri.
"Kalau gak percaya,liat aja di rumah pak Tejo,". Ujar lainnya.
"Diam bu,aku hanya bicara dengan Ayunda. Kenapa kalian pada ikut-ikutan,dasar emak-emak rempong,". Bentak Hendri.
"Huuuu.. laki-laki lemah kau Hendri,".
"Jijik aku liat mukanya, emang jijik deh...,".
"Uuhh...gak punya malu,".
"udahlah Hend, mending kamu jadi Susi. lemah banget jadi laki-laki,". sahut bapak-bapak juga.
"mending Susi, daripada Hendri.Susi kaya banyak uang,lah Hendri apa". timpal bapak lainnya.
"Harga diri Hendri,mah udah putus urat malunya.
Banyak lagi cibiran dari ibu-ibu dan bapak-bapak yang geram kepada Hendri. Ayunda,menang banyak ia hanya tersenyum melihat mantan suaminya di sorak oleh ibu-ibu.
__ADS_1