
"kalau kalian tidak mau, mengurus adik kalian yang selalu menyusahkan orang. Lebih baik, belikan rumah saja, walaupun tak besar. Pinta dia tinggal sendirian di sana,kalian juga bisa bergantian untuk memberi makan. Baju-bajunya bisa kalian cucikan secara bergantian. Kalau males,tinggal laundry saja. Bukankah kalian menikah dengan pria kaya juga,". Tanya Ayunda. Ia menyungging ,ia memainkan kuku-kuku lentiknya.
"Ka-kami sudah melakukan hal bermacam cara, tapi tetap saja Hendri menolak Yu. Tolonglah kami Ayunda, kamu adalah mantan istrinya. Rujuk kembali apa susahnya sih,kamu juga belum menikah lagi,". Kata Ambar. "biar anakmu ada bapaknya,ingat Ayunda. anakmu masih kecil, perlu kasih sayang dari seorang ayah,".
"Iya,apa lagi kami tengah hamil besar. Kamu juga wanita pasti tau bagaimana perasaan mu,saat hamil di bentak suami,". Keluh Neli. "belum lagi,mertuaku selalu memarahiku karena Hendri. ia selalu bikin ulah dan berkata kasar kepada suamiku,".
"Sayangnya aku gak punya perasaan kasian kepada kalian,malah aku senang melihat kalian menderita. Yahh...anggap aja karma untuk kalian,apa kalian lupa bagaimana dulu mencampakkan aku,". Seringai tajam Ayunda. "tenang saja,anakku tidak kekurangan kasih seorang ayah. dia selalu di sayangi oleh seseorang yang seperti ayahnya sendiri,".
"tidak usah membahas masa lalu Ayunda. Lupakanlah semua itu,kita buka lembaran baru. Kalau kamu rujuk dengan Hendri,kami senang. Kita akan memperlakukan kamu dengan baik, sebagai adik ipar kami,". Sahut Ambar. "maafkan kami,yang sudah memperlakukan kamu yang tidak baik waktu dulu,".
"Ok,kita membuka lembaran baru lagi. Maaf,aku tidak bisa rujuk dengan Hendri. Aku membuka lembaran baru tapi tidak dengan rujuk kembali dengan seorang mantan suami," tegas Ayunda. "diluar sana masih banyak pria-pria yang lainnya, memiliki kelebihan. sedangkan Hendri,apa dia memiliki kelebihan. yang ada menyusahkan hidupku, kalian damai. ohh....tidak bisa sayang,".
Ambar,hanya mendengus kesal. Begitu juga Neli,ia menatap tajam ke arah Ayunda. Hatinya begitu panas, mendengar penolakan Ayunda.
"Ck,mau tidak mau. Besok aku akan mengantar Hendri,ke sini. Terserah mau kamu apakan,aku hanya bilang kalau kamu mau rujuk dengannya.aku sudah sangat pusing memikirkan dia, tingkah lakunya membuat aku sakit kepala hampir pecah". Decak Neli.
"Yah,terserah kalian.tapi jangan harap dia bisa masuk kedalam rumah ini, walaupun selangkah kaki. Aku juga tak peduli mau hujan panas kek, lagian dia bukan siapa-siapa aku,". Ayunda dan bi Ijah,hanya cekikikan tertawa.
"begini kah sifatmu Ayunda,tidak memiliki hati nurani sedikit pun. Dia itu mantan suamimu, seharusnya kamu juga ikut bertanggung jawab,". Teriak Ambar,ia mengatur pernafasannya.
"Tidak perlu berteriak-teriak,aku malah takutnya ada apa-apa dengan janin mu itu. Ini sudah malam pergilah,jangan sampai aku menyeret paksa keluar,". Bentak Ayunda.
"Tidak,kami tidak akan pergi. Sebelum kamu menerima permintaan kami,apa susahnya ha? Rujuk kepada Hendri,lagi,". Bentak Neli,tak mau kalah.
"Aku seret Ambar,bibi seret Neli,". Ucap Ayunda, dengan senyuman kecil di sudut bibirnya.
Ayunda,berlahan mendekati Ambar. Ia juga mencekram lengannya dengan kuat. "Auuu.. lepaskan aku Ayunda,aku sedang hamil. Kamu tidak boleh bermain kasar dengan ku,". Teriak Ambar. "lepas, begitu kasar kah,kami terhadap wanita hamil seperti ku,".
__ADS_1
"Keluaaarrr.... pergiiiiii....dari rumah ku,dasar wanita tidak tahu diri,". Ayunda,mulai mencekram kuat lengan Ambar. Ia juga menyeret paksa tak peduli dengan kehamilan.
