
J, Memandang anaknya di dalam bayi tabung. Air matanya menetes seketika dan ada senyuman kecil, terlihat jelas wajah bayi mungil yang di lahirkan secara prematur. Bulu mata lentik, hidung mancung dan berkulit putih. Wajahnya sangat mirip dengan J, seketika bayi itu tersenyum kecil seperti ada lesung pipi mulusnya.
"Manis sekali nak, senyuman mu. Aku akan memberikan nama Kai Xavier Negredo,". J, tersenyum kecil. Ingin sekali dia menggendong anaknya,namun tidak di perbolehkan. Walaupun keadaan sang bayi, sehat-sehat tapi harus di masukkan ke dalam tabung bayi.
Ceklekk....
J, menghampiri Ayunda. Setelah selesai melihat anaknya, berlahan-lahan mendekat sang istri.
Sedangkan keluarga lainnya. J, langsung menyuruh mereka pulang saja. Biar dia menemani Ayunda, sendiri. Walaupun Al,tak ingin pulang. Tapi J, menasehati anaknya secara baik-baik akhirnya Al mau pulang.
Ayunda, memalingkan wajahnya ke samping tanpa melihat wajah J. Air matanya mengalir deras,sejak awal operasi. Ia benar-benar sangat terpukul,jika rahimnya harus di angkat. Agar luka di rahimnya,cepat sembuh demi keadaan Ayunda. Jika tidak di angkat rahimnya,tentu akan menyiksa dirinya. Sudah pasti tergantung obat,dan merasakan perih di bagian perut.luka dalamnya begitu,parah akibat kecelakaan tersebut.
"Kau marah padaku,". J, menggenggam erat tangan Ayunda. Ia meraih jari-jari lentik Ayunda dan menciumnya. "Dia sangat tampan,ada lesung pipi diwajahnya.sangat manis,anak kita sayang".
J,tahu jika istrinya kecewa. Karena rahimnya sudah di angkat tanpa memberitahu terlebih dahulu kepadanya. Ayunda, menarik lengannya. Tanpa bersuara apapun, kecewa,sakit hati sudah pasti di rasakan Ayunda.
Ia begitu marah kepada J,namun dia berpikir ini semua demi kebaikan dan anak-anak mereka.
"Istirahat lah,sayang". J, mengecup kening istrinya sekilas dan berlalu pergi meninggalkannya.
Saat tubuh J, menghilang di balik pintu. Barulah Ayunda, menatap kepergian J di balik pintu tanpa menoleh ke belakang. Ia menangis sesenggukan dengan histeris, sedangkan J. Ia terduduk di lantai di balik pintu ruang rawat sang istri,ia bertumpu pada lutut menenggelamkan kepalanya dan menangis di balik lututnya.
*******
Buughhhh..... Buughhhh...
__ADS_1
Buughhhh......
Beberapa bogem mentah di wajah Yolanda dan tendangan dari J,ia begitu sangat marah.
Darah segar mengalir di sudut bibir,hidung dan kepala Yolanda. "aaaargghhh......". Ia meringis kesakitan di lantai,ia memohon ampun kepada J.
J, mengambil jerigen berisi minyak tanah. Ia siram ke tubuh Yolanda, yang sudah penuh darah.
"Aaaaahhh.... aaarghhh....perihhh..... Ampun..... perihhhhh". Teriak Yolanda,ia kesakitan dan perih di setiap lukanya.
"Rasakan Yolanda, nikmatilah siksaan ini. Seharusnya kau mengerti Yolanda, siksaan ini belum cukup mengobati rasa amarah ku terhadap dirimu yang sudah menyakiti istriku,". Tegas J,ia mengambil korek api di meja.
"Tidak....Tidak...jangan bakar aku,J. Belum cukup kah dengan semau ini. Bukankah istrimu baik-baik saja,aku ingin hidup J. Aku ingin melanjutkan kehidupanku,aku janji tidak akan melakukan hal yang menyinggung dirimu. Aku janji,tidak akan melukai istrimu lagi. Aku ingin memperbaiki semuanya, kehidupan ku J. Aku mohon,jangan bakar aku". Isak tangis Yolanda,ia mengiba kepadanya. Bermohon-mohon dan bersujud,namun amarah J. Sudah menguasai seluruh pikirannya,tak ada kata ampun bagi orang yang sudah menyakiti orang yang dia sayang.
"karena perbuatan mu, istriku harus di angkat rahimnya dan anakku di lahirkan di usia tujuh bulan. Dengan keadaan anakku prematur,harus di rawat di dalam tabung bayi. Walaupun kau mati,sudah aku siksa habis-habisan. Belum bisa mengobati rasa amarah ku dan membalas semuanya,". J, melempar korek api di lantai.
Teriakan menjerit-jerit histeris dari mulut Yolanda,ia merasakan panas membakar tubuhnya dan perih di bagian luka. "Aaarghhh..... Eerrrgghhhh....panassss.
Aaammppuuunn...panass....,".
J, membakar tubuh Yolanda hingga tewas.tidak ada lagi suara jeritan dan teriakan dari mulut Yolanda.
Selesai dengan semuanya. J, meninggalkan tempat penyekapan Yolanda. Ia juga memerintahkan anak buahnya, mayat Yolanda. Di kubur di tempat biasa, sangat mengerikan. Mayatnya sudah menghitam, mulutnya ternganga dan rambutnya hangus terbakar. Apa lagi baunya sangat menyengat sekali,tidak seperti ayam bakar madu yang harum mengundang lapar. Jika mencium mayar Yolanda,yang hangus hanya ada mual dan perut seperti aduk-aduk.
*******
__ADS_1
J, membersihkan tubuhnya di mansion. Ia juga menggunakan parfum cukup banyak dan menggunakan pakaian rapi. Selesai dengan semuanya, barulah dia pergi ke rumah sakit menemui sang istri.
Memerlukan 30 menit kemudian. Akhirnya dia sampai di rumah sakit,ia langsung menuju ruang inap Ayunda.
Sesampai di sana,ia mengintip ke dalam. Ternyata di dalam,sudah banyak orang-orang yang menjenguk keadaan Ayunda.
Ada paman, bibinya,bi inah dan Al.temannya Melisa, Vivian, Regan, Alex, Kevin dan istrinya Kevin.
Saat J,masuk ke dalam. Semua orang-orang tercengang melihat kedatangannya,ia hanya tersenyum kecil. Begitu juga dengan lainnya,sang bibi langsung mendekati J.
"Makanlah nak,pasti kamu belum makan. Tadi Ayunda,sudah makan". Bibi Viana, langsung menyiapkan makanan yang sudah di bawa.
Makanan tersebut di letakkan di meja, tepatnya di hadapan J.
"Kita pulang lah,dulu. Al,ikut pulang yah. Papah sama mamah, perlu waktu berdua,". Kata bibi Viana. "Selesai masalah kalian,". Bisik sang bibi kepada J.
"Kami pamit dulu, yah. Jaga kesehatan kamu Ayunda,kami akan datang lagi" satu persatu berpamitan dengan Ayunda.
sedangkan Regan, Alex dan Kevin. mereka juga berbicara kepada J, dengan bisik-bisik. entahlah bisik-bisik apa yang di berikan oleh mereka, mungkinkah sebuah nasehat atau kata-kata meluluhkan hati Ayunda. J,hanya manggut-manggut mendengar ucapan mereka. ada juga, mereka mengucapkan selamat atas kelahiran anak pertama J dan Ayunda.
"Mamah,jangan marah sama papah yah. Kasian papah, sedih". Pinta Al, sebelum pulang. Ayunda, tersenyum dan mengangguk pelan.
"Ayo,kita pulang. Besok kita jenguk dedek lagi,kami pamit dulu Non dan Tuan ". Kata bi Inah.
Pintu ruang tertutup,hanya tertinggal mere berdua. Tidak ada saling berbicara,satu sama lainnya. J, mengehentikan makannya. Walaupun masih banyak sisanya,entah kenapa nafsu makannya hilang.
__ADS_1
"Habiskan makanannya,jika tidak habis. Jangan harap kita berbicara, lebih baik kamu keluar". Ancam Ayunda,tanpa menoleh ke arah Suaminya.
Mendengar ancaman sang istri. J, langsung menyantap makanan yang tadi. Daripada di abaikan oleh Ayunda,ia harus menuruti perintah istrinya. Karena ancaman sang istri, sangat berbahaya melebihi ancaman musuh. Ayunda,hanya tersenyum kecil saat melihat sang suami melahap makanannya. maklum takut sama istri, ceritanya.