"Lepaskan kakaku Ayunda,". Teriak Neli, tangannya sudah di cekal bi Ijah.
Plakkkk...plakkk...
Dua tamparan mendarat di pipi Neli. Ayunda, tak memperdulikan lagi,jika Neli tengah hamil maupun tidak. ia begitu geram kepada benalu dua orang ini, malam-malam bertemu malah bikin emosi.
"Diaaaamm...kamu Neli,aku muak dengan tingkah laku kalian yang semakin kurang ajar,". Bentak Ayunda.
"sial,kamu menampar ku Ayunda,". sinis Nelim Ayunda,hanya tersenyum kecil.
Ambar,masih memberontak namun tubuhnya tetap di seret keluar. "sudah aku bilang,bukan. aku akan menyeret kalian,". decak Ayunda.
"huuuu... perutku keram,". keluh Ambar,ia memegang perutnya dan pinggang belakang.
Plakkk...
Neli,masih terdiam. Ia menyentuh pipinya terasa perih. ia juga ketakutan dengan seringai tajam Ayunda.
Braakkkk...
Ayunda, langsung menutup pintu dengan keras. Membuat Ambar dan Neli, merasa takut dan kaget. Baru kali ini ia melihat keganasan Ayunda. Seperti bukan Ayunda saja, dengan hati kesal mereka pulang ke rumah masing-masing.
"Huuu...puas banget bi,aku menampar wajah mereka. Kalau tidak hamil,sudah aku tendang mereka berdua bi,". Ucap Ayunda,ia menepuk kedua tangannya.
Ayunda dan bi Ijah,hanya cekikikan melihat mereka pulang. Tiba-tiba hujan begitu deras, sedangkan mereka hanya menggunakan motor.
__ADS_1
"Mampus kehujanan,". Kekeh bi Ijah,ia melihat di balik tirai jendela.
"Ayundaaa...buka pintunya,kami kehujanan dan kedinginan di luar,". Teriak Ambar.
Ia menggedor pintu rumah Ayunda. "Apa kamu tega ha..!!! Menelantarkan seorang ibu hamil,yang kehujanan diluar Ayunda,". Sambung Neli.
Ayunda,juga mengirim pesan kepada bu sumi, jika para Benalu sedang di luar rumahnya.
"Bukaaa...bi Ijaaaahh...bukaaa, ayundaaa...dasar wanita tidak punya hati nurani kamu ha,". Bentak Ambar,ia berdecak kesal kepada Ayunda. Ia tak menyangka jika Ayunda, membiarkan mereka tengah kedinginan.
Hujan begitu derasnya. Neli, langsung kesebelah rumah bu Sumi.
"Bu sumiii...tolong, bukakan pintu,". Neli, menggedor pintu rumah bu Sumi, namun tidak ada jawaban sama sekali.
"Aku tau,kalian ada di dalam. Buka pintu,kamu kedinginan lihatlah baju kami basah begini dan kami hamil besar,". Teriak Neli,dari luar.
Bu Sumi,malah masuk ke kamar tak menghiraukan teriakkan Neli. Karena derasnya hujan, membuat suara mereka tak kedengaran.
"bodo amar,tarik selimut bobo cantik," gumam bu Sumi.
"kita pulang saja Nel,hari sudah malam. Sedangkan mereka tak mau membukakan pintu untuk kita,aku yakin mereka sedang bersekongkol untuk mengerjai kita berdua,". Ucap Ambar, kepada Neli.
"Maksud kak Ambar,kita menempuh hujan deras ini. Bahaya kak,kita hamil besar. Takutnya kenapa-kenapa di perjalanan,mana gak bawa ponsel lagi,". Neli, mondar-mandir di teras rumah Ayunda. Ia menggigil kedinginan.
"Gak,kita harus pulang sekarang. Gak bakalan terjadi apa-apa, daripada kita kedinginan disini sudah malam, juga". Ucap Ambar,ia menghidupkan motor metik miliknya.
"Iy-iyah, tapi pelan-pelan kak. Aku gak mau kenapa-kenapa,apa lagi dengan kandungan ku,". Neli, langsung naik kebelakang Ambar.
__ADS_1
Ambar dan Neli, menempuh perjalanan untuk pulang. Walaupun hujan deras, petir menggelegar ditambah lagi gelapnya malam.
Ada rasa was-was di hati mereka, seluruh badan menggigil hebat namun mereka tetap melanjutkan perjalanan menuju rumah